mimpi hari ini untuk kelak: saya dan teman-teman terdekat saya menjadi cukong kebal hukum di kabupaten autopilot sembari memiliki beberapa bidang usaha yang digunakan sebagai media reresik e wong gedhe ne pusat 🤲
unpopular opinion: jogja satu-satunya provinsi di indonesia yang kalau jadi negara sendiri, punya potensi jadi negara maju kayak singapura. gila sih sdm-nya. cuma butuh keraton jogja + perdana menteri dan pemimpin yang jujur. sdm-nya sangat-sangat melimpah. tapi sayangnya ini daerah paling nonchalant se-indonesia.
Pembodohan Publik tentang Desil dan Orang Kaya
Pemerintah mewacanakan pembatasan Pertalite untuk desil 9–10 dengan menyebutnya “orang kaya”.
Ranking administratif dipelintir demi melegitimasi pencabutan subsidi ini layak Ini disebut sebagai pembodohan publik.
Kenapa?
Narasi “desil 9 = kaya” dan “desil 10 = elite” bermasalah sejak definisinya.
Desil pada DTSEN adalah peringkat relatif kesejahteraan, bukan kelas sosial absolut.
D1 = 10% terbawah
...
D9 = persentil 81–90
D10 = 10% teratas.
Sekarang bandingkan dengan distribusi kesejahteraan BPS September 2024:
• miskin: 8,57%
• rentan miskin: 24,42%
• menuju kelas menengah: 49,29%
• kelas menengah: 17,25%
• kelas atas: 0,46%
Artinya 82,28% penduduk bahkan belum masuk kelas menengah, sementara kelompok yang dikategorikan kelas atas hanya 0,46% populasi.
Kalau distribusi ini dipetakan ke persentil:
P1–P8,57 = miskin
P8,58–P32,99 = rentan miskin
P33–P82,28 = menuju kelas menengah
P82,29–P99,54 = kelas menengah
P99,55–P100 = kelas atas (kaya)
Kalau didistribusikan ke desil:
D1: 85,7% miskin + 14,3% rentan miskin
D2: 100% rentan miskin
D3: 100% rentan miskin
D4: 29,9% rentan miskin + 70,1% menuju kelas menengah
D5: 100% menuju kelas menengah
D6: 100% menuju kelas menengah
D7: 100% menuju kelas menengah
D8: 100% menuju kelas menengah
D9: 22,8% menuju kelas menengah + 77,2% kelas menengah
D10: 95,4% kelas menengah + 4,6% kelas atas
Jadi D9 praktis tidak memiliki kelompok kelas atas atau orang kaya sama sekali.
Kelas atas baru muncul sekitar P99,55, atau hanya setengah persen paling ujung dari distribusi.
Desil 10 mencakup 10% penduduk.
Kelas atas menurut BPS cuma 0,46%.
D10 sendiri juga sangat heterogen.
P91, P95, P99, dan P99,9 memiliki kemampuan ekonomi yang sangat berbeda.
World Inequality Report menunjukkan:
• top 10% menerima 46,2% pendapatan nasional
• top 1% sendiri menerima 17,6%
Untuk kekayaan:
• top 10% menguasai 59,4%
• top 1% sendiri menguasai 19,9%
Jadi konsentrasi kekayaan di bagian paling atas sangat besar. Memasukkan profesional mapan, pengusaha, eksekutif, dan konglomerat ke satu kelompok lalu menyebut semuanya “elite” menghapus struktur distribusi yang sebenarnya.
Sebaiknya pemerintah berhenti melakukan pembodohan publik dengan menyederhanakan struktur kesejahteraan seenaknya.
Ketika kelas menengah, affluent, dan kelompok superkaya dicampur dalam satu label, kebijakan yang lahir dari kategorisasi itu sangat mudah salah sasaran.
@Makaryo0 persektif menarik jika profesi tidak menuntut fleksibilitas serta taksi widely available dan saham perform namun punya 5M bentuk aset dan liquid supaya trust ke saham. lagian saya akan bilang gitu juga kalo jadi content kreator finansial di pasar konten kekurangan perspektif.
AMIEN RAIS MENGAKU SEBAGAI TEMAN DEKAT PRABOWO
BLAK-BLAKAN TEGUR PRABOWO!!
POINNYA :
1. Kurangi ber omon-Omon, rakyat sudah bosan
2. Hindari penyakit kaya demam panggung, liat mic sedikit, lidah dan mulut nya gatal pengen berbicara
3. Jangan gebrak-gebrak meja atau podium, kalo masih pangkostrad gpp, ini sudah presiden
4. Jauhkan Tedy dari Istana selama weekdays, kalo pun mau hahahihi di weekend atau sabtu saja.
Btw maksudnya hahahihih ini apa ya?wkwkw
dan kok weekend aja boleh nya Pak Amien?