Masyarakat Adat yang setia merawat hutan dan terdampak karhutla justru berpotensi terpinggirkan
#Aylio#karhutla#pedulilingkungan
https://t.co/i0TQiBGNEk
#fonmağdurları#bolosego
Dugaan Pungli Bolosego: Tantangan UMKM dan Kekosongan Aturan Pemanfaatan Ruang Publik untuk Tempat Usaha https://t.co/TLY1HiLXj8
Saya memonitor upaya gencar @dennyindrayana menggugat ijazah SMA Wapres Gibran di Mahkamah Konstitusi.
Sbg political scientist, saya memandang rakyat punya hak yang mutlak untuk mengetahui kualifikasi pemimpinnya, termasuk utk mengetahui apakah telah terjadi konspirasi pelecehan administratif thdp persyaratan kandidat cawapres, yang juga berarti pelecehan pemilu, pelanggaran hukum dan penistaan thdp demokrasi kita. Negara ini milik kita semua, dan kedaulatan berada di rakyat, bukan pihak manapun. Hukum dan peraturan yg berlaku bagi semua WNI juga berlaku bagi Gibran.
Gibran perlu memberikan klarifikasi thdp tuduhan Denny Indrayana, apapun konsekwensinya. Bahkan menurut saya, ini kesempatan bgai Gibran utk membuktikan kualitasnya sbg politisi/pemimpin, dan bagi rakyat utk menilainya sendiri.
Namun sampai kini, tidak ada respon apapun dari Gibran - berbeda dari ayahnya yg paling paling tidak memberikan respon thdp upaya serupa Roy Suryo dkk. Bahkan Wapres Gibran terkesan menghindar dan bersembunyi ketimbang menghadapi serangan2 ini, dan mengandalkan pembelaan orang2 yg sebenarnya juga tidak tahu apa situasi sebenarnya mengenai ijazah SMAnya.
Bagi saya, logikanya sederhana : Kalau Gibran tidak bisa dan tidak berani membela integritas dan kredibilitas dirinya sendiri, bagaimana dia akan bisa dan berani membela integritas NKRI jika diserang ? We expect more from our leaders. Bagi yg sayang pada Gibran, silahkan, tapi anda sebaiknya lebih sayang pd Indonesia. Something to think about.
https://t.co/cExwN57lUR
Bapak Culas Indonesia (BACULI)
selalu menemukan 'celah' ketika
posisi politiknya tersudut.
Biasanya:
Mengumpulkan massa;
Bagi-bagi amplop tipis;
Selfie-selfie; dan
Ngevlog.
Oh, iya:
Pasca bacotan 'Budi Judol' viral
di linimasa, kali ini ia jalan-jalan
bereng anak-cucu & mantu.
Seolah sedang mengirim pesan;
"Wok, gue gak ikut campur soal
ucapan 'Budi Judol' meski gue
ada disamping dia."
Pola politiknya selalu sama dan berulang, sangat mudah sekali
ditebak, mengelabui;
𝗠𝗔𝗡𝗜𝗣𝗨𝗟𝗔𝗧𝗜𝗙
Secara tidak langsung, cerita tentang bu Megawati yang menggagalkan niat 3 periode Jokowi itu terkonfirmasi benar hari ini.
Hanya waktu yang menjawab, tidak sampai 2 tahun Tuhan tunjukkan jika Nafsu Jokowi ingin berkuasa lebih lama itu nyata adanya lewat mulut Budi Arie.
Gagal 3 periode karena ditolak bu Mega, hari ini mereka ingin Pemilu 2029 dipercepat atau rezim ini LENGSER.
Satyam Eva Jayate. Kebenaranlah yang menang.
Dinasti Problematik!
Dinasti ini bisa memiliki barang
mewah apa saja, tetapi ada satu
hal yg tak akan pernah mereka
miliki, yakni:
"𝗗𝗜𝗚𝗡𝗜𝗧𝗬"
Dinasti ini bisa membeli jabatan
apa saja, tapi ada satu hal yang
tak akan pernah mampu mereka
beli, yaitu:
"𝗞𝗔𝗣𝗔𝗕𝗜𝗟𝗜𝗧𝗔𝗦"
Tapi, ada satu hal yang mereka
mampu miliki, bahkan sudah
mereka miliki, yakni:
"𝗧𝗔𝗛𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗟𝗨"
Ada ironi menarik di sini. Ketika MBG dikritik, salah satu pembelaan yang sering terdengar adalah: “Itu janji kampanye pak Prabowo. Kalau dihentikan, berarti dia membohongi rakyat.” Agar fair, standar yang sama mestinya berlaku untuk janji pemberantasan korupsi.
Dalam artikel Tempo ini, gagasan Prabowo mengampuni koruptor BUMN yang mengembalikan uang dan “bertobat” justru menimbulkan pertanyaan terhadap janji kampanyenya sendiri, soal koruptor bahkan akan dikejar sampai Antartika.
Kalau janji kampanye itu mandat yang tak boleh dikhianati, kenapa prinsip itu hanya berlaku untuk MBG? Bukannya pemberantasan korupsi juga janji kepada rakyat?
Kebijakan Subsidi Energi dan Transisi harus dibenahi, jangan hanya untuk kpentingan elektoral
#SubsidiEnergi#ResetIndonesia#edrtwt
https://t.co/6QuVLZXQiV
Tentunya Prabowo relatif tenang
karena "aura-nya" sudah berada
di singgasana kekuasaan.
Sementara Jokowi dan si "anak
haram konstitusi" tampak sekali
bimbang 2029 menjelang.
Satu per satu para "penjilatnya"
balik badan, enggan "terpercik
api" dan ditumbalkan.
Sudahlah, nggak perlu ditutupi,
retak ya retak aja, pecah kongsi
ya pecah kongsi aja.
Toh, kalian berdua sama saja;
"𝗠𝗔𝗕𝗨𝗞 𝗞𝗘𝗞𝗨𝗔𝗦𝗔𝗔𝗡"
Penyetaraan Ijazah Gibran digugat di PTUN, Kenapa? Gibran itu SMP di Singapura, di Orchid Park Secondary School. Sampai O level. Setara pendidikan kelas 10 atau kelas 1 SMA.
Lalu lanjut UTS-Insearch, kursus persiapan masuk kampus di Sydney selama 6 bulan
#MakzulkanGibran