Sebuah kisah ketika Sayyidina Umar Bin Khattab RA jadi Khalifah/Raja/Presiden, anaknya sekolah memakai baju yg banyak tambalannya. Di sekolahnya banyak temanยฒnya yg menertawakan dan mengejeknya dengan kata "masa kamu anak presiden tapi bajumu compang camping banyak tambalan gitu".
Nah, akhirnya Sayyidina Umar berinisiatif untuk meminjam uang ke Baitul Maal (Bendahara).
(Bayangin aja presiden ngasbon ke menteri keuangan) ๐
Terjadilah percakapan;
Menkeu : "Buat apa pak presiden meminjam uang?"
Presiden : "Ini anak saya bajunya sudah lusuh dan banyak tambalannya."
Menkeu : "Lalu pak presiden punya uang?"
Presiden : "Jelas kalau uang, saya tidak punya. Tapi nanti gaji saya bulan depan akan dipake untuk bayar."
Menkeu : "Memangnya pak presiden nanti bulan masih hidup?"
Presiden : "Beristighfar dan merenung dalam hati (bener juga ya, belum tentu umur panjang dan bulan depan masih hidup).
Lalu Sayyidina Umar tidak jadi meminjam uang.
Lah kita? ๐ญ Paylater, pinjol, kasbon pun dimana-mana. Kita itu mengaggap akhirat masih jauh yg padahal harusnya kita melihatnya sudah lebih dekat.
Dalam kitab Al-Hikam Pasal 147 dijelaskan :
ููุงุดุฑู ูู ููุฑุงููููู ูุฑุงูุช ุงูุงุฎุฑุฉุงูุฑุจ ุงููู ู ู ุงู ุชุฑุญู ุงูููุง ููุฑุงูุช ู ุญุงุณู ุงูุฏููุง ูุฏุธูุฑุช ูุณูุฉุงูููุงุก ุนูููุง
"Andaikan cahaya keyaqinan itu telah menerangi hatimu, niscaya kamu dapat melihat akhirat itu lebih dekat kepadamu, sebelum kamu melangkahkan kaki. Dan niscaya kamu akan melihat segala keindahan dunia, telah diliputi kesuraman dan kerusakan yang akan menghinggapinya."
Nah, Yakin itu adalah buah (Hasil), maka harus kita siapkan juga pohonnya.
Lalu apa pohonnya?
Yaitu ู ุฌุงูุณุฉุงูุนุงุฑููู ูู ุฌุงูุณุฉุงูุตูุงูุญูู
Bergaul dengan orang-orang pintar dan bergaul dengan orang-orang yg salih.