Guys, ada satu hal yang menurut gue paling jahat dan paling halus yang sedang dilakukan pemerintah ke kita semua sekarang.
Bukan dengan kekerasan.
Bukan dengan ancaman langsung.
Tapi dengan satu metode yang jauh lebih efektif:
Normalisasi.
Pelan-pelan.
Bertahap.
Sampai kita semua lupa bahwa hal yang sekarang kita anggap "ya begitulah" sebenarnya dulu adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Mari kita mulai dari awal:
Dulu Gibran tidak memenuhi syarat usia untuk jadi calon wakil presiden.
Aturan jelas.
Batas usia jelas.
Tidak ada ruang abu-abu.
Lalu tiba-tiba aturannya diubah.
Batas usia digeser.
Dan Gibran bisa maju.
Saat itu semua orang ribut.
Demo.
Kritik.
Headline media penuh dengan kata
"konstitusi dirobek".
Sekarang?
Sudah lewat lebih satu tahun.
Sudah jadi sejarah.
Tidak ada yang ribut lagi.
Yang dulu dianggap pelanggaran konstitusi terbesar sekarang dianggap "ya sudah terjadi, mau gimana lagi".
Itu normalisasi yang pertama.
Lalu janji-janji politik:
Selama kampanye segala macam janji diucapkan.
Yang didengar rakyat: harga akan turun, kesejahteraan akan naik, korupsi akan diberantas habis.
Sekarang janji-janji itu satu per satu menguap.
Harga naik bukan turun.
Subsidi dipotong bukan ditambah.
Dan ketika ditanya jawabannya selalu sama:
"kondisi global", "tidak sesederhana itu", "butuh proses".
Dan kita semua mulai menerima jawaban itu.
Padahal dulu janji itu yang membuat kita memilih.
Itu normalisasi yang kedua.
Lalu MBG:
Program senilai Rp335 triliun.
Korupsi terbongkar sebelum setahun berjalan.
Kepala BGN ditangkap.
Dapur SPPG meledak dari 21.000 jadi 27.000 dengan jual beli titik yang terungkap sendiri oleh Zulhas.
Reaksi pertama kaget.
Marah.
Gila, ini program flagship sudah korupsi dari awal!
Sekarang?
Ya namanya program besar pasti ada yang nyolong. Yang penting programnya jalan.
Itu normalisasi yang ketiga.
Dan ini yang paling licik penangkapan korupsi dijadikan prestasi:
Setiap kali ada pejabat ditangkap karena korupsi pemerintah dan pendukungnya langsung framing:
"Lihat, ini bukti pemerintah serius berantas korupsi!"
Tapi tunggu.
Penangkapan itu bukan prestasi.
Penangkapan itu adalah bukti bahwa korupsi terjadi di program yang dirancang dan dijalankan oleh pemerintah itu sendiri.
Bayangkan rumah kamu kebakaran karena kompornya bocor dan kamu malah dipuji karena berhasil memadamkan apinya.
Padahal yang harusnya dipertanyakan adalah:
kenapa kompornya bocor dari awal?
Itu normalisasi yang keempat dan ini paling berbahaya karena membalik logika sebab-akibat.
Lalu kenaikan BBM:
Dulu waktu dolar tembus Rp15.000 itu dianggap krisis nasional.
Headline besar.
Rapat darurat.
Semua orang panik.
Sekarang rupiah di Rp18.000.
Dan reaksinya?
"Ya begitulah kondisi global, semua negara juga kena."
Pertamax naik. Pertalite ikut terdampak abang ojol harus antri jam 4 pagi sebelum SPBU buka.
Tapi narasinya:
"Pertalite kan tidak naik, jadi rakyat kecil tidak terdampak."
Itu normalisasi yang kelima.
Dan ini yang paling menyeramkan buzer yang menyerang siapapun yang masih kritis:
Connie Rahakundini Bakri sampai harus lari ke Rusia karena nyawanya terancam.
Dino Patti Djalal diserang karena mengkritik biaya perjalanan presiden.
Saiful Mujani dikriminalkan.
Dokter Tifa dipolisikan.
Dan setiap kali ada yang kritis buzer langsung bergerak. Framing langsung dibentuk:
"ini cuma pencari sensasi",
"ini bagian dari konspirasi asing",
"ini orang yang tidak puas karena tidak dapat jabatan".
Pelan-pelan orang-orang yang masih berani bicara jadi makin sedikit.
Bukan karena mereka salah.
Tapi karena ongkos untuk bicara jadi terlalu mahal.
Itu normalisasi yang keenam dan ini yang membuat seluruh proses normalisasi sebelumnya bisa berjalan tanpa perlawanan.
Dan ini yang paling jahat dari semuanya kita mulai lelah:
Setiap normalisasi butuh energi untuk dilawan.
Setiap kali ada yang salah butuh tenaga untuk marah, untuk kritik, untuk turun ke jalan, untuk bertanya "kok bisa begini?"
Tapi ketika hal-hal yang salah ini datang terus-menerus satu demi satu, hampir tanpa henti energi kita untuk marah pun habis.
Dan ketika energi untuk marah habis yang tersisa hanya satu hal: menerima.
"Ya sudahlah."
"Mau gimana lagi."
"Memang begini negaranya."
"Capek juga kalau terus-terusan marah."
Dan itulah tujuan sebenarnya dari seluruh proses ini.
Bukan untuk membuat kita setuju.
Tapi untuk membuat kita terlalu lelah untuk tidak setuju.
Normalisasi bukan terjadi karena rakyat bodoh.
Normalisasi terjadi karena rakyat dibuat lelah secara sistematis satu krisis demi satu krisis,
satu pelanggaran demi satu pelanggaran,
satu janji yang diingkari demi satu janji lainnya sampai titik di mana melawan terasa lebih melelahkan daripada menerima.
Dan ketika seluruh generasi sudah tumbuh dengan menganggap semua ini "normal" tidak akan ada lagi yang bertanya "kenapa harus seperti ini?" Karena bagi mereka memang dari awal sudah seperti ini.
Itulah kenapa melawan kelelahan untuk tetap bertanya, tetap kritis, tetap mengingat bagaimana seharusnya adalah hal paling penting yang bisa kita lakukan sekarang.
Karena begitu kita berhenti bertanya itulah saat normalisasi benar-benar menang.
Dear SEAblings, today in Jakarta, Indonesia, there will be protests by students and various elements of society against the government. These protests will primarily highlights the government's massive spending programs, widespread corruption, economic depression—
Kritik itu artinya peduli.
I am not ur enemy.
Kritik ada yg via demonstrasi, ada yg via media sosial, ada yg via aksi ke sekitarnya.
Jadi tolong jangan dicounter seolah2 kabeh sing kritik ki yo salah dan pekok ngono lho
Introducing Monster Hunter Wilds: Ascendance, the massive expansion to #MHWilds. Soar into a land above, wield new abilities, and hunt legendary monsters in Master Rank!
Prepare for Elder Dragons. The next era of Monster Hunter begins in 2027 on PS5, Xbox Series X|S, and PC.
di korporasi kalo ada kegiatan bisnis resmi yang pake uang CEO-nya berarti ada indikasi sistem budgeting, cost control, dan perencanaan kegiatan perusahaannya ga beres 😭 ini hal basic banget ga sih bahkan anak maba semester 1 di FEB juga paham kali
Bahlil Lahadalia punya dua pencapaian yang susah ditandingi menteri manapun dalam satu kabinet.
Pertama: 1 Februari 2025, dia larang pengecer jual gas LPG 3 kg.
Rakyat antre berjam-jam.
Seorang ibu lansia di Pamulang meninggal kelelahan di antrean.
Bahlil bilang "tidak ada kelangkaan."
Warga di depan mukanya teriak: "anak kami lapar, Pak."
Kebijakan itu bertahan 4 hari sebelum Prabowo sendiri yang batalkan.
Kedua: Oktober 2024, dia lulus S3 di UI dalam 1 tahun 8 bulan, cumlaude.
Disertasinya kemudian ketahuan: similarity index 95% dengan karya mahasiswa UIN Jakarta di Turnitin.
Dewan Guru Besar UI rekomendasikan pembatalan disertasi.
Empat pelanggaran akademik ditemukan.
UI minta maaf ke publik. Gelar doktor-nya ditangguhkan.
Bahlil menanggapi soal gas LPG: "Kesalahan itu tidak usah disampaikan ke siapa-siapa."
Menteri yang kebijakan energinya dibatalkan presiden sendiri dalam 4 hari.
Dan gelar akademiknya ditangguhkan karena pelanggaran etik.
Keduanya dalam satu periode jabatan yang sama.