Lagi belajar suku-suku Indonesia sama wong cilik. Mau kasih tahu soal rumah Joglo:
"Nah ini rumah adat Jawa. Namanya rumah Jo...?", memancing mereka buat jawab.
Beberapa bingung, lalu muncul jawaban lantang.
"-kowi!"
Bener sih, gak salah juga.
"Siapa yang mau jadi bayi lagi?"
(Semua angkat tangan)
"Oh oke, siapa yang mau cepet besar?"
(Gak ada yang angkat tangan)
"Hah, kok gak mau?"
"Nanti cepet mati pak!"
Belum nak, sabar. Kita belum sampai bab krisis eksistensial.
Ini bukan soal membuktikan diri kepada mereka yang tidak melihat, namun menjangkau yang tidak terlihat.
Meski ada dendam dan rasa pembuktian, tapi tekanlah, bukan itu. Tekankan yang lain, yang lebih penting.
"Siapa yang pernah dapat hadiah natal?"
"Aku aku aku"
"Oh iya, kamu pernah dapat apa?"
"Dapat bendera"
"Bendera apa?"
"Uni Soviet"
What an idea for Christmas gift ๐ฒ๐งโ๐๐
Disuruh mengajarkan kejujuran tapi saat menjadi jujur, malah disangka membangkang.
Bukan aku mau menghentikan kebaikan, namun kamu tidak mau tahu kami butuh apa.
Menyebalkan.
Isn't it the risk of being in "this" stream? Because "we" don't have any tradition (or even real Tradition) so we keep looking for something new. Gambling on something until you are losing the point. For the sake of profit.
Yang bisa kuminta adalah pengertian tentang mereka yang tidak bisa mengerti.
Biarlah aku yang berusaha membuka mata, sementara mereka tetap sebelah mata.
Kita tak perlu untuk memaksa orang lain mengerti, untuk hal-hal yang mereka tidak ingin pahami. Biar mereka dengan pikiran mereka sendiri, dengan fantasinya sendiri.
Sampai mereka merasakannya, seperti rasa malunya kopi susu Keluarga yang ambyar ini.
Seperti biasa, pagi di TK.
"Kalo kita di gereja, kita baca apa?"
"Baca buku", kata satu anak.
"Apa nama bukunya?", kataku, berharap anak bilangnya "Alkitab".
Tapi jawab satu anak:
"Kate, katekismus".