Saya kurang setuju dengan narasi bahwa pemain naturalisasi tidak boleh bermain di Liga Indonesia. Dalam waktu kurang dari satu tahun menuju Piala Asia 2027, yang paling dibutuhkan para pemain adalah menit bermain secara reguler. Bermain setiap pekan menjaga match fitness, kepercayaan diri, dan performa agar tetap berada di level terbaik saat Timnas membutuhkan mereka.
Apalagi saat ini persaingan di Timnas Indonesia jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun lalu. Hampir di setiap posisi terdapat persaingan yang sangat kompetitif. Artinya, persaingan tidak hanya terjadi saat training camp, tetapi juga sepanjang musim bersama klub masing-masing. Match fitness, konsistensi performa, ketajaman, hingga kondisi fisik menjadi faktor penting untuk mencuri satu tempat di skuad Timnas.
Memang, tidak ada jaminan pemain yang rutin bermain pasti dipanggil Timnas. Pelatih bisa saja tetap memilih pemain yang menit bermainnya minim apabila ia memiliki karakteristik atau kualitas yang benar-benar dibutuhkan tim. Itu adalah hak prerogatif pelatih. Namun, jika kualitas dua pemain relatif seimbang, maka pemain yang tampil reguler tentu memiliki nilai tambah karena ritme bertanding, kondisi fisik, dan kepercayaan dirinya lebih terjaga.
Kita bahkan sudah melihat contohnya pada Ivar Jenner. Kesempatan menjadi starter di Timnas memang terbuka karena Thom Haye harus menjalani hukuman sehingga absen membela Timnas. Namun, kesempatan itu berhasil dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Ivar. Terlepas dari absennya Thom, secara permainan Ivar memang menunjukkan kualitas yang layak untuk dipercaya. Ia tampil tenang saat menguasai bola, disiplin dalam menjaga keseimbangan lini tengah, agresif ketika merebut bola, serta membangun chemistry yang baik bersama Joey Pelupessy. Tidak sedikit yang menilai ia menjadi salah satu pemain dengan penampilan terbaik di Timnas belakangan ini.
Sulit mengabaikan bahwa peningkatan performa tersebut juga dipengaruhi oleh Ivar yang bermain 11x sebagai starter secara beruntun bersama Dewa. Saat kesempatan datang di Timnas, ia datang dengan match fitness yang baik dan kepercayaan diri yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa bermain rutin di level klub bisa menjadi bekal yang sangat penting ketika kesempatan hadir di level internasional.
Apalagi musim depan kompetisi domestik akan semakin kompetitif. Selain Liga 1, akan ada I-League Cup, sementara beberapa klub Indonesia juga akan tampil di kompetisi Asia. Jadwal yang lebih padat membuat kebutuhan rotasi meningkat sehingga peluang mendapatkan menit bermain juga semakin besar. Bagi pemain Timnas yang menargetkan Piala Asia 2027, kondisi seperti ini justru bisa menjadi keuntungan.
Jangan lupa, banyak pemain profesional di seluruh dunia juga memilih pindah klub demi mendapatkan menit bermain yang lebih banyak. Itu bukan berarti ambisinya menurun, melainkan keputusan profesional agar tetap berada dalam performa terbaik dan menjaga peluang dipanggil tim nasional.
Selain itu, jangan sampai kita justru mendiskreditkan Liga Indonesia sendiri. Kalau setiap pemain diaspora yang pulang langsung dianggap sebagai langkah mundur, secara tidak langsung kita sedang merendahkan kompetisi yang sedang dibangun. Padahal kalau ingin liga berkembang, kita justru membutuhkan lebih banyak pemain berkualitas agar standar kompetisinya terus meningkat, baik itu pemain naturalisasi atau pun pemain asing.
Begitu pula dari sisi finansial. Jangan menyalahkan klub Indonesia jika mereka mampu menawarkan gaji yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan klub luar negeri. Justru itu menunjukkan bahwa industri sepak bola Indonesia mulai berkembang dan memiliki daya saing ekonomi yang lebih baik. Di seluruh dunia, klub yang sehat secara finansial memang akan berusaha merekrut pemain terbaik dengan menawarkan kontrak yang kompetitif. Selama dilakukan secara profesional dan berkelanjutan, itu adalah tanda positif bahwa nilai industri liga kita perlahan meningkat.
Tentu investasi tersebut juga harus diiringi dengan pembinaan pemain muda, peningkatan infrastruktur, tata kelola klub, dan kualitas kompetisi. Namun, kemampuan klub Indonesia mempertahankan atau mendatangkan pemain berkualitas seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang negatif.
Pada akhirnya, fokusnya jangan hanya pada di mana seorang pemain bermain, tetapi apakah ia mendapatkan menit bermain yang cukup, terus berkembang, dan siap memberikan performa terbaik ketika Timnas memanggilnya. Dengan persaingan yang semakin ketat menuju Piala Asia 2027, performa bersama klub bisa menjadi pembeda dalam perebutan satu tempat di skuad.
Jadi jika pemainnya sendiri melihat Liga Indonesia mampu menjadi kompetisi yang menjaga performa sekaligus meningkatkan kualitas dirinya, kenapa kita tidak?
@callmesuppr Sidibe paling kurang cik si kami mah soalna mun miluan sistem bojan kamari sisidbe kurang trackback peralta mah wani mundur ciro faktor umur muj wni bisa wae sih berg mah nya kitu so so kadang alus pisan kadang dribble wae teu liwat π€£
@fahmiamet@persib Nu kamana karep mah fesbuk trus ig sarua kecuali gosball mun d fb mah da lain rumor tp asbun nah mun ig capruk ameh rame hungkul piarku dybala anjir
Prabowo: "belum ada profesor profesor ekonomi yang bisa bantah saya, padahal saya bukan ahli ekonomi"
"tapi angka adalah angka, matematik adalah matematik"
also prabowo:
"10+6 = 17"
"10+2= 13"
"2+8 = 11"