@empty__core Orang2 kek gini dikata anak kecil itu robot kali ya yg ga punya rasa penasaran dan kecewa, apa mrk jg yakin itu anak2 tumbuh sejalan dengan ideologi tai kuda bapaknya itu? Kl kaga jg paling ujung2nya durhaka2in anak2nya kl ga ngasi kebahagiaan ke mrk, kek wtf dude.
🚨Darurat HIV, Darurat Edukasi
Kalau mau aman dari HIV ya terapkan prinsip ABCDE:
- Abstinence (tidak seks bebas)
- Be Faithful (setia pada pasangan)
- Condom (gunakan kondom),
- Drug No (hindari narkoba suntik), dan
- Education (pahami informasi HIV)
BUKAN malah pilih anak kampung.
Sakit sih ini, jahat.
Cc: @KemenkesRI@KPAI_official
Instagram dan Tiktok bikin pria terobsesi pada wanita yang gak bakal mau sama mereka.
Instagram dan Tiktok juga bikin wanita merasa berhak punya pasangan yang bisa provide lifestyle yang gak mampu mereka miliki.
Semua orang mengejar khayalan, lalu kecewa saat kenyataan gak sesuai ekspektasi.
Setiap hari pria scroll Instagram dan TikTok, lihat wanita cantik, body goals, makeup flawless.
Tanpa sadar, standar mereka naik. Mereka mulai membandingkan setiap wanita di kehidupan nyata dengan influencer yang mereka lihat online.
Lupa bahwa semua itu hasil filter, lighting, editing, dan makeup berjam-jam. Lupa bahwa wanita-wanita itu gak akan pernah mau sama mereka.
Pria jadi terobsesi pada sesuatu yang gak realistis. Mereka ngejar wanita cantik dan sexy yang pada kenyataannya gak tertarik sama mereka.
Wanita di kehidupan nyata yang baik, real, dan available? Dianggap biasa aja. Kurang menarik. Kurang exciting.
Akhirnya mereka stuck: gak bisa dapetin yang mereka mau, tapi gak mau sama yang available. Sendirian, tapi tetap ngejar ilusi.
Di sisi lain, wanita scroll Instagram dan TikTok, lihat couple goals yang liburan ke Maldives, makan di restoran mahal, dapet hadiah branded.
Tanpa sadar, ekspektasi mereka naik. Mereka mulai merasa berhak punya pasangan yang bisa provide gaya hidup seperti itu.
Lupa bahwa semua itu hasil kurasi. Cuma kasih liat yang bagusnya aja. Lupa bahwa pria yang bisa provide begitu cuma segelintir, dan belum tentu mau sama mereka.
Wanita jadi terobsesi pada lifestyle yang gak realistis. Mereka ngejar pria yang mapan, romantis, perhatian, dan bisa kasih hidup mewah.
Pria di kehidupan nyata yang baik, bertanggung jawab, tapi income standar? Dianggap kurang. Gak cukup untuk bikin bahagia.
Akhirnya mereka stuck: gak bisa dapetin yang mereka mau, tapi gak mau sama yang available. Sendirian, tapi tetap ngejar ilusi.
Inilah efek paling berbahaya dari social media: semua orang mengejar ilusi alih-alih membangun kenyataan.
Semua orang menuntut orang lain memenuhi khayalan mereka. Khayalan yang bahkan mereka sendiri gak bisa provide untuk diri sendiri.
Pria menuntut wanita cantik seperti model, tapi mereka sendiri gak punya apa-apa yang bisa ditawarkan.
Wanita menuntut pria kaya spek CEO, tapi mereka sendiri gak punya value yang setara.
Akibatnya? Makin banyak orang yang single berkepanjangan. Makin banyak yang frustrated karena "gak ada yang cocok."
Padahal bukan gak ada yang cocok. Tapi ekspektasi kamu yang udah terlalu tinggi dan gak realistis.
Kamu sibuk ngejar sesuatu yang gak mungkin kamu dapetin, sementara orang yang bisa bikin kamu bahagia ada di depan mata, tapi kamu abaikan karena "kurang."
Social media bukan cermin realita. Social media itu highlight reel yang dikurasi, diedit, dan dijual.
Kalau kamu terus membandingkan kehidupan nyata dengan ilusi di layar, kamu gak akan pernah puas. Gak akan pernah bahagia.
Saatnya melek dan realistis, mulai hargai orang-orang real di sekitar kamu.
Kalau kamu merasa stuck gara-gara standar yang terlalu tinggi, chat WA 0812-9224-8681. Saya bantu kamu kembali ke realita dan nemuin jodoh yang beneran cocok.
Kalo ada cowok yg gelagatnya aneh, pendiem, gak punya temen, gak punya kehidupan, tolong cewek2 jangan gampang kasian sama modelan begitu.
Pengalamanku pernah kasian sama cowok dari 1 fakultas kek suram bgt hidupnya. Kuajak ngobrol2, besok dan setelahnya dia bbrp kali nungguin aku pulang di pintu yg sama. Ngechat2 mulu lagi. Untugnya ga ada kejadian nekat kayak yg lagi rame di UIN Riau.
Tolong berhenti hidup di imajinasi sendiri. Kalo ada orang baik bukan berarti naksir. Kalo dikasih batasan; ditolak, didiemin, diputusin dsb ya udah mundur aja ygy.
Jangan lupa perbanyak ngobrol dan punya kesibukan biar tetep waras.
@alsjournall Selama ini kdrt yang di highlight itu physical abuse doang, banyak orang yang lupa kalo ada yang namanya MENTAL ABUSE & VERBAL ABUSE. Dampaknya jauh lebih mengerikan dan jangkanya sangat panjang bahkan bisa menggrogoti pelan-pelan
Ketika saya masih muda dulu, saya bingung ama silent treatment, dan emang tersiksa.
Setelah makin tua, maka silent treatment artinya saya tidak salah, kamu cuma diem aja. Kalo udah kepanjangan silentnya, lebih dari 72 jam artinya ya sudah kita ga punya hubungan lagi.
Minta space boleh kalo lagi marahan. Emang apa-apa tidak bisa langsung diomongin karena emosi masih membludak. Tapi kalo sampe ngediemin, buat saya, then the counter is ticking. 48 hrs max, and if still can't communicate > 72 hours, consider it's done.
Bukan tanggung jawab saya untuk ngepuk-puk. Tanggung jawab yang punya emosi untuk bisa regulasi dan berusaha ngomong baik-baik.
pen bnget hubungan yg ga semata mata terpaku hnya utk sex sja. hubungan yg dmn kita dri pagi sampe sore sibuk sma kerjaan masing2 lalu malam ketemu untuk ngelepas penat breng ntah quality time, night ride, dll. nge planning msa dpan breng, ngobati luka masa lalu bareng. when ya