Ingin menjadi seseorang yang selalu bersyukur atas hal apapun yang telah diberikan di dunia itu sungguh sulit. Di saat sehat, terutama. Saat kaubaring sakit baru tersadar. Lalu kematian hanya jadi batas akhir.
#human#syukur
INGAT
PERASAAN INI
KAU TAK BUTUH DIA!
TAK PERLU
KAU INGIN BERSAMANYA
SETIAP JALANAN
SETIAP DENGKURAN
SETIAP PERHATIAN
SETIAP JAJANAN
KAU RESAH
KAU JIJIK
INGAT
PERASAAN INI
KAU TAK INGINKAN INI
LUPAKAN
PERGI
TAK PERLU KENANGAN INI
WIFI: Di sini, waktu tak berhenti bersama koneksi jaringan. Ia tak tersentuh, tetapi menemani daya renungan. Di frekuensi senyap, ia berjanji bahwa kamu tak sendirian. Ada mereka yang ikut bertempur di dalam sinyal. Dan sialnya tak ada kamu di ujung tepian sinyal itu.
Dan rindu bukanlah perihal tentang perpisahan dan jarak, melainkan perihal persinggahan, waktu, dan hati. Kaurindu ia bukan karena jarak yang memisahkan kalian, melainkan karena ia tengah singgah di hati engkau walau waktu tak berhenti sedetik juga.
aku masih berharap itu semua,
tetapi waktu bergulir
dengan lantang
tanpa salam perpisahan
tanpa kecupan di kening
di hening malam
tanpa pula lagu yang meninabobokan
jiwa muda yang meriang
karena mungkin sering mendengar
kata rayuan dari bibir merahmu
#puisipendek
2024 pergi begitu saja
layaknya garam di pesisir pantai Barat
karena kamu tak benar-benar menungguku
tak usah hirau kan itu lagi
ingat kah kamu?
saat kita menepi sekitar belakang mal
berharap seharian penuh
menghabiskan waktu
lantas kamu gelisah tak jelas
Beralih kepada hati lain tak selalu memandang rupa atau harta. Mungkin saja hati itu adalah hati dan telinga yang mengerti dan mendengarkan. Mungkin saja hati itu adalah hati dan bibir yang diam tanpa harus menceritakan kembali kesulitan, ataupun kebaikan. #MainApi
Sebagai penulis kita bisa loh menghancurkan imaji/citra orang. Entah itu kita tuliskan ia sebagai tokoh soleh, baik, sempurna atau memperburuknya dengan narasi dalam esai, puisi dan cerpen. Parahnya lagi aku pernah melakukannya dua kali. Hingga ia kini meredam dan menghilang.