Di kerjaan freelance yang gua kerjain, bukan client yang biasa gua dapat, gua pernah suatu ketika “diadu” sama AI untuk liat
1. seberapa cepat
2. seberapa bagus
3. yang paling penting, does it solve the problem? (kerjaan gua concept art)
hasilnya
1. Ai memang lebih cepat memuntahkan hasil polished, tapi untuk ngutak ngatik hasil tersebut supaya sesuai brief tetap makan waktu dan merepotkan. Ending nya ternyata gua masi lebih cepat.
Kerjaan gua emang gak langsung polished, tapi langsung targeted sesuai brief. dan gua udah lakuin ini 10+ tahun, i’m generally fast.
2. Bagus Jelek itu subjektif, tapi AI cenderung polishing semua bagian sampe noisy, gak ada good sense of flow, composition and shapes, atau risky decisions yang work out in the end.
plus, ide nya selalu “aman”. Sampe hari ini kalo lu promot GenAI bikinin armor SCIFI pasti mirip ironman.
3. It does solve the problem but not without extensive human involvement, jadi gak bisa dibilang AI nya solving.
Makanya gua selalu bilang, orang yang bilang AI bisa melakukan pekerjaan visual dengan lebih bagus dan cepat itu either
1. Ga ngerti ngerti amat
2. Ga jago jago amat di profesi nya
3. Main di entry level which is secara objektif memang paling kena disrupt
once your job requires deliberate thought, AI ceases to be a replacement and becomes a tool like any other tool, the difference is it comes with more ethical considerations you have to make.
@raynexinanna at this point gue gk mau lg throwing off bad energy just because it’s weird or doesn’t fit into my standard, kek yauda anjir people do what they want aja lah selama gak ngerugiin sesiapa, udh terlalu pusing difuck pemerintah 😩
@blaugrana1O Yaa itu pilihan gasi? Kalau cash keras ya berarti harus nabung dulu sampe terpenuhi (yg mana pasti makan waktu lama), kalau mau punya rumah cepet ya ngutang dulu