Dibalik Kenyamanan Pendakian Pasti Ada Keringat Porter
Beliau bernama Pak Pi'i, seorang porter yang mendampingi perjalanan kami. Meskipun sudah tua, kecepatan jalannya tidak perlu diragukan.
Klik link di Bio untuk cerita perjalananku di Semeru.
Pulang Untuk Terus Kembali
Pintu ini adalah pintu yang akan dikenang oleh setiap pendaki. Pintu ini menyimpan banyak cerita. Pintu ini yang akan menjadi jalan pulang setiap pendaki. Namun, pintu ini yang juga akan terus memanggil para pendaki kembali. Klik link di bio utk cerita
Malam Terakhir Malam Terberat
Ranu Kumbolo selalu pintar mencetak kenangan para pendaki. Dinginnya udara malam, langit malam yang bertabur bintang selalu menjadi alasan untuk kembali kepada Ranu Kumbolo. Malam terakhir kami lalui dengan santai. Klik link di Bio untuk ceritaku.
Kembali ke Ranu Kumbolo
Tiba saatnya kami turun menuju camp spot selanjutnya. Serunya kalau sudah turun adalah munculnya rasa bangga dan takjub bisa menempuh rute naik yang dijalani pada hari sebelumnya. Klik link di Bio untuk cerita perjalananku di Semeru
Pertaruhan Nyawa Belum Berakhir
Saatnya tiba untuk turun dari puncak karena udara di atas terlalu dingin. Selama perjalanan turun kita juga harus tetap waspada karena tetap bisa saja ada batu turun meluncur. Ikuti cerita perjalananku di Semeru dengan klik link di Bio.
Atap Tertinggi Pulau Jawa
Agenda selanjutnya adalah sowan ke puncak Semeru. 7 jam perjalanan dengan seni mendaki naik 1 langkah mundur 2 langkah. Semua jerih payah ini terbayar lunas dengan keindahan di atas tertinggi pulau Jawa. Klik link di Bio untuk cerita perjalananku.
Titik Terakhir Asuransi Berlaku
Setelah dari Jambangan, sedikit berjalan sampailah dicamp ground terakhir yaitu Kalimati. Tanah lapang luas dengan hembusan angin yang kencang. Minus dari lokasi ini adalah lokasi pengambilan air yang jauh. Klik link di bio untuk ceritaku di Semeru
Yang Jauh Sudah Dekat, Yang Kecil Sudah Besar
Setelah dari Cemoro Kandang, perjalanan berlanjut ke pos jambangan dengan bentuk medan seperti menaiki anak tangga. Dari Jambangan Semeru bisa kita lihat dengan sangat jelas.
Klik link di Bio untuk cerita perjalananku di Semeru
Tenang Bersama Cemoro Kandang
Pagi kami di hari kedua dimanjakan pemandangan hijau perbukitan. Ini bukan bukit teletabies bromo. Ini adalah Cemoro Kandang.
Klik link di Bio untuk cerita perjalananku di Semeru
Melipir di Ranu Kumbolo
Akhirnya kami tiba di Ranu Kumbolo. Tetapi, tujuan kami untuk nenda bukan di sini. Jadi, perjalanan masih harus dilanjutkan.
Klik link di Bio untuk cerita perjalananku.
Motivasi Depan Mata
Setelah semua administrasi selesai, saatnya perjalanan dimulai. Selama perjalanan dari pos 1 ke pos 4 kita ditemani pemandangan, salah satunya yang ada di gambar ini.
Klik link di Bio untuk cerita perjalananku di Gunung Semeru
Briefing Before Hiking
Salah satu persyaratan mendaki semeru harus melalui proses mendengarkan dan memahami apa yang disampaikan oleh team relawan savior semeru.
Klik link di Bik untuk cerita lengkap pendakianku
Kediaman Sang Hyang Brahma
Setelah pemandangan perkebunan, selanjutnya dalam perjalanan akan bisa dilihat Gunung Bromo yang namanya diadaptasi dari Dewa Brahma.
Klik link di bio untuk cerita lengkap perjalananku di Semeru
Wadah Keringat Penduduk Ketinggian
Dalam perjalanan, perkebunan sayur milik warga di lahan yang miring menjadi pemanja mata yang pertama. Cek cerita lengkap perjalananku ke Gunung Semeru melalui klik link di Bio
Menanti Sentuhan Hangat Mentari
Sampai di puncak terlalu lama tidak baik. Sampai di puncak terlalu cepat juga tidak baik. Menahan hembusan angin dingin bak angin dari lemari es bukan hal yang mudah.
Ikuti rekap cerita pendakian semeruku di post post slanjutnya
Kebebasan Bocah Kampung Bena
Bukan soal mainan yang digigit, melainkan soal matanya yang masih bebas bermain di alam dunia secara nyata. Kebahagiaannya nyata, bukan bahagia digital.
Klik link di Bio untuk cerita perjalananku di Kampung Bena
Perempuan Pejuang Kampung Bena.Melirik ke teras rumah penduduk, aku melihat ibu yang ada di gambar ini. Tangannya masih cekatan untuk bergerak meskipun rambutnya memutih dan kulitnya keriput.55 tahun pensiun?Jelas tidak! Berumur tua bukan menjadi penghalang untuk terus berkarya.
Ngadhu dan Bhaga.
Ngadhu sebagai lambang laki laki dan Bhaga sebagai lambang perempuan. Ngadhu berbentuk seperti payung dan Bhaga berbentuk rumah kecil. Cerita perjalanan lengkapnya bisa dilihat melalui link di bio