Q: Bagaimana cara SUGA membangun koneksi dengan anak-anak?
Kami menjalankan total sepuluh sesi, masing-masing sekitar 90 menit. Dari awal, SUGA datang bukan sebagai artis, tapi sebagai seorang โguru musik.โ Anak-anak tidak tau siapa dia sebenarnya, dan kami pun tidak memberi tau. Mereka hanya mengenalnya sebagai guru yang datang membawa gitar dan bermain bersama mereka. Dan justru karena itu, interaksi yang terjalin terasa sangat tulus dan alami.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya terjadi saat kami menyanyikan lagu lawas berjudul ๋์๊ฒ ๋ ๋์๊ฒ ๋ dari grup ์์ ๊ฑฐ ํ ํ๊ฒฝ. Seorang anak tiba-tiba berkata, โSaya tahu lagu ini! Saya sering dengar waktu camping sama ayah,โ lalu ia menyanyikannya dengan suara lantang. Seluruh ruangan terapis, staf, dan saya sendiri tersenyum penuh haru. Saat itu saya benar-benar merasakan betapa musik bisa menjadi jembatan emosi, yang melampaui usia maupun kata-kata.
Kami juga memberi anak-anak kebebasan memilih alat musik. Ada yang memilih handbell, xylophone, drum, bahkan klarinet. SUGA berkata pada mereka, โKamu mulai dulu, aku akan mengikuti.โ Dia betul-betul menyelaraskan diri dengan ritme anak, mengikuti mereka, bukan memimpin. Dalam satu sesi, saat anak-anak membaca surat, dia juga mengiringi dengan gitar secara perlahan menyesuaikan tempo dengan kecepatan bicara mereka.
Melihat itu semua, saya benar-benar merasa terharu. SUGA berusaha sekuat mungkin menyatu dengan anak-anak. Dia tidak hanya hadir secara fisik, tapi menyamakan napas, emosi, dan irama dengan mereka. Bagi saya, itu adalah bentuk komunikasi yang paling jujur.
Menurut agensi BigHit Music, alasan mengapa SUGA memilih untuk fokus pada bidang kesehatan mental, khususnya pada gangguan perkembangan, berawal dari pengalamannya di masa kecil ketika ia mengenal seseorang dengan disabilitas perkembangan. Pengalaman tersebut membuat pemahaman SUGA tentang spektrum autisme tumbuh semakin dalam.
Gangguan perkembangan dan kesehatan mental berada dalam kategori medis yang sama di bidang psikiatri, dan memiliki pendekatan terapi yang serupa, terutama dalam hal dukungan emosional dan sosial.
BigHit Music menjelaskan bahwa terapi musik telah terbukti secara ilmiah efektif dalam melatih keterampilan sosial anak-anak dengan autisme. Proyek ini lahir dari ketertarikan dan kemampuan SUGA yang sejalan dengan tujuan tersebut.
Gagasan proyek mulai dirancang sejak paruh kedua tahun lalu. Diskusi konkret dimulai pada November, saat SUGA mulai bekerja sama dengan Profesor Cheon Geun-ah, pakar psikiatri anak dari Rumah Sakit Severance.
Melalui sejumlah pertemuan, SUGA memahami bahwa anak-anak dengan autisme membutuhkan perawatan jangka panjang yang disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang mereka. Hal ini tidak bisa dicapai hanya dengan intervensi terapi jangka pendek. Dari sinilah lahir ide untuk membentuk pusat perawatan dan pelatihan sosial berbasis musik yang kini dikenal sebagai Min Yoongi Treatment Center.
[NEWS] ๐๐ฎ๐ฆ๐๐ก ๐๐๐ค๐ข๐ญ ๐๐๐ฏ๐๐ซ๐๐ง๐๐ ๐๐๐ง ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ฌ๐๐๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ง๐๐ข๐ซ๐ข๐ค๐๐ง โ๐๐ฎ๐ฌ๐๐ญ ๐๐๐ซ๐๐ฐ๐๐ญ๐๐ง ๐๐ข๐ง ๐๐จ๐จ๐ง๐ ๐ขโ yang ditujukan untuk mendukung anak-anak dan remaja dengan Gangguan Spektrum Autisme (ASD). SUGA juga menyatakan niatnya untuk menyumbang โฉ5 miliar atau 60 miliar rupiah guna membiayai program terapi jangka panjang ini selama 10 tahun ke depan.
Pusat ini akan menyediakan terapi-terapi seperti bahasa, psikologi, dan perilaku, serta menghubungkan penelitian ilmiah dengan praktik klinis. Landasan utamanya adalah program terapi musik yang dinamakan โMINDโ, yang dikembangkan bersama oleh SUGA dan Profesor Cheon Geun-ah.
SUGA menyatakan:
โMelalui persiapan program dan kegiatan relawan bersama Profesor Cheon Geun-ah selama tujuh bulan terakhir, saya sungguh merasakan bahwa musik bisa menjadi saluran yang berharga untuk mengungkapkan isi hati dan berkomunikasi dengan dunia. Bisa berpartisipasi dalam proses perawatan anak-anak dengan ASD sendiri merupakan sumber kebahagiaan dan rasa syukur yang besar bagi saya, dan saya akan terus memberikan kekuatan saya agar lebih banyak anak dapat menjadi anggota dari masyarakat kita.โ
Program โMINDโ (singkatan dari Music, Interaction, Network, Diversity) menggunakan membuat musik, bernyanyi, dan menulis lirik untuk membantu anak-anak dengan ASD dalam mengekspresikan emosi dan membangun keterampilan sosial. SUGA secara aktif terlibat dalam pengembangannya selama beberapa bulan, bekerja langsung dengan anak-anak pada akhir pekan, memainkan gitar, mengajari alat musik, dan membimbing interaksi mereka.
Hasil awal menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam ekspresi emosi/verbal dan keterampilan sosial (seperti kerja sama) pada anak-anak yang ikut program ini termasuk pada mereka yang sebelumnya tidak merespons terapi tradisional.
Tujuan akhirnya adalah untuk membantu anak-anak ASD menjadi pribadi yang mandiri dan anggota masyarakat yang sehat, melalui musik sekaligus mengurangi stigma dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ASD.
#SUGA #AgustD