Dia videoin anaknya yg tidur mendengkur. Lucu, soalnya mulutnya kebuka.
Kayak bapaknya.
Dia kirim ke grup keluarga. Semua ketawa.
"Lucu banget."
"Gen bapaknya kuat ya."
Niatnya baik. Mau share momen lucu.
Sampai adiknya yang kbetulan seorang dokter bales:
"Kak, itu bukan lucu.
Coba bawa ke THT."
Pengalaman Temen GW Bokap meninggal = semua tabungan 300jt langsung KUNCI. Bukan hilang, tapi lu gak bisa sentuh 1 rupiah pun.
Temen gue nangis di CS bank. "Ini KK, gue anak kandungnya. Cairin dong." CS: "Maaf Pak. Tanpa Surat Keterangan Waris, saldonya 0 buat Bapak."
Hari itu dia baru sadar: Jadi anak kandung doang gak cukup buat ambil hak lu sendiri.
SKW = Surat Keterangan Waris. Surat sakti yang nentuin duit almarhum jadi warisan atau jadi pajangan.
Tanpa SKW:
Rekening bank = beku permanen Sertifikat rumah = gak bisa balik nama BPJS Ketenagakerjaan = nolak cair Mobil = gak bisa dijual
Punya aset 2M tapi gak bisa dipake. Itu lebih nyesek dari gak punya.
"Kan ada KK. Jelas dia anaknya." Bank, BPN, notaris: "Kami gak peduli."
Mereka takut 2 hal:
Salah kasih ke orang yang ngaku-ngaku Digugat ahli waris lain yang tiba-tiba nongol
Ini aturan PP 24/1997 + SOP semua bank. KK = bukti keluarga. SKW = bukti lu berhak.
Gak ada SKW = keluarga lu pegang bom waktu.
Skenario paling kejam: Satu ahli waris jual diam-diam → ahli waris lain gugat → transaksi batal → duit udah kepake → sengketa 10 tahun.
Atau lebih parah: Rumah disita bank karena gak bisa bayar utang almarhum. Padahal saldo deposito 300jt nganggur di bank sebelah.
Bikin SKW tuh gampang kalau tau jalurnya. Mahal kalau udah telat.
WNI pribumi: SKW kelurahan, ttd lurah + camat. Biaya resmi 0-500rb WNI keturunan: Akta Waris notaris Muslim: Penetapan ahli waris Pengadilan Agama
Kalau udah sengketa? Biaya pengacara mulai 50jt. Telat dikit, rugi banyak.
Syarat SKW Kelurahan. Kurang 1 = mental, ngulang dari 0.
Surat kematian KTP semua ahli waris KK almarhum Surat pernyataan semua ahli waris, ttd materai Saksi RT/RW
Punya saudara di luar kota/LN? Urusnya bisa 3 bulan sendiri cuma buat kumpulin ttd.
Ngomongin waris pas orang tua sehat itu bukan ngarep mati. Itu bukti sayang.
Checklist anti-drama:
Bikin daftar harta + utang bareng ortu Kumpulin fotokopi sertifikat, BPKB, buku tabungan jadi 1 map Scan semua, upload ke cloud Kasih tau semua anak: map fisik & digitalnya di mana
Malu ngomong sekarang, nangis 10 tahun kemudian.
Temen gue telat 6 bulan urus SKW karena adiknya di Australia. Dendanya?
BPHTB waris 2% dari NJOP terbaru. Rumah naik, pajak ikut naik Biaya notaris ikut naik Total rugi 18jt cuma karena nunda
Aturan: Urus SKW maksimal 6 bulan sejak tanggal meninggal. Lebih dari itu = denda + ribet kuadrat.
"Yang paling cepet ditagih pas orang meninggal itu utang. Yang paling lama cair itu aset. Tanpa SKW, lu bayar utang pake duit pribadi sambil liat deposito 300jt gak bisa disentuh."
cc : hafizrizalm
Tante gw jualan gorengan 12 tahun.
Bakwan, tempe, tahu semua laku keras.
Tapi ada satu pelanggan yang tiap hari bilang hal yang sama:
“Bu, gorengannya kok lembek pas sampe rumah?”
Sampai akhirnya dia beli di tempat lain. Dan tetap kriuk.
Tante gw shock. Gw yang akhirnya bantuin cari tahu jawabannya.
Rumusnya namanya STAR. Bukan motivasi atau quote. Ini KERANGKA yang bikin cerita lo masuk ke kepala HRD.
S — Situation: Konteks cerita lo apa?
T — Task: Lo dikasih tanggung jawab apa?
A — Action: Lo lakuin apa secara spesifik?
R — Result: Hasilnya berapa? Ada angkanya?
Tanpa STAR = curhatan. Pake STAR = presentasi diri yang menjual.
Hidup itu seperti bermain catur. Ada yang harus dilepaskan dan ada yang harus dipertahankan.
Hidup itu seperti kopi. Meski pahit, tapi tetap bisa dinikmati.
Hidup itu seperti roda. Kadang di atas, kadang dibawah, kadang bocor, kadang suwek.
Apa lagi ya? 🤔
Jika terasa berat menjalani hari, biasanya aku pakai jurus ini:
"Allah tak pernah jauh, meski aku menjauh, apalagi jika aku mendekat. Aku telah diperjalankan oleh-Nya sejauh ini, tak mungkin Allah membiarkanku sendiri hanya untuk gagal".
Ditelpon teman yang galau.
"Ini gimana peluangnya, mprop? Saya harus melangkah bagaimana?"
Kujawab," Peluangnya masih ada sebelum ada kata batal. Tapi letakkan harapan itu hanya pada pikiran, jangan di hati, agar tak membuat kecewa, panjang angan2, apalagi dugaan-dugaan. Melangkahlah apa yang seharusnya dilakukan dan bisa diikhtiarkan. Jangan hanya terpaku pada satu hal. Yakinlah jika satu pintu tertutup, ada pintu lain yang terbuka. Pun rezeki tak akan pernah tertukar, entah dari mana arahnya, ia akan menemukanmu."
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Anjir, ada yg bilang klo kepadatan bakteri yg nempel di spons yg bentukannya begini ekuivalen dg tai manusia?
Gw saking syoknya sampe cari2 referensi literatur yg relevan ttg ini & nemuin fakta yg bikin gue, buset dah momuntah :(
Buat yg sering begini, aplg pake spons bekas orang, tobat!
Di penghujung nasihat ibu hari ini, beliau berpesan," Picus, ikhtiarlah dengan menjalankan perintah Allah sebaik-baiknya. Jaga hati, jaga adab, jalankan syariat dengan baik. Yakinlah, Allah memperjalankanmu sampai saat ini, tak mungkin Allah membiarkanmu sendirian. Semoga sekecil apapun ikhtiarmu bermanfaat bagi kita semua, bahkan bagi yang belum pernah kau jumpai yang mungkin hanya berjumpa lewat twit. Semoga Allah menambahkan keimanan, keikhlasan dan membawa kita semua pada takdir yang baik dan benar serta meridhai setiap detik perjalanan hidup kita semua. Aamiin."
Ada yang mau saya bagi buku saya ini?
Ini buku saya tentang kereta api dan bagaimana mereka memeliharanya setelah era Jonan sampai ke dirut-dirut setelahnya.
Jonan merevolusinya dan dilanjutkan Edi Sukmoro, Didiek Hartantyo, hingga Bobby Rasyidin.
Apa saja masalah dihadapi mereka, bagaimana mereka menemui masyarakat pengguna kereta api, menggali kebutuhan publik, hingga masyarakat bisa merasakan dunia kereta api spt sekarang, saya rekam di buku ini: Seribu Tangan Sejuta Tantangan.
Untuk menulis ini, saya merambah sampai stasiun terkecil hingga yang paling sibuk. Bicara dengan pejabat kereta api hingga tukang pecel yang sehari-hari bepergian dgn KRL.
Bagi yang tertarik, syaratnya sangat gampang:
- Tulis pengalamanmu sendiri di stasiun, dalam kereta api atau Commuter Line, yang bikin kamu yakin dunia transportasi kita bisa semakin berkembang lebih baik.
Sebanyak 12 buku saya siapkan untuk teman-teman yang memberikan catatan terbaik.
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
Belajar nulis sendirian?
Bosen ah.
Gimana kalo kamu bisa belajar nulis bareng 800+ temen-temen? 😊
Sini-sini merapat di Grup Tele "BISA NULIS KONTEN".
Joinnya GRATIS ✨
Syaratnya simpel:
Aktif diskusi, ikut challenge, nanya-nanya, rajin nimbrung.
NO SILENT READER ❌
Btw, sebulan ini aku udah sharing struktur copywriting lengkap:
✨ HOOK - BODY - CTA ✨
Seru bangeet!
Apalagi baca challenge tulisan dari temen-temen 🔥
Kamu pengen ikutan juga?
Pas banget nih.
Sebelum masuk ke materi baru,
kamu bisa join ke grupnya dulu.
Link grupnya aku share di reply ya 👇
Aku mau bikin kelas gratis tentang Claude
Kepikiran buat bahas:
• Kenapa Claude happening, bedanya sama LLM lain apa?
• Claude Chat vs Cowork vs Claude Code
• Effective Claude prompting techniques
• Claude Cowork use case & Automations for professionals
• Claude MCP and Integrations with 3rd Party (PPT, Sheet, etc)
• Bikin Web Apps dan Deploy secara gratis pake Claude Code
Siapa aja yang mau join? Coba Follow + Retweet + Reply di bawah ya 👇🏻
Jadi ceritanya bbrp hari lalu tiba2 ibu gw nelpon. Dalam kondisi agak panik, katanya ga sengaja ngeklik undangan digital yg formatnya APK.
Langsung lah gw minta forward APKnya ke gw. Lalu gw coba bongkar untuk caritau apa yg dilakukan sama app tersebut.
Morning, Grameds! Siapa nih yang hobi baca + doyan sharing review buku? 👀
Infoooo nih info, kalian bisa loh dapat cuan dari review atau promosiin buku-buku Gramedia! 💸✨
Cocok jadi loker freelance juga lohh. Ada yang mau tau info detailnya? Komen "mau" di bawah yaa 👇🏻
Mertua bilang “nggak apa-apa.”
Tetangga bilang “dulu anak saya dikasih juga, sehat-sehat aja.”
Tapi sebagai dokter anak, saya harus jujur:
Ada 9 makanan yang kelihatan aman — tapi berbahaya untuk bayi di bawah 1 tahun.
🧵 Thread penting untuk semua orang tua & calon orang tua:
(Silahkan simpan dulu, bila belum sempat baca)