Telihat taktikal? Tidak? Terlihat bodoh? Ya jelas terlihat bodoh dan konyol... Ini banyak yang mengabaikan sisi disiplin dan safety alias ngawur! Muzzle discipline tidak ada, kena sapu semua oleh laras senapan kawan di belakangnya, dan ada yang telunjuk masih menempel di pelatuk.
Perwira-perwira yang tersinggung, mereka minta transparansi soal sumber dana sebuah film dokumenter.
Beberapa waktu lalu, ada wartawan yang bertanya mengenai sumber anggaran “Pasar Murah untuk Rakyat” pada 28 Maret 2026, seseorang yang katanya memiliki jabatan Letnan Kolonel, menjawab, “pokoknya ada 💅”.
Gak malu atau gak tau malu? Rekannya sendiri dong ditegur, gimana sih.
Cinta Laura Kiehl baru saja membuat Instagram Story panjang bertajuk “LISTEN UP” dan langsung jadi perhatian.
Jadi ceritanya saat sedang traveling di bandara, tas bagasinya dicek karena ada benda mencurigakan (ternyata ankle weights miliknya untuk olahraga). Namanya dipanggil lewat microphone, lalu ia “dilempar” dari satu staff ke staff lain tanpa arahan yang jelas.
Staff yang mendampinginya awalnya cuek dan tidak membantu. Bahkan saat Laura bertanya, jawabannya hanya “walk to counter 20” tanpa ada bantuan lebih lanjut.
Baru setelah Laura membuka kacamata dan staff tersebut mengenali siapa dirinya, sikapnya langsung berubah total 180 derajat, jadi ramah, helpful, dan attentive.
Cinta berpandangan bahwa jarang sekali ia complain secara publik, tapi kali ini ia merasa harus speak up karena pengalaman yang menurutnya sangat salah.
Cinta Laura menulis bahwa ia sedih bukan karena ketidaknyamanannya, tapi karena menyadari bahwa “siapa kita” sangat memengaruhi bagaimana kita diperlakukan.
Ia sadar dirinya beruntung punya privilege, tapi justru karena itu ia merasa punya tanggung jawab untuk menyuarakan hal ini.
“Shame on you! Do better,” katanya kepada airline yang bersangkutan (ia tidak sebut nama secara publik, tapi sudah mention di story).
Bisa dibayangkan tidak apabila yang mengalami adalah masyarakat biasa seperti kita..
Pembodohan Publik:
Menampilkan pejabat dan petugas menggunakan sarung tangan hitam secara formal, memotong kabel di kebun, lalu memamerkannya di depan jurnalis hanyalah sebuah drama teatrikal (gimmick).
Tujuannya jelas:
memberikan "kambing hitam" instan yang mudah dicerna oleh masyarakat awam agar perbincangan publik berhenti di situ, tanpa harus membongkar bobroknya manajemen atau kegagalan sistem proteksi PLN yang sebenarnya.
Bagi siapa saja yang paham dasar teknis kelistrikan, rilis pers dalam video tersebut bukan sebuah fakta hukum, melainkan sebuah komedi birokrasi. 🤣🤣🤣
Kesimpulan logis dan teknis atas rekaman video rilis pers tersebut adalah sebagai berikut:
Salah Alamat Secara Teknis Kelistrikan (Mismatch): Barang bukti yang dipamerkan di video tersebut adalah Kabel Tanah (Underground Cable) atau kabel utilitas lokal, bukan kabel udara transmisi fasa SUTET/SUTT.
Kabel tersebut memiliki perisai baja luar (Steel Wire Armor) yang strukturnya hanya ditemukan pada kabel yang ditanam di dalam tanah atau kabel telekomunikasi/optik pelindung.
Kabel Kosong / Tidak Aktif:
Visual saat kabel dipotong di kebun maupun saat dipamerkan menunjukkan bahwa kabel tersebut TIDAK memiliki inti konduktor logam (tembaga atau aluminium tebal) di dalamnya.
Itu adalah selongsong kabel kosong atau bagian luar kabel yang umumnya sudah tidak aktif/bekas, di mana material berharganya (inti logam) kemungkinan besar sudah dikupas atau diambil terlebih dahulu.
Skala Dampak yang Tidak Masuk Akal:
Sistem interkoneksi kelistrikan se-Sumatera ditopang oleh jalur udara tegangan ekstra tinggi (SUTET 275kV) yang mengalirkan ribuan Megawatt daya antar-provinsi lewat menara-menara raksasa di langit.
Secara ilmu teknik elektro, gangguan atau putusnya kabel tanah lokal berserabut seperti di video ** mustahil memiliki kapasitas beban untuk meruntuhkan (blackout) sistem kelistrikan satu pulau**.
Dampak putusnya kabel sekecil itu maksimal hanya memadamkan area lokal (sekelas perkebunan atau desa sekitar). 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kesimpulan Akhir:
Narasi yang menyatakan bahwa potongan kabel di video tersebut adalah "pemicu utama blackout Sumatera akibat cuaca" adalah narasi yang keliru, dipaksakan, dan tidak memiliki dasar validitas teknis.
Visual yang ditampilkan justru membongkar bahwa barang bukti tersebut tidak ada hubungannya dengan kegagalan sistem transmisi interkoneksi SUTET Sumatera.
🤣🤣😎