@catuaries@bimaprawira Makanya w selalu penasaran, stelah gencarnya campaign awareness ketimpangan gender perkara urusan domestik ini, sebenarnya mediannya berubah gak sih?
Di bubble w sih, kerasa jauh berubah banget dibanding generasi bapak/om w..
Since joining Twitter, you've posted an average of 111.4 times per day. Assuming you sleep for 8 hours, that's about 7 times per hour or once every 9 mins.
Since joining Twitter, @DrAllyLouks has posted an average of 1.4 times per day.
You post 80 times more often than her.
Gue izin nitip aja ya Bung Iyut.
Disini gue nulis : Gawat memang fans tim yg suporternya bentangin bendera zionis di stadion
Gue gak bilang orang yg reply gue itu fans Zionis karena dukung Argentina.
Malahan replynya : Dukung Argentina = Dukung Zionis.
Lah? Sampe gue tulis ada kalimat lain nggak selain 'Ngefans sama Zionis'
Gitu lah kira2
Yg gue sorot ya fans yg bentangin bendera Israel di stadion saat itu. Karena itu yg direspon sama pelatih dan pemain Mesir.
Tapiiiii, untuk mengerti sebuah kalimat aja keknya banyak yg sulit.
Terima kasih Bung Iyut
Karena lagi rame ada Aa Aa yang pasang bio Antifa tapi isi twitnya caci maki LGBTQ+ izin saya sampaikan pandangan saya dari sisi orang yang pernah "Antifa Antifaan" di 2011-2013.
Disclaimer, opini ini tidak bermaksud menyinggung siapapun apalagi ke teman² dan para senior di Bandung Casuals, respect besar dan rindu saya sama kalian semua 🫂
Oke, karena twit ini akan menjadi diskusi dua arah maka tolong kita berdiskusi secara terstruktur dan menggunakan bahasa yang sopan ya.
Jujur, dulu memang jangkauan saya hanya sebatas gaya-gayaan tanpa memahami esensi dan konsekuensi dari isme ini. Salah satu yang membuat saya kurang sreg dengan paham ini karena ada beberapa hal yang saya rasa berbenturan dengan pemahaman agama yang saya anut.
Dulu, Saya agak kesulitan memahami batasan terluar ketika seseorang tidak lagi dikatakan Anti Fasis.
Karena jika dirunut, saya sangat benci terhadap rasisme, tapi sangat anti juga terhadap liberalisme. Apalagi jika mengatasnamakan Islam dengan embel-embel Liberal.
Dalam islam, soal rasisme dibahas mutlak di Q.S Al Hujarat:13, makanya saya amalkan.
Sedangkan untuk memahami Kebebasan dan Hak Asasi Manusia, saya berpendapat tentu perlu ada batasan toleransinya.
Perlu teman-teman ingat bahwa dalam Islam kisah Nabi Luth dan kaum Sodom dibahas gamblang dan bersifat final mengenai kebiasaan dan hukuman sebagai akibat dari apa yang mereka kerjakan.
Namun dengan adanya kebebasan yang tanpa batas ditambah sebagian orang yang gencar membelanya, LGBTQ+ menjadi subur kembali, bahkan mulai berani masuk ke ruang-ruang kehidupan masyarakat.
Maka, Jika syarat menjadi seorang Anti Fasis harus membela LGBTQ+ maaf saya engga ikutan dulu. Lebih baik saya menjadi seseorang yang menormalisasi ketidaknormalan itu sebagai penyakit yang perlu disembuhkan.
LGBTQ+ tidak hanya merusak tatanan hidup, tapi juga mengundang azab.
Jadi, orang normal jangan berhenti bersuara tentang ketidaknormalan ini, karena yang kita hadapi bukan hanya mereka yang tidak normal, tapi juga kaum yang menormalisasi.
jadilah semut ibrahim, yang tetap membawa air meskipun api melalap tubuh Ibrahim.
Setidaknya orang tahu, kepada siapa kita berpihak.
If You tolerate this, then your Children will be next.