Yang membuat hancur seseorang itu adalah serakah.
Ga bisa merasa cukup.
Serakah ini mengakar dari semua kalangan.
Mau kerja enak, santai tapi duit gampang banyak.
Enough is enough.
Ra iso berpikir ngono.
ternyata bener ya trauma tuh kayak lu mengalami accident, gak mati, tapi cacat seumur hidup.
“time will heal, time never heals its just adapt the pain”.
hubungan kamu sama si dia emang ga jelas, tapi promo GoFood udah pasti jelas 😌
masukin kode promo GOKOLABORASA dan enjoy the foods fellas 🥳
sstt udah diet masih bisa besok 🤫
https://t.co/jJNTzTO5Nk @gojekindonesia#GORIDEAJA#GOJEKUNDIP#GojekSetiapHari
long weekend ini cocok bgt buat self reward jalan-jalan, jangan lupa pakai GoRide hemat 5ribu biar bikin dompet ga kering bestiee💅
Masukin kode promo GOKOLABORASA biar makin hemat🔥
https://t.co/jJNTzTO5Nk @gojekindonesia#GORIDEAJA#GOJEKUNDIP#GojekSetiapHari
Semarang mataharinya seribu + cuaca ga nentu jadi bingung mau keluar gimana 🥲
pake promo GoCar cuma 8rb, jadi bisa trabas mau kemana aja. jangan lupa pakai kode promo GOKOLABORASA 🫶🏻
https://t.co/jJNTzTO5Nk @gojekindonesia#GOCARAJA#GOJEKUNDIP#GojekSetiapHari
sebel ga si kalo kampus jauh + panas + macet = langsung ga mood kuliah😔
untung banget sekarang ada promo GoRide mulai dari 5RB, jadi ngampus lebih irit + pake kode referal GOKOLABORASA bakal dapetin banyak promo menarik!
@gojekindonesia#GORIDEAJA#GOJEKUNDIP#GojekSetiapHari
“muda berkelana, tua bercerita”
ga, anakku ga butuh cerita, dia butuh warisan tanah, rumah, uang, emas, kehidupan yg layak dan pendidikan yg baik dan tinggi.
orang yang sudah menikah lalu berzina adalah pengkhianatan ganda terhadap Allah, pasangan dan juga anak. kalau mau menimbang dampak sistemik dari zina muhshan, they indeed deserve hudud (death penalty). hudud exist untuk lindungi masyarakat dari kerusakan nasab, keluarga dan fondasi masyarakat. bukan hal sepele, kerusakannya berat. hudud juga ngasih efek jera (deterrence) yang kuat, jadinya orang takut berbuat hal tersebut. di sistem hukum sekuler, deterrence ini gak ada atau sangat lemah, makanya jadinya “biasa aja” dan dampak kerusakannya terus berulang.
-dimulai dari dampak psikologis, korban selingkuh sering kali kena trauma berat, contohnya kena PTSD, depresi kronis, kecemasan yang parah, bahkan suicidal thoughts atau bahkan sampe melakukan itu. yang paling ancur biasanya anak-anaknya, mereka ngerasain betrayal dari orang tua yang seharusnya jadi tempat aman. akibatnya? trust issues seumur-umur, low self esteem, struggling buat bangun hubungan sehat, anger issues, dan punya risiko lebih tinggi buat mengulang pattern ini pas dewasa. jadinya trauma yang diturunkan antar generasi
-sistemically, infidelity itu salah satu pemicu utama perselisihan yang berujung ke perceraian, bikin broken home naik. anak-anak yang terdampak lebih rentan melakukan kenakalan remaja, kena masalah mental, prestasi sekolahnya drop, bahkan bisa terjerumus kriminalitas jangka panjang
-divorce akibat zina juga bikin daya ekonomi household langsung turun drastis. banyak ibu yang jadi single parent dengan penghasilan kecil, sementara biaya hidup anak dan rumah tangga tetep tinggi. akhirnya tugas negara buat ngasih bantuan sosial, kesehatan mental, dan program kesejahteraan makin berat.
jadi ya, it make sense mereka deserve death penalty, soalnya luka yang ditimbulkan gak pernah sembuh total dan dampaknya nyebar kemana-mana ke anak, keluarga, sampe jadi beban moral ekonomi sosial masyarakat luas
Guys, Leon Hartono baru balik dari Singapura dan dia nemuin satu hal yang bikin dia mikir keras.
Rata-rata orang Singapura punya kekayaan Rp7,5 miliar.
Jadi kata dia Pemerintah Singapur tuh Paksa Rakyatnya Jadi Miliarder
Bukan orang kaya.
Bukan CEO.
Bukan entrepreneur.
Orang rata-rata.
Profesional biasa.
Manajer.
Pegawai kantoran.
Mediannya?
Rp1,9 miliar.
Buat konteks Indonesia kita sekitar 25 sampai 30 kali lebih rendah dari angka itu.
Dan yang lebih menyakitkan gap ini makin lebar dari tahun ke tahun.
Di 1970 GDP per kapita Singapura cuma 11 kali lipat lebih besar dari kita.
Sekarang udah 18 kali lipat.
Artinya mereka tumbuh lebih cepat dari kita bukan cuma lebih kaya tapi makin jauh meninggalkan kita.
Dan rahasianya bukan cuma soal korupsi rendah atau negara kecil.
Ada satu program yang jarang dibahas tapi ini yang beneran jadi mesin kekayaan massal di Singapura.
Namanya HDB Housing Development Board.
Kalau lo pikir ini cuma rusun untuk orang miskin lo salah total.
HDB itu bukan program perumahan.
Ini program distribusi kekayaan.
Begini cara kerjanya.
Orang Singapura bisa beli apartemen HDB dengan diskon 50 sampai 60% dari harga pasar.
Rumah yang harusnya lu bayar Rp1 miliar lo cuma bayar Rp400 sampai Rp500 juta.
Dengan bunga fixed 2,6% selama 25 tahun.
Bukan floating rate yang bisa naik kapan aja.
Fixed. Dua koma enam persen.
Dua puluh lima tahun.
Di Indonesia bunga KPR kita berapa?
10% ke atas.
Floating.
Seringkali yield sewa properti kita pun cuma 2-3% jauh di bawah bunga pinjamannya.
Jadi properti di Indonesia secara matematis nggak bisa bayar dirinya sendiri.
Di Singapura?
Properti yang cicilan bulanannya sekitar Rp14 juta bisa disewain Rp40-50 juta sebulan.
Propertinya bayar dirinya sendiri dan masih ada sisa.
Dan ini contoh nyata yang Leon kasih:
Teman SD-nya beli apartemen HDB 60 m² di tahun 2016 seharga 350.000 dolar Singapura.
Bayar dulu cuma 5%.
Empat tahun nunggu sambil kuliah dan awal karir.
Serah terima 2020.
Baru mulai nyicil.
Sekarang 2026 apartemennya dijual di harga 850.000 dolar Singapura.
Capital gain: 500.000 dolar.
Sekitar Rp5,5 miliar.
Dan dia baru nyicil 6 tahun dari 25 tahun.
Artinya dia baru bayar sekitar 120.000 dolar tapi udah dapat keuntungan lebih dari 4 kali lipat modal yang dia keluarkan.
Lu baru bayar sedikit, dalam waktu singkat lu udah dapat 45X upside.
Sistem ini dirancang buat semua fase hidup.
Waktu muda beli yang kecil.
Keluarga berkembang jual, beli yang lebih besar, tetap dapat harga subsidi.
Per keluarga bisa dua kali.
Setiap kali jual, dapat capital gain.
Setiap kali beli, tetap dapat diskon.
Dan kalau mereka udah tinggal sama orang tua HDB-nya disewain.
Uang sewanya jauh lebih besar dari cicilan.
Passive income masuk, cicilan lunas, masih ada sisa.
Lihat datanya dan ini yang paling nyesek:
Untuk 20% warga Singapura paling bawah secara pendapatan 93% kekayaan mereka berasal dari HDB dan CPF yang adalah program pemerintah.
Bukan dari kerja keras ekstra. Bukan dari investasi saham pintar. Tapi dari program yang pemerintah design khusus supaya rakyatnya kaya.
Dan semakin lo naik ke bracket pendapatan yang lebih tinggi porsi HDB dan CPF makin kecil karena mereka udah bisa bikin kekayaan sendiri. Tapi buat yang di bawah pemerintah hadir dan bikin mereka naik kelas.
Sekarang balik ke Indonesia. Dan ini yang bikin gue nggak enak hati.
Program 1 juta rumah kita fokusnya affordability supaya orang bisa beli rumah. Itu bagus. Tapi berhenti di situ.
Nggak ada design untuk capital gain. Nggak ada bunga fixed jangka panjang yang masuk akal. Nggak ada sistem upgrade yang terstruktur. Nggak ada mekanisme supaya properti bisa bayar dirinya sendiri.
Kita bikin program supaya orang punya rumah. Singapura bikin program supaya orang punya kekayaan.
Bedanya itu yang bikin rata-rata orang Singapura jadi miliarder sementara kelas menengah Indonesia makin terjepit.
Yang Leon sarankan dan ini masuk akal:
Nggak harus langsung seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta. Mulai dari Surabaya. Bikin program perumahan terjangkau di lokasi strategis dengan skema yang dirancang bukan cuma untuk tempat tinggal tapi untuk membangun kekayaan kelas menengah.
Kalau pemerintah mau hadir bukan cuma untuk yang paling miskin tapi untuk kelas menengah yang sering kali justru paling nggak dapat apa-apa ini bisa jadi titik balik.
Tapi selama program perumahan kita masih didesain hanya untuk charity dan bukan untuk wealth building gap antara kita dan Singapura akan terus melebar.
Dan 50 tahun lagi kita mungkin masih ngomongin hal yang sama.
"Kok Singapura bisa, kita nggak bisa?"
Tiap ada bayi lahir, doanya selalu "Semoga jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama."
Jarang banget dengar orang tua yang doanya begini: "Semoga aku bisa jadi rumah yang nyaman buat dia, bisa menjamin pendidikannya, dan memastikan dia tumbuh di lingkungan yang sehat."
Harusnya kita dulu yang berjanji ke dia, bukan dia yang dituntut buat dunia.