8 PERISTIWA YANG MENGUBAH
SEORANG PRIA SELAMANYA
1. Menggendong anaknya untuk pertama kali.
2. Kematian ayahnya.
3. Menerima telepon yang mengabarkan bahwa orang yang dicintai telah tiada.
4. Melihat wanita yang dicintainya mulai kehilangan rasa cinta kepadanya.
5. Memakamkan anaknya sendiri.
6. Ditinggalkan ketika sedang berada di titik terendah dalam hidup.
7. Menyadari bahwa dia telah menjadi sosok yang dulu paling dibencinya.
8. Benar-benar sendirian untuk pertama kalinya.
Semalam aku mendengar satu podcast yang sangat ngena.
Hidup sebaiknya berpaksikan waktu sholat.
• Bekerja setelah Subuh
• Makan siang sebelum Zuhur
• Makan malam sebelum Magrib
• Tidur setelah Isya
• Punya waktu untuk diri sendiri sebelum Subuh dengan qiyamul lail
• Menikmati ketenangan pagi saat matahari terbit
Ketika hidup berpaksikan sholat, bukan hanya waktu yang menjadi lebih teratur, tetapi hati juga terasa lebih tenang.
"Jangan selipkan sholat di sela-sela kesibukanmu. Selipkan kesibukanmu di antara waktu-waktu sholat."
Pierre Jean Baptiste de Perez adalah pejabat tinggi Hindia-Belanda yang terpaksa "diawetkan" di dalam peti wine karena meninggal di atas kapal saat memimpin ekspedisi ke Bone, Sulawesi Selatan pada 1859.
📹 : @/padasuatumasa.official
Pusara bersejarahnya bisa ditemukan di kompleks Makam Eropa Peneleh, Surabaya.
Kawan @GNFI, tertarik buat ziarah dan melihat langsung makamnya? Tulis di kolom komentar, ya!
Emak Gw lama lama percaya Video AI itu beneran
Petarungan sengit memperebutkan gelar juara grup antara konoha vs soroz saksikan di channel kesayangan kalian..
Sumber Video Thread smartaieffect
Nyawa perempuan itu ada di pendidikan dan karir yg bagus. Hanya pendidikan dan karir yg ga akan pernah mengkhianati perempuan
- Jadilah perempuan yg berdikari
- Kejar pendidikan setinggi-tingginya
- Raih karir secemerlang mungkin
Karna cantik bisa meluntur, tapi isi otak, survive, pola pikir dan prinsip itu pondasi utama seseorang perempuan
Cerita para korban peristiwa 1965.
Trigger Warning, utas menggandung kekerasan fisik dan seksual. Klo ga kuat jangan baca ya.
Pembunuhan ratusan ribu hingga jutaan orang di Indonesia pada 1965-1967 tetap menjadi peristiwa misteri. Sejarawan mengakui bahwa pembunuhan massal itu terjadi namun mereka mengalami kesulitan untuk mendokumentasikan satu kematian pun. Tanpa data dan dokumentasi, sejarawan bingung meghadapi pertanyaan paling mendasar: Siapa pelakunya? Angkatan Darat atau milisi sipil atau warga biasa? Kelompok mana yang paling bertanggung jawab? Apa motifnya? Bagaimana pembunuhan itu diorganisir? Apakah korban hanya kaum komunis atau menyasar yang lain? Apakah korban melawan? Mengapa korban tidak melawan? Berapa jumlah korban pembunuhan massal?
Foto: @potretlawas dari buku Penghancuran PKI oleh Olle Tornquist
Foto para pemuda yang ikut memburu anggota PKI di wilayah Gunung Merapi, November 1965.
Kebencian Ansor kepada PKI bukan tanpa alasan. Hal ini bermula dari disahkannya UU Pokok Agraria tahun 1960.
UUPA tersebut memuat reforma agraria untuk kepemilikan lahan yang lebih merata.
Namun, pelaksanaan UUPA ini berjalan sangat lambat di lapangan.
Melihat kelambatan tersebut, PKI dan organisasi sayapnya Barisan Tani Indonesia (BTI) tidak sabar.
Pada tahun 1964, D.N. Aidit menyerukan strategi radikal. BTI diperintahkan untuk bergerak sendiri melaksanakan UUPA tanpa menunggu keputusan resmi dari pengadilan atau panitia landreform pemerintah.
Kaum tani diminta mengganyang setan-setan desa, yaitu tuan tanah jahat, lintah darat, tukang ijon, tengkulak, bandit desa, pejabat korup, dan kapitalis birokrat. Ini dikenal sebagai aksi sepihak PKI/BTI dalam menerapkan UUPA.
BTI mengerahkan ribuan anggotanya untuk turun langsung ke sawah dan ladang guna melakukan tindakan-tindakan penyitaan, pendudukan lahan, dan perlawanan kepada tuan tanah.
Hal ini menimbulkan gesekan dan konflik horizontal di akar rumput. Termasuk dengan kiai dan pesantren NU yang mengelola tanah-tanah wakaf. Juga dengan Angkatan Darat yang menguasai lahan-lahan perkebunan.
Kebencian ini ibarat api dalam sekam. Maka, ketika G30S meletus tidak sulit untuk memantik aksi massa untuk melawan PKI.
Tips supaya terlihat 10 tahun lebih muda - Dr. Mani
No gula.
No tepung.
No sarapan nasi.
Lunch jam 12 siang.
Dinner jam 6 sore.
Probiotik setiap hari.
Konsisten selama 3 bulan dan lo akan merasakan perubahannya.
Rumus Bahagia dari Ki Ageng Suryomentaram NEMSA (6 SA)
1. Sakbutuhe (secukupnya kebutuhan)
2. Sakperlune (sesuai keperluan)
3. Sakcukupe (merasa cukup)
4. Sakbenere (sebenarnya menurut fakta, bukan asumsi)
5. Sakmesthine (sewajarnya atau semestinya)
6. Sakpenake (senyaman/seenaknya bagi diri sendiri dan orang lain)
Gw baru sadar kalau dugaan rantai masalah di balik blackout Sumatra dan pemadaman bergilir di Jawa ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar “gangguan teknis”.
Kalau ditarik benang merahnya, kira-kira alurnya begini:
1. Harga batu bara global turun karena oversupply.
Buat negara eksportir seperti Indonesia, harga yang turun berarti penerimaan negara dari sektor komoditas juga ikut tertekan.
2. Muncul kebijakan untuk menekan produksi.
Logikanya sederhana: kalau pasokan dikurangi, harga bisa lebih terjaga.
Di atas kertas masuk akal.
3. Masalah mulai muncul ketika kebutuhan dalam negeri tetap jalan.
PLN tetap butuh batu bara buat menghidupkan PLTU.
Listrik tetap harus nyala.
Pabrik tetap harus beroperasi.
Kebutuhan energi tidak ikut turun hanya karena produksi tambang dikurangi.
Di saat yang sama ada aturan DMO.
4. PLN mendapatkan batu bara dengan harga yang ditetapkan pemerintah dan jauh lebih murah dibanding harga pasar.
Nah di sinilah insentif mulai bertabrakan.
Dari sudut pandang pengusaha tambang, pilihan bisnisnya jadi cukup jelas.
Jual ke PLN dengan harga yang dibatasi.
Atau jual ke pasar dengan harga yang lebih tinggi.
Kalau selisihnya besar, dorongan untuk mengejar pasar jelas lebih kuat.
Akibatnya pasokan yang dibutuhkan PLN berpotensi makin ketat.
Kontrak makin sulit.
Cadangan makin tipis.
Risiko operasional mulai meningkat.
Dan ketika rantai ini terus berjalan, yang muncul di hilir bukan lagi isu batu bara.
Yang muncul adalah listrik padam.
Masyarakat cuma melihat lampu mati.
Padahal akar masalahnya bisa jadi berasal dari keputusan yang dibuat jauh di hulu.
Yang bikin gw agak kepikiran, keputusan soal kuota produksi, DMO, harga acuan, kontrak pasokan, semuanya terdengar sangat teknokratis.
Tapi efek akhirnya bisa sampai ke rumah rakyat.
Bisa sampai ke pabrik.
Bisa sampai ke UMKM.
Bisa sampai ke orang yang bahkan gak pernah baca berita energi sekalipun.
Kalau dugaan rantai masalah ini memang mendekati kenyataan, berarti yang sedang kita lihat bukan sekadar masalah PLN atau cuaca.
Ini contoh bagaimana satu kebijakan komoditas bisa menciptakan efek domino ke sektor energi.
Negara ingin harga komoditas terjaga.
PLN ingin pasokan aman.
Swasta ingin margin terbaik.
Masyarakat ingin listrik tetap nyala.
Masalahnya, empat tujuan itu tidak selalu berjalan searah.
Dan ketika salah satu bagian mulai bergeser, efeknya bisa merambat ke mana-mana.
Seperti biasa, yang paling jauh dari ruang rapat sering kali jadi yang paling dekat dengan dampaknya.