@tukalaksmi Dengan ini, saya ucapkan selamat malam pada seluruh khalayak di sini. Sebelum itu, izinkan saya kenalkan diri. Menoer Melati, singkatnya, panggil saja Melati.
Pun saya ucapkan mohon maaf jika raut rupa ini tampak tak ingin didekati. Lantaran sudah sedari pabriknya seperti ini.
ᅟ
Duka tercetak dari binar matanya ketika melihat 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 yang selama ini menemaninya hanya tersisa arang belaka. Suluh telah tiada. Ia adalah bayaran atas kebebasan yang diidam-idamkan. Suluh telah tiada. Ia adalah nyawa yang dibayar untuk kemenangan yang dijanjikan.
ᅟ
@tukalaksmi ᅟ
"Kau lupa, Benjamin." Inji La'as dengan susah payah bangkit. Nyeri terus menyerang tubuhnya, tapi ia seratus persen yakin bahwa kemenangan tak akan pernah membersamai keserakahan. "𝘼𝙠𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙉𝙚𝙧𝙖𝙠𝙖 𝙞𝙣𝙞."
ᅟ
ᅟ
𝘿𝙊𝙍! Hening yang terlalu ramai memecah atmosfer. Inji La'as masih berdiri. Namun, pedangnya terlepas dari genggamannya. Lututnya gemetar, ia terjatuh dengan nafasnya yang berat. Tangannya basah dan hangat ketika ia memegang bagian tulang rusuknya.
ᅟ
@DulahLaas ᅟ
"Sudah kubilang, La'as." Si Pembohong, 𝗕𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗔𝗺𝗮𝗿𝘂𝗱𝗱𝗶𝗻, tersenyum dengan pongahnya. "Aku ini orang baik. Aku tahu, kau tidak pernah merasakan rasanya jadi manusia, maka kuberikan engkau kesempatan. Tidakkah otak kecilmu itu mengerti?"
ᅟ
ᅟ
Kemudian ia turun menggunakan tangga yang bergelantungan, berlagak seakan dirinya adalah pahlawan. Saat kakinya menginjak tanah, pohon-pohon sawit seakan mati karena guncangannya. Lucu karena si Pembohong tampak percaya diri bahwa dia aman. "Bagaimana Inji?" tanyanya.
ᅟ
ᅟ
Suluh untuk pertama kalinya diam dalam hening. Tidak bergeming maupun berdenging. Diam serupa makhluk mati, seakan-akan selama ini dia memang tidak pernah diberi nyawa.
ᅟ