Dia berdiri di depan tenda, melihat ayahnya dibakar hidup-hidup, lalu berkata: “Ayahku sudah tiada dan aku ingin bersamanya.”
Jumlah rasa sakit dan traumanya tak terbayangkan💔🇵🇸
ALL EYES ON RAFAH #freePalestine
Si wartawan mewawancara pendemo kecurangan pemilu dianggap orang yg awam,gak taunya cadas, 👏👏👏ente boleh bilang gitu kalo sama pendemo sebelah mas,yg dukung😏
SIAPAPUN DIA
SALUT ATAS KEBERANIANNYA MENGATAKAN MITOS CINTA TANAH AIR DAN NASIONALISME PRABOWO ...
TERMASUK PRESTSI PRABOWO ‼️SIAPAPUN DIA
SALUT ATAS KEBERANIANNYA MENGATAKAN MITOS CINTA TANAH AIR DAN NASIONALISME PRABOWO ...
TERMASUK PRESTSI PRABOWO ‼️
Saya tidak lagi memimpin Tempo, sejak sekitar 10 tahun yg lalu.
Tg 6 Maret ini, Tempo berulang tahun ke-53. Yg paling saya syukuri: wartawan Tempo tetap tak hendak menerima “amplop”.
Berita dan opini Tempo bisa saja salah, tapi bukan berita dan opini yg dibimbing uang suap.
Bekerja di Tempo adalah latihan2 sederhana utk menjaga integritas.
Dlm jurnalisme dan dlm politik kini “wani-piro-isme” spt penyakit menular. Maka harus ada yg tetap sehat,
Kita butuh masyarakat yg hidup dgn saling mempercayai.