๐๐จ๐ก๐๐ ๐๐๐๐ง๐จ๐ฆ
Ketika Prabowo di sodorkan data survei โGlobal Flourishing Studyโ oleh si Pembisik Kanannya, saya membayangkan terjadinya dialog semacam ini,
"Ini apa bacanya?" tanya Prabowo sambil menunjuk kata Flourishing dengan ujung kacamata yg gagangnya berlapis emas.
Saya yakin Prabowo tidak benar-benar ingin membaca isinya, baginya angka-angka yg dipenuhi โkomaโ dan โ%โ itu seperti ranjau darat, salah injak sedikit, sakit kepala seharian.
Prabowo hanya butuh ringkasan eksekutif sepanjang satu kalimat.
Si Pembisik Kanan, seorang pria yg kariernya dibangun di atas pondasi 'Asal Bapak Senang', menelan ludah.
Ia tahu flourishing itu konsep yg rumit. Itu tentang kebermaknaan hidup, stabilitas keuangan, kesehatan mental, dan hubungan sosial. Itu tentang rakyat yang tetap tegak meski badai menghantam.
Tapi menjelaskan itu semua butuh waktu lima belas menit, dan konsentrasi Presiden biasanya habis di menit kedua.
"Anu, Pak," kata Si Pembisik dengan senyum yg dipaksakan. "Flourishing itu dari kata flower. Bunga, Pak. Mekar."
"Lantas?" alis Prabowo naik sebelah.
"Kalau bunga mekar, tandanya apa, Pak..? Pasti Indah, kan pak ? Berseri-seri, kan pak ?", Si Pembisik memutar otak, mencari jalan pintas logika.
Ia menambahi, "Intinya rakyat kita ini sedang berbunga-bunga, Pak. Hati mereka gembira. Happy!"
Wajah Prabowo seketika cerah, secerah lampu sorot podium. "Jadi, rakyat kita paling bahagia sedunia..? Bukan sekadar bertahan hidup, tapi benar-benar bahagia..?, begitu kah..?"
"Persis, Pak..!! Data ini bilang kita juara satu. Juara dunia dalam hal cengar-cengir!" Si Pembisik menambahkan bumbu penyedap, mengabaikan fakta bahwa flourishing sering kali berarti "berkembang walau menderita", bukan "tertawa terbahak-bahak di pinggir jalan".
Tanpa menyentuh halaman kedua, Sang Presiden langsung berdiri tegak, merapikan dasi, dan melangkah mantap menuju podium konferensi pers.
Di depan ribuan kamera, dengan suara bariton yang bergetar penuh wibawa, Prabowo berseru, "Survei Dunia telah mengakui, bahwa negara yg rakyatnya paling bahagia di dunia adalah bangsa Indonesia..!!!", maka tepung tangan bergemuruh dari para menteri dan pejabat istana lainnya.
Para jurnalis saling pandang. Rakyat yg menonton di warung kopi hanya bisa garuk-garuk kepala sambil menghitung sisa uang receh.
Sementara itu, di ruang kerja yg dingin, dokumen Global Flourishing Study itu masih tertutup rapat. Tak ada yang tahu bahwa di dalamnya, data itu sebenarnya sedang menjerit, mencoba memberitahu bahwa bunga yg dimaksud adalah BUNGA KAKTUS, bunga yg tumbuh berduri, kering, dan bertahan hidup semata-mata karena memang tak punya pilihan lain selain tetap tegak.
@david_enzoAmore@_ID_corp@Piyusaja2@pandji Ya udh sih pak, bpk aja ikut menyebarluaskan inti mens rea, dimana susahnya. Yg penting gerak dulu, masak dr skian byk orang yg dpt pencerahan dr bpk ga ada 2 pun yg tercerahkan. Drpd diem apa malah menghujat Pandji, untungnya apa?
@baseconvo Hidup buat ngumpulin bekal mati. Jomblo bukan berarti kesepian. Sampaipun sepi, slama ada HP ada sinyal/kuota pasti ga kesepian. Tekuni hobi. Dan slalu berbaik sangka pd Allah.