Kelak untuk tetap bisa bekerja, orang orang ini harus terus memenangkan Prabowo-Gibram ditahun 2029
Lalu demi mereka & pekerjaan mereka. Sekolah, taman baca masyarakat, TK, PAUD dan fasilitas publik lainnya milik desa harus dirobohkan.
ternyata beda umur beda sudut pandang. dulu sebel kenapa farel milih luna, padahal ya pantes lagian rambut rachel kayak orang²an roblox😭 (bukan ya guys bukan itu)
1. orang yg terkena penyakit sirosis ga mungkin tetep cantik kayak luna
2. kokopan kena darahnya jirr???? kan luna sakit??
3. rachel ngapain trail run? pdhl tinggal tunggu aja luna meninggoy terus perjuangin farel lagi, ngapain bingung? dasar cewe bingung.
4. rachel masih bisa hidup lebih lama, masih sadar, kok dg mudahnya minta donorin hati ke luna? itu sm aja dokternya ngelakuin pembun*uhan ga sih?
5. yg didonorin hati tapi kenapa judulnya "Heart"?? harusnya judulnya "Liver" awowkwokw
guys kalian tau gk nih...
anies baswedan mengaku pernah di panggil 19x KPK
sekali lagi 19x dipanggil oleh KPK
dan datang cuma sendirian doang
tapi tidak ada 1 pun mengindikasi beliau
ada korupsi atau penyelewangan
rahasia dari beliau :
- tau aturannya , jadi gk bisa di kibulin
- selalu dokumentasi kan atau catat setiap kebijakan
- doa ibu dan istri
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Fun fact
Inti dari kasus Nadiem adalah jaksa menganggap pengadaan Chromebook terlalu mahal dan tidak diperlukan
Padahal kalau kita bandingkan dengan IKN dan MBG
Chromebook vs MBG
• Kerugian kasus Chromebook 2,1 T (total)
• Pengeluaran untuk MBG 1,2 T/hari
Chromebook vs IKN
• 97% Chromebook udah digunakan pelajar
• IKN malah jadi tempat piknik keluarga bukan jadi ibu kota
gue bukan type orang yang suka minta tolong karena gue ngerasa gue dilahirkan untuk menjadi perempuan gacor dan mantap yang bisa nge handle semua hal yang ada di dunia ini sendirian.
jadi kalau sampe gue minta tolong, GUE BENERAN BUTUH DI TOLONGGG
apalagi kalau udah ngeluarin kalimat “doain gue ya” itu berarti gue udah ada di titik terendah hidup gue
Orang yang dasarnya emang baik, tapi temen deketnya dikit, biasanya punya vibe kayak gini...
1. Sering banget ngasih ke orang lain, tapi jarang ngerasa bener-bener dapet balik yang setara.
Mereka selalu ada, penuh empati dan support, tapi...
Klo buat mereka tuh uangnya tbtb ada gitu yaaaaaaaaa
Tapi klo buat guru? nakes? 🫣
Maksudnya tuh klo buat mereka bisa diadakan, kenapa ga sekalian jg mengadakan untuk guru dari kemaren2?
Berarti sebenarnya guru bisa sejahtera dong yaa klo diadakan uangnya? Ya ga siiiiii????
Gue termasuk orang yang jarang cuti. Pernah sekali mau cuti 2 hari karena mau menghadiri proses Ngaben om di Bali, sudah ngajuin cuti seminggu sebelumnya dan ditolak.
Bodo amat nekat berangkat ke Bali. Pas proses ngaben seharian full, orang kantor telpon ga ku angkat. Pas masuk kantor, si bos ngomel. Hari itu juga gue ngajuin resign.
Puji syukur, ga lama dapat perusahaan & gaji yang lebih baik. Astungkara.
Gw punya temen yang kerja di perusahaan yang sama udah 4 tahun.
Gajinya oke. Bossnya gak nyebelin. Kerjanya gak lembur gila gilaan. Temen kantornya enak diajak ngobrol. Basically semua orang bilang lo udah dapat yang bagus, jangan kemana mana.
Dan dia percaya itu. Bertahan. Setia.
Sampai suatu hari dia iseng iseng apply ke perusahaan lain. Bukan karena gak betah. Tapi penasaran aja katanya.
Dan dia keterima. Dengan gaji 35 persen lebih tinggi dari yang sekarang.
Dia bingung. Dia tanya ke gw worth it gak pindah?
Gw balik tanya emang sekarang lo digaji berapa?
Dia bilang angkanya. Dan gw langsung paham kenapa dia bingung.
Karena 35 persen dari gajinya sekarang itu angka yang gak kecil. Itu beda yang kerasa nyata tiap bulan. Beda yang bisa nutup cicilan, beda yang bisa nambahin tabungan, beda yang bisa bikin nafas lebih lega di tanggal tua.
Tapi dia masih ragu. Karena nyamannya di tempat lama itu nyata. Dia udah kenal sistemnya. Udah kenal orangnya. Udah tau cara mainnya.
Pindah artinya mulai dari nol lagi. Buktiin diri lagi. Adaptasi lagi.
Gw tanya satu pertanyaan terakhir ke dia.
'Kalau lo tetap di sini sampai 2 tahun lagi lo ngerasa bakal berkembang gak? Atau lo bakal jalan di tempat yang sama dengan posisi yang sama?'
Dia diem lama banget.
Dan dari diamnya itu gw tau jawabannya.
Dia pindah. Dan tiga bulan pertama emang berat. Adaptasi, buktiin diri, kenalan sama orang baru semua dari awal.
Tapi sekarang dia bilang satu hal yang gw inget sampai sekarang, Gw nyesel kenapa gak pindah dari dua tahun lalu.
Bukan karena gajinya. Tapi karena ternyata di luar sana dia bisa tumbuh jauh lebih cepat dari yang dia kira.
Kenyamanan itu memang enak. Tapi kadang kenyamanan itu yang diam diam nahan lo di tempat yang sama selama bertahun tahun tanpa lo sadar
@SeputarTetangga Punya mertuaku rutin tak bayar tiap bln, tbtb feb tagihan udh lunas, aku pikir dbyar sdra lain. Jd tak bayar aja bln selanjutnya (maret) dan berhasil. Waktu cek di mobile jkn, tbtb jdi PBI. Konsepnya gmn? PBI sebulan? Pdhal ttp mandiri gpp bgt. Lg cari info cara balik mandiri lg