Pak Tarno mengangguk mantap, merasakan semangat yang membara di dalam dirinya. "Aku akan melakukannya, Mbah. Aku tidak akan membiarkan keluargaku terancam lagi," ucap Pak Tarno sambil berdiri dengan mantap, siap untuk menghadapi tantangan yang menunggu di luar sana.
Pak Tarno menatap penuh harap ke arah Mbah Sarno yang duduk dengan tenang di ruang kecil yang dipenuhi oleh aroma harum rempah-rempah. "Terima kasih, Mbah, atas segala bantuannya," ucap Pak Tarno dengan suara yang penuh rasa terima kasih namun juga tekad yang teguh.
Pak Tarno menatap batang daun kelor itu dengan penuh keyakinan yang tumbuh di dalam dirinya. "Aku akan melakukannya, Mbah. Terima kasih atas bantuan dan perlindunganmu," ucap Pak Tarno sambil memegang erat batang daun kelor yang menjadi simbol harapan dan perlindungan baginya.
Mbah Sarno menerima kain kafan itu dengan penuh perhatian, matanya yang bijak meneliti setiap serat kain yang terjalin. Setelah beberapa saat yang terasa seperti abadi, Mbah Sarno akhirnya mengangguk pelan sambil menatap tajam ke arah Pak Tarno.
Di tangannya, ia memegang kain kafan misterius yang ditemukannya. Setiap langkah yang diambilnya terasa terhenti oleh beban pikiran yang semakin membebani bahu kecilnya. Ketika akhirnya ia tiba di depan rumah Mbah Sarno, Pak Tarno menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu.
Dia tahu bahwa ada sesuatu yang harus diungkap di balik kehadiran kain kafan itu, sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Langit senja menyambut langkah Pak Tarno yang berat menuju rumah Mbah Sarno.