@Bimbim4125@sydneyzw Yang menitik itu kan penjual,bukan pembeli. Pembeli hanya kasih alamat lengkap. Karena kejadian disaya. Sering titiknya beda di Dua nomore yg sama tapi rw nya beda. Kalau nggak nyasar di saya, atau nyasardi rw yg satunya. Karena nama jalannya sama persis diruasyg sama beda rw
@ardisatriawan Oh Jatim adalah propinsi yang paling siap menjadi negara sendiri. Angkatan udara, laut Dan daratnya lengkap. Tempat parkir pesawat Tempur, pabrik senjata, Dan gudang senjata. Ada perusahaan tambang, minyak, emas, pembuat Mobil, kereta API, kapal laut. Pabrik kebthan pokok lengkap
@ardisatriawan Kabupaten Malang tinggalnya, untuk sekolah, rumah sakit dll lengkap di kota Dan kab malang... Ada bandara, kalau mau ke sby hanya 1 jam. Malang Salah satu tempat terbesar orang yg kerja remot Dr seluruh Dunia. Sekolah untuk anak, juga banyak yang sudah mendunia.
“Setiap pagi aku mengantarnya berangkat. Setiap malam aku menunggunya pulang. Aku bekerja agar dia bisa kuliah, bisa meraih masa depan yang lebih baik daripada ayahnya. Tapi hari ini, justru aku yang harus berdiri menanggung malu karena pilihan hidup anakku sendiri.”
Lelaki itu datang ke kampus dengan pakaian kerja dan ransel yang masih tergantung di punggungnya. Mungkin ia mengira hanya ada persoalan biasa yang perlu diselesaikan. Namun sesampainya di sana, dunia yang selama ini ia bangun untuk anaknya seakan runtuh dalam sekejap.
Ia mendapat kabar bahwa putranya, seorang mahasiswa PNJ, dipergoki mahasiswa lain sedang berciuman dengan pasangan sesama jenisnya di area kampus, dekat perpustakaan. Peristiwa itu memicu kemarahan dan menjadi perhatian banyak orang.
Di hadapan mahasiswa, dosen, dan kamera-kamera yang merekam setiap detik kejadian, seorang ayah mendadak kehilangan pijakan.
Bukan karena lelah mencari nafkah.
Bukan karena beratnya pekerjaan.
Tetapi karena kenyataan yang baru saja menghantam hatinya jauh lebih berat daripada semua beban yang pernah ia pikul selama hidup.
Anak yang selama ini ia antar, ia didik, ia banggakan, dan ia perjuangkan pendidikannya dengan keringat serta pengorbanan, tiba-tiba menjadi sumber luka yang tak pernah terlintas dalam bayangannya.
Wajahnya tertunduk.
Air matanya jatuh.
Harga dirinya seakan tercerai-berai di hadapan banyak orang.
Lalu ia bersujud dan meminta maaf.
Seorang ayah yang mungkin tidak tahu apa-apa tentang perbuatan anaknya, tetapi tetap merasa harus menanggung beban moral dari semua yang terjadi.
Kadang yang paling menyakitkan bagi orang tua bukanlah kemiskinan.
Bukan pula sakit badan.
Melainkan ketika mereka merasa telah berusaha memberikan yang terbaik, namun melihat anak yang dicintai justru berjalan ke arah yang tidak pernah mereka harapkan.
Mungkin malam itu ia pulang dengan langkah yang lebih berat daripada biasanya.
Memikirkan apa yang harus ia katakan kepada istrinya.
Memikirkan di mana letak kesalahannya sebagai ayah.
Memikirkan doa-doa yang selama ini dipanjatkan.
Dan memikirkan masa depan anak yang tetap ia cintai, meskipun hatinya sedang hancur.
Menjadi orang tua di zaman ini memang tidak mudah.
Karena yang kita hadapi bukan hanya persoalan ekonomi atau pendidikan, tetapi juga berbagai pengaruh yang datang tanpa henti dari lingkungan, pergaulan, dan media yang setiap hari membentuk cara berpikir anak-anak kita.
Semoga Allah menjaga anak-anak kita saat mereka berada jauh dari pandangan kita.
Semoga Allah menguatkan para ayah dan ibu yang diam-diam memikul beban besar di dalam dadanya.
Dan semoga Allah menjadikan anak-anak kita penyejuk mata, pembawa kebanggaan dunia dan akhirat.
Sebab tidak ada air mata yang lebih berat bagi seorang ayah, selain menyaksikan anak yang selama ini diperjuangkannya dengan seluruh hidup, justru menjadi alasan mengapa dadanya terasa sesak untuk bernapas.
Alfaqir
UHF
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Guys, lu pada tahu enggak ada yang baru terjadi di Indonesia yang menurut gue gila banget?
Bukan soal rupiah.
Bukan soal korupsi triliunan.
Bukan soal pejabat mewah.
Ini soal Josepha Alexandra siswi SMAN 1 Pontianak
yang viral beberapa waktu yang lalu
ada cerita dari keluarga
beberapa waktu setalah pulang dari lomba itu
banyak nomor asing masuk ke WhatsApp-nya.
Pesannya begini:
"Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG, jika tidak kami akan layangkan somasi."
Seseorang atau sekelompok orang yang tidak mau diketahui identitasnya, mengancam anak SMA lewat WhatsApp. Minta dia hapus video. Ancam somasi.
Siswi SMA.
Diancam somasi.
Karena mempertanyakan ketidakadilan di lomba cerdas cermat.
Dan ini yang paling menyayat hati dari seluruh kejadian ini:
Josepha stres berat.
Hari-hari tidur terus.
Pendiam.
Berubah drastis.
Dan di tengah semua tekanan itu dia bertanya kepada kakaknya:
"Kak, apa aku harus minta maaf?
Katanya aku yang bikin gaduh..."
Baca itu sekali lagi.
Anak yang diperlakukan tidak adil yang diancam lewat WhatsApp oleh pihak tak dikenal malah bertanya apakah dia yang harus minta maaf.
Karena sistem berhasil membuatnya merasa bahwa dia yang salah.
Bahwa dia yang bikin masalah.
Bahwa keberaniannya mempertanyakan ketidakadilan adalah sebuah kesalahan yang perlu dimintakan maaf.
Dan sementara Josepha stres di rumah apa yang dilakukan juri yang kontroversial itu?
Status WhatsApp-nya bocor ke publik.
Isinya: "Nggak akan bikin gue jatuh!"
Orang yang keputusannya dipermasalahkan pamer kekayaan di status WhatsApp.
Sementara anak yang mempertanyakannya stres dan tidur terus di rumah.
Ini bukan soal menang kalah lomba:
Ini soal apa yang terjadi ketika seorang anak muda Indonesia berani bersuara.
Josepha tidak melakukan apa-apa yang salah.
Dia mempertanyakan keputusan yang tidak konsisten.
Itu bukan bikin gaduh.
Itu adalah hak dasar setiap peserta dalam kompetisi apapun di seluruh dunia.
Tapi di sini itu direspons dengan ancaman.
Dengan intimidasi.
Dengan pesan WhatsApp dari nomor asing yang memintanya diam.
Dan pertanyaan yang belum dijawab sampai sekarang:
Siapa yang mengirim pesan ancaman itu?
Dari nomor asing.
Mengatasnamakan siapa?
Dengan kewenangan apa untuk melayangkan somasi?
Kalau memang tidak ada yang salah dalam lomba itu kenapa harus ada ancaman?
Kenapa video harus dihapus?
Kenapa tidak cukup dengan klarifikasi terbuka?
Yang minta video dihapus adalah orang yang takut video itu terus ditonton.
Yang takut kebenaran terus beredar.
Josepha hafal konstitusi sampai tidur komat-kamit. Dia mempelajari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dengan serius dan penuh dedikasi.
Dan pengalaman pertamanya mempraktikkan nilai-nilai itu di hadapan lembaga negara adalah ini: ancaman WhatsApp dari nomor tak dikenal.
Tekanan untuk diam.
Pertanyaan di dalam hatinya apakah dia yang harus minta maaf.
Kalau anak sekecil Josepha saja sudah diajarkan bahwa kejujuran itu berbahaya kita tidak perlu heran kenapa generasi berikutnya memilih untuk tidak peduli.
Kita yang mengajarkan mereka untuk tidak peduli. Dengan cara seperti ini.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan berita https://t.co/NzjIn3zG4K 16 Mei 2026. Kasus masih dalam proses penanganan MPR RI. Identitas oknum yang melakukan intimidasi belum diungkap resmi.
Capek bgt jd newmom liat anak lg aktif” nya lari sana lari sini panjat sana panjat sini🥲
Lalu berpikir keras “oyaudah beliin papan panjat aja” biar perkembangan motorik nya jd lebih bagus👏🏻
Guys, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa baru melakukan sesuatu yang sangat jarang terjadi di birokrasi Indonesia dan menurut gua ini perlu dibahas dengan sangat serius.
Dia mencopot dua pejabat tinggi Kemenkeu hari ini.
Dan alasannya bukan korupsi yang tertangkap KPK. Bukan OTT.
Bukan skandal yang viral di media sosial.
Mereka dicopot karena memberikan data yang salah kepada menterinya sendiri.
Kronologinya perlu dipahami dengan jelas supaya kita bisa menilai seberapa serius masalah ini.
Tahun lalu Purbaya menanyakan langsung kepada jajarannya berapa potensi restitusi pajak yang akan keluar?
Restitusi pajak adalah pengembalian uang kepada wajib pajak yang terbukti lebih bayar.
Stafnya menjawab nilainya sedikit.
Tidak ada yang mengangkat tangan dan bilang Pak ini sebenarnya besar.
Di akhir tahun realisasinya keluar Rp361,15 triliun. Naik 35,9 persen dari tahun sebelumnya.
Berkali-kali lipat dari yang dilaporkan stafnya.
Dan yang paling mengkhawatirkan adalah satu detail yang Purbaya ungkap secara terbuka restitusi PPN ke industri batu bara saja membengkak Rp25 triliun secara neto.
Artinya negara membayar Rp25 triliun ke perusahaan batu bara untuk pengembalian pajak yang menurut Purbaya hitungannya tidak benar.
Ini adalah masalah yang jauh lebih dalam dari sekadar salah lapor.
Restitusi pajak adalah mekanisme yang sangat rawan dimanipulasi.
Cara kerjanya adalah wajib pajak mengklaim bahwa mereka sudah membayar pajak lebih dari yang seharusnya dan meminta pengembalian dari negara.
Dalam kondisi normal ini adalah mekanisme yang adil dan perlu. Tapi dalam kondisi di mana pengawasan lemah dan data tidak akurat ini bisa menjadi celah untuk menguras kas negara secara sistematis.
Ketika Purbaya bilang ada yang tidak benar di hitungannya itu bukan kalimat ringan.
Itu adalah indikasi bahwa ada kemungkinan restitusi yang seharusnya tidak dibayarkan tapi tetap dibayarkan.
Atau restitusi yang nilainya dikembungkan.
Dan itu artinya uang negara keluar ke kantong yang tidak seharusnya.
Rp25 triliun neto ke industri batu bara saja. Bayangkan skala kerusakannya kalau ini terjadi di banyak sektor sekaligus.
Purbaya sekarang mengambil tiga langkah serius secara bersamaan.
Pertama investigasi internal terhadap lima pejabat paling tinggi yang mengeluarkan restitusi.
Dua sudah dicopot hari ini.
Tiga masih dalam proses investigasi.
Kedua audit eksternal oleh BPKP untuk seluruh restitusi periode 2016 sampai 2025.
Sepuluh tahun. Itu bukan audit kecil-kecilan.
Itu adalah pembongkaran menyeluruh terhadap satu dekade pengelolaan restitusi pajak.
Ketiga penghentian sementara restitusi yang bermasalah sambil menunggu hasil investigasi dan audit selesai.
Sekarang pertanyaan yang paling penting dan paling sering tidak dijawab secara jujur.
Apakah ini bisa terjadi di kementerian lain?
Jawaban yang jujur adalah hampir pasti ya.
Kemenkeu adalah kementerian yang secara historis punya sistem pengawasan internal paling kuat di antara semua kementerian Indonesia.
Mereka punya inspektorat jenderal yang besar.
Mereka punya tradisi reformasi birokrasi sejak era Sri Mulyani.
Dan bahkan dengan semua itu dua pejabat tingginya bisa memberikan data yang salah kepada menteri selama setahun penuh tanpa ketahuan sampai menterinya sendiri yang mencium ketidakberesan di akhir tahun.
Kalau Kemenkeu yang sistemnya relatif paling ketat pun bisa kecolongan Rp25 triliun bayangkan apa yang mungkin terjadi di kementerian lain yang sistem pengawasan internalnya jauh lebih lemah.
Bayangkan apa yang mungkin terjadi di kementerian dengan anggaran besar tapi kultur akuntabilitasnya tidak sekuat Kemenkeu.
Kementerian infrastruktur.
Kementerian kesehatan.
Kementerian sosial. Semua punya anggaran raksasa dan semua bergantung pada data yang dilaporkan oleh jajaran di bawahnya.
Inilah yang disebut agency problem dalam teori manajemen publik ketika orang yang seharusnya melaporkan informasi akurat kepada atasannya justru punya insentif untuk memanipulasi atau menyembunyikan informasi tersebut.
Dan di birokrasi Indonesia insentif untuk memanipulasi data itu sangat besar karena konsekuensi tertangkapnya sangat kecil dibanding keuntungan yang bisa didapat.
Dan ada satu konteks yang membuat berita ini terasa jauh lebih berat dari yang terlihat di permukaan.
Ini terjadi di tengah kondisi APBN yang sudah sangat tertekan. Subsidi energi sudah jebol 266 persen dari target dalam tiga bulan.
Rupiah di Rp17.320 level terlemah sepanjang sejarah.
Penerimaan pajak yang menjadi tulang punggung APBN sedang ditekan kondisi ekonomi yang melambat. Dan di saat yang sama Rp25 triliun neto keluar dari kas negara ke industri batu bara dengan hitungan yang menurut Menkeu sendiri tidak benar.
Itu bukan angka kecil.
Rp25 triliun adalah lebih dari separuh anggaran Kementerian Pendidikan untuk satu tahun penuh dalam beberapa tahun terakhir. Itu adalah puluhan ribu kilometer jalan desa yang bisa dibangun. Itu adalah ratusan puskesmas yang bisa dioperasikan.
tindakan Purbaya mencopot dua pejabat dan membuka audit sepuluh tahun adalah langkah yang benar dan harus didukung.
Keberanian mengakui bahwa ada yang salah di dalam institusinya sendiri adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi di kalangan pejabat Indonesia yang umumnya lebih memilih menutup masalah daripada mengeksposnya.
Tapi satu tindakan tegas di satu kementerian tidak cukup untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar seberapa luas praktik serupa terjadi di seluruh sistem birokrasi Indonesia?
Dan siapa yang punya keberanian dan kapasitas untuk membuka semuanya?
Guys, ada sesuatu yang sangat ironis yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di Indonesia.
1 Mei — Hari Buruh.
Prabowo hadir di Monas.
Berdiri di panggung bersama puluhan ribu buruh. Bernyanyi.
Berpidato.
Mengumumkan cicilan KPR 40 tahun dan potongan ojol 8%. Kaos 200 ribu lembar dibagikan. Sangat meriah.
2 Mei — Hari Pendidikan Nasional.
Prabowo rapat tertutup di Hambalang.
Tidak ada seremoni khusus.
Tidak ada pidato untuk guru dan siswa.
Tidak ada satu pun agenda yang secara khusus merayakan atau memperingati Hardiknas.
Bukan kebetulan ini adalah pilihan.
Ketika seorang presiden memilih hadir secara dramatis di Hari Buruh dengan panggung besar dan ribuan orang tapi memilih rapat tertutup di rumah pribadi pada Hari Pendidikan Nasional itu bukan soal jadwal yang padat.
Itu adalah pernyataan tentang apa yang dianggap lebih penting secara politik.
Buruh hadir secara fisik dan bisa dimobilisasi.
Guru honorer yang gajinya Rp300 ribu per bulan tidak membawa massa ke Monas.
Anak-anak di sekolah rusak tidak bisa berteriak di depan istana.
Siswa disabilitas yang dibuang sistem tidak punya organisasi yang bisa mengancam stabilitas politik.
Makanya satu dirayakan dengan meriah.
Yang satu dilewati dengan rapat tertutup di Hambalang.
Dan ini bukan pertama kali Hambalang dijadikan tempat rapat kabinet:
8 Maret 2026 — lima rapat dalam satu hari di Hambalang. Membahas pendidikan, geopolitik Timur Tengah, mudik Lebaran.
2 Mei 2026 — rapat tertutup lagi di Hambalang. Membahas aspirasi buruh dan perguruan tinggi.
Pola ini konsisten.
Dan setiap kali hasil rapatnya dirilis isinya selalu berakhir dengan kalimat yang sama:
"Pemerintah terus berkomitmen untuk menghadirkan kebijakan yang melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia."
Tanpa angka.
Tanpa target.
Tanpa timeline.
Tanpa akuntabilitas.
Sementara di luar Hambalang kondisi pendidikan Indonesia hari ini:
Guru honorer masih ada yang menerima gaji Rp150-300 ribu per bulan. Ratusan ribu ruang kelas kondisinya rusak sedang hingga berat. Anak disabilitas masih bisa dikeluarkan sekolah secara diam-diam dan tidak ada yang menindak.
Perguruan tinggi terbaik masih terkonsentrasi di Jawa. Angka putus kuliah karena faktor ekonomi masih sangat tinggi.
Dan pada Hari Pendidikan Nasional 2026 solusi yang ditawarkan adalah: manfaatkan fakultas teknik perguruan tinggi untuk membangun daerah.
Bukan ide buruk.
Tapi itu bukan jawaban atas masalah struktural yang sudah puluhan tahun tidak selesai.
Ki Hajar Dewantara pasti sangat sedih:
Hardiknas ditetapkan untuk mengenang beliau — yang percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap anak Indonesia tanpa kecuali.
Yang berjuang agar anak-anak pribumi bisa mengakses pendidikan yang bermartabat.
Yang mendirikan Taman Siswa karena sistem yang ada tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Dan di hari yang didedikasikan untuk mengenang perjuangannya presiden rapat tertutup di rumah pribadi.
Tanpa satu pun momen yang secara khusus menyapa guru, siswa, atau orang tua yang berjuang keras menyekolahkan anaknya.
"Ing ngarsa sung tulada."
Di depan memberi teladan.
Teladan seperti apa yang diberikan ketika Hari Buruh dirayakan dengan meriah tapi Hari Pendidikan Nasional dilewati tanpa pesan khusus untuk anak-anak Indonesia?
Indonesia merayakan Hari Buruh dengan kaos, panggung, dan janji-janji besar.
Dan keesokan harinya Hari Pendidikan Nasional dilewati dengan rapat tertutup di kediaman pribadi presiden yang hasilnya hanya satu paragraf rilis.
Bukan salah buruhnya.
Mereka memang harus diperjuangkan.
Tapi kalau energi, perhatian, dan kehadiran fisik presiden hanya muncul ketika ada massa yang bisa dimobilisasi dan tidak hadir ketika yang membutuhkan perhatian adalah guru honorer yang tidak punya serikat besar dan siswa yang tidak bisa berteriak di depan istana maka yang terjadi bukan keberpihakan.
Itu politik.
Dan politik yang mengorbankan pendidikan demi popularitas jangka pendek adalah utang yang akan dibayar oleh generasi berikutnya bukan oleh kita yang sekarang.
@Hilmi28 Mungkin nggak mati ustadz, tapi sakit parah yg Sudah nggak bisa ngasih instruksi apa2. Mangkanya nggal segera diumumin mati nya... Karena memang masih hidup