Banyak yang bilang Argentina kalah karena kebobolan di extra time. Buat saya, akar masalahnya justru dimulai jauh sebelum gol Ferran Torres: cedera Lisandro Martínez dan Cuti Romero.
Selama Piala Dunia, Argentina hampir selalu memainkan pola yang sama. Mereka tidak terburu-buru mengejar dominasi sejak menit pertama. Fokusnya lebih ke mengontrol ritme, membiarkan lawan menguras energi, lalu mengambil alih pertandingan ketika intensitas mulai turun.
Di situlah peran pemain seperti Lautaro Martínez dan Nico González sangat penting. Mereka bukan sekadar pemain pengganti, melainkan bagian dari skenario yang memang disiapkan Scaloni untuk mengubah wajah pertandingan di babak akhir.
Masalahnya, dua cedera di jantung pertahanan memaksa Scaloni mengorbankan rencana tersebut. Slot pergantian yang seharusnya dipakai untuk menambah daya gedor justru habis demi menjaga keseimbangan lini belakang. Akibatnya Argentina kehilangan senjata terbaiknya untuk membalikkan momentum.
Ketika Romero ikut ditarik keluar dan Enzo Fernández menerima kartu merah, pilihan Argentina praktis tinggal bertahan dan berharap pertandingan berakhir lewat adu penalti. Dengan kualitas Emi Martínez, itu masih merupakan perjudian yang masuk akal.
Di sisi lain, Spanyol membaca situasi dengan sangat baik. Rodri menguasai tempo permainan, sementara Luis de la Fuente langsung menyerang area yang melemah setelah absennya Romero. Pergantian Nico Williams membuat sisi kanan Argentina terus berada di bawah tekanan hingga akhirnya Ferran Torres menemukan momen penentu.
Spanyol layak menjadi juara. Namun kalau ditanya kapan arah pertandingan benar-benar berubah, saya akan menunjuk dua momen itu: cedera Lisandro Martínez dan Cuti Romero. Sejak saat itu, Argentina tidak lagi memainkan final sesuai rencana mereka.
Sebagai fans Manchester United, gue jujur cukup iri sama Barcelona dengan La Masia mereka.
Lo liat aja skuad Spanyol di Piala Dunia 2026.
Lamine Yamal.
Pau Cubarsí.
Dani Olmo.
Marc Cucurella.
Empat pemain itu dibentuk di akademi Barcelona, dan semuanya menjadi starter penting bagi Spanyol dalam perjalanan mereka menjadi juara dunia.
Belum lagi ngomongin Gavi yang juga lulusan La Masia. Di 2010, tulang punggung skuad juara Spanyol juga banyak yang merupakan hasil didikan La Masia:
Puyol, Pique, Busquets, Xavi, Iniesta, Pedro, Fabregas.
Dan sekarang, 16 tahun kemudian, La Masia kembali jadi bagian penting dari generasi Spanyol yang memenangkan Piala Dunia.
Kadang heran gimana Barcelona bisa produce pemain-pemain bagus untuk jadi tulang punggung sebuah negara juara Piala Dunia. Jujur, ada iri-irinya dikit. Kadang gue bertanya-tanya juga, La Masia ini punya secret recipe apa ya dalam ngegembleng anak-anaknya?
Apa mereka punya metode dan cara mendidik yang berbeda kah dari akademi lain? Karena gimana ceritanya bisa konsisten melahirkan talenta semacam ini dari generasi ke generasi?
#FeelEveryGoal | @toshibatv_id
🚨 Zlatan Ibrahimović on Lionel Messi not winning the World Cup Golden Ball:
🗣️: “What else did Messi have to do to win it? I genuinely don’t understand the criteria anymore. If you look back at 2018, Luka Modrić won the Golden Ball without winning the World Cup. So what changed now?
“Messi carried Argentina throughout the tournament, delivered when it mattered most, and was once again the player everyone feared. If that wasn’t enough, then tell me what is.
“It feels like the standards are always different when it comes to Messi. Every other player gets judged one way, but with him, people suddenly move the goalposts. It’s always against Messi.
“I’m happy for Rodri, but from a football perspective, I don’t think anyone had a stronger case than Messi.”
🇦🇷 Argentina di bawah asuhan Lionel Scaloni:
🏃 104 Laga
✅ 76 Menang (79%!)
🤝 18 Seri
❌ 10 Kalah
⚽️ 217 Gol
🥅 57 Kebobolan
🏆 Piala Dunia 2022
🏆 Copa América 2021, 2024
🏆 Finalissima 2022
🥈 Runner-Up Piala Dunia 2026
GRACIAS, SCALONI. 👏😭💔
Waktunya nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola.
Di MetLife Stadium, New Jersey, Messi jalan pelan menuju podium runner up. Bahunya sedikit membungkuk, matanya berkaca kaca saat medali perak digantung di lehernya.
Spanyol baru saja menang 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Argentina gagal pertahankan gelar. Tapi bagi jutaan orang yang nonton, malam itu bukan tentang kekalahan. Malam itu adalah tentang akhir sebuah era.
Messi berusia 39 tahun. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, langkahnya nggak secepat dulu, tapi matanya masih sama. Penuh api, penuh cinta untuk sepakbola. Sepanjang turnamen cetak delapan gol, kasih assist krusial, dan bawa Argentina yang sempat terseok hingga final. Messi main kayak umur 29 tahun, bukan 39. Tapi usia nggak pernah bohong. Tubuhnya lelah, dan sepak bola tak lagi beri ruang untuk keajaiban selamanya.
Kita ingat Qatar 2022. Malam itu Messi mengangkat trofi yang selama 36 tahun tak pernah diraih Argentina. Air mata bahagia mengalir deras.
“Saya sudah lengkap,” katanya saat itu.
Tapi Tuhan memberinya satu babak lagi. Satu kesempatan terakhir untuk menari di panggung terbesar. "The Last Tango", begitu ia tulis di postingan sebelum final. Tango terakhir. Dan meski berakhir dengan nada sedih, tango itu tetap indah kok.
Bayangkan seorang anak kecil dari Rosario yang dulu menderita kekurangan hormon pertumbuhan, kini berdiri di final Piala Dunia untuk ketiga kalinya.
Lihat wajah para pemain Spanyol saat membuat guard of honour. Ada rasa hormat di mata mereka. Mereka tahu, mereka baru saja mengalahkan legenda hidup, panutan mereka sendiri.
Nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola. Mungkin beberapa bulan lagi di Inter Miami, mungkin satu atau dua pertandingan persahabatan terakhir dengan Argentina. Lalu lampu stadion akan padam untuknya. Nggak ada lagi momen ankara messi yang bikin bek lawan mati kutu. Nggak ada lagi senyuman malu malu saat ia mengangkat trofi.
Yang tersisa adalah warisan yang nggak bisa dihapus. Bukan hanya rekor gol, assist, atau Ballon d’Or. Tapi Messi ngajarin kita bahwa bakat saja tak cukup. Dibutuhkan hati yang besar, ketahanan yang luar biasa, dan cinta yang tak pernah pudar.
Untuk Leo, terima kasih. Terima kasih telah membuat jutaan anak di seluruh dunia percaya bahwa mimpi bisa diwujudkan meski berkekurangan dan tantangannya besar.
Kau bukan runner up malam ini, Leo. Kau adalah pemenang seumur hidup.
Sekarang, istirahat yang pantas. Dunia sepak bola akan terus berputar, tapi tak akan pernah sama lagi tanpamu.