Pulang ke South Shore kali ini saya naik bus disambung dg komuter Worcester-Boston dan Boston-Greenbush. Lebih lama, tapi saya suka karena saya bisa meneruskan menulis dan summer reading saya. Menyelami pemikiran ekonomi-politik Bung Hatta membantu saya memahami sejarah 🇮🇩
Fulcrum Commentary by Yanuar Nugroho (@yanuarnugroho) - Is Indonesia’s growth rate an accurate reflection of the country’s progress? https://t.co/GqdYZwM0o7
Bila ia masih hidup, 10 Juni 2026, Asrul Sani akan berumur seratus tahun. Angka yang bulat. Nyaris seperti penanda. Seolah waktu ingin memberi jeda, meminta kita berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang.
Bagi banyak orang, Asrul adalah penyair Angkatan ’45, penulis, penerjemah, dan salah satu penanda penting kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan.
Bagi saya, ia adalah Pak Cun—adik kandung ayah saya, paman yang tinggal di rumah kami di Menteng ketika saya masih kecil, dan yang lewat percakapan-percakapan sederhana membentuk cara saya melihat dunia.
Dari sanalah saya berkenalan dengan Albert Camus dan Anton Chekhov. Dua nama yang, pada usia saya yang masih kecil saat itu, terasa jauh. Tidak sepenuhnya saya pahami. Tetapi buku-buku itu tidak hilang. Mereka menunggu.
Dan bertahun-tahun kemudian, ketika saya membacanya kembali dengan mata yang sudah lebih banyak melihat hidup, saya menyadari apa yang sebetulnya ingin Pak Cun sampaikan: bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan.
Camus menolak karena ia tahu penjelasan yang tersedia tidak memadai untuk menampung absurditas keberadaan.
Chekhov menolak karena ia tahu penjelasan akan mengkhianati tekstur sebenarnya dari pengalaman manusia. Dan Asrul, meski tidak pernah secara eksplisit berdialog dengan keduanya, sampai pada posisi yang serupa lewat jalannya sendiri.
Saya masih terlalu kecil untuk memahami cara pikirnya. Kata-katanya mungkin lewat begitu saja, tidak sempat tinggal.
Yang tersisa justru yang lain: potongan-potongan keseharian, hal-hal kecil yang tidak penting, tapi bertahan. Saya masih ingat, kamarnya yang remang. Bau rokok yang menyengat, bukan sekadar asap, tapi semacam jejak yang menetap di udara. Debu di sana sini, obat nyamuk bakar hijau melingkar di lantai, pelan-pelan habis, menyisakan abu yang rapuh. Buku-buku berserakan, seperti tak pernah selesai dibaca atau mungkin tak ingin disusun. Di atas meja kerja, ada sebuah mesin tik tua. Diam, tapi terasa hidup, seolah setiap saat bisa kembali berbunyi, memecah sunyi dengan ritme yang teratur.
Lalu tikus itu.
Ia tidak diusir. Tidak dijebak. Pak Cun justru memberinya makan sedikit, secukupnya. Seolah ada kesepakatan yang sederhana: tikus itu tidak mengganggu buku-bukunya, dan sebagai gantinya, ia diberi ruang untuk hidup. Dalam logika sehari-hari, ini mungkin tampak ganjil. Tapi di situ ada sesuatu yang lain: cara melihat dunia yang tidak selalu ingin mengalahkan.
Tetapi yang paling saya ingat adalah pertanyaan dan nasihat yang ia tinggalkan.
“Mengapa seseorang masuk universitas?”
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya akan berangkat ke Australian National University untuk studi pascasarjana, ia berkata:
“Yang paling penting dalam sekolah bukanlah buku teks. Buku teks di setiap universitas akan sama saja. Yang penting adalah bagaimana kamu mengembangkan pemikiran, berdiskusi, bertukar gagasan, dan belajar dari lingkungan di sekitarmu.”
Pesan itu mengubah cara saya melihat pendidikan. Pendidikan bukan sekadar soal memperoleh pengetahuan atau gelar. Ia juga tentang memelihara rasa ingin tahu dan membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.
Puluhan tahun kemudian, saya masih memikirkan pertanyaan dan nasihat itu. Barangkali memang begitu cara seorang guru bertahan hidup: bukan dalam jawaban yang ia berikan, melainkan dalam pertanyaan yang terus menemani kita.
Disarikan dari tulisan saya untuk buku peringatan 100 tahun Asrul Sani.
Sore ini saya melipir ke sini buat self-reward setelah kelarin salah satu proposal riset yg bikin berkutat di perpus akhir2 ini. Pengunjungnya didominasi sama crowd yg kelihatannya baru kelar conference di College-nya the Prince of Monaco itu.
Ada satu coffee shop di pusat downtown yang jadi tempat “ngopi intelek” sekaligus bergaya buat warga kota. Pengunjungnya kebanyakan bertampang super “matang”, dibandingkan pengunjung coffee shop lainnya yg kebanyakan mahasiswa undergrad yg mungkin adalah populasi mayoritas kota.
Salah satu 1st date juga pernah di sini. Latte-nya enak banget, sekelas Anomali dan Djournal lah kalau di Jakarta, atau Thousand and Sunny kalau di Sumbawa. Mulai jam 4 sore setiap Selasa-Sabtu, tempat ini berubah wujud jadi bar dg crowd yg juga demografinya serupa
In the abstract, technology in and of itself is not a solution to humanity’s problems, just as, in and of itself, it is not inherently evil. In practice, however, technology is never neutral, because it takes on the characteristics of those who devise it, finance it, regulate it and use it.
Memang jam terbang dia sudah level tinggi saking seringnya ikut acara kaya begini
ketika ditanya pun dia dengan pede jawab walaupun jawabannya muter dan nyengir2 sampai waktu Q&A habis
Btw yg nanya itu moderator (cewe) dan keith klugman dari bill-mellinda gates foundation
Pemalsuan riset terorganisir yg baru ketahuan saat konferensi di Denmark ini jatuhnya WHITE COLLAR CRIMINAL.
Saya pun penasaran jejaring pelakunya. Di akun IG w.o.d.d sebenarnya udah di-spill nama2nya.
Tapi saya penasaran jejak digitalnya di internet. Dan ini yg saya temukan
A joint investigation by Tempo, Kompas, Suara, Tribunnews & Drone Emprit found pro-China & pro-Russian foreign influencers & media were involved in spreading conspiracy theories about anti-govt protests in Indonesia in Aug 2025.
It's available in 🇬🇧 & 🇮🇩
https://t.co/tHmejTuLwa
Akan dialog bareng teman-teman Harvard Indonesian Student Association, Association of Indonesian Students at MIT, dan Harvard Kennedy School Southeast Asia Caucus. Sampai ketemu besok lusa di MIT Building, Cambridge!
Nah, mengerjakan final paper di tengah euforia wisuda dan liburan musim panas itu berat. Godaan untuk ikut party dan bersantai menikmati cuaca yg menghangat setelah musim dingin panjang itu berat!
Mengerjakan final paper di hawa-hawa summer break itu berat kalau nggak kuat inner drive. Jalan ke perpustakaan pasti ketemu mahasiswa2 yg sedang dalam euforia graduation. Sama seperti di Indonesia, tradisi foto kelulusan di sini kuat. Pemandangan umum di seantero ruang kampus.
Yg pake Selempang ke-2 adl para lulusan yg ketika kuliah nyambi jadi supir bus sistem transportasi umum yg melayani Pioneer Valley ini. Biasanya mereka nyupiri bus yg rutenya langsung menghubungkan kampus dg bagian kota atau kota tetangga.
Buat saya, kedai ini adl salah satu spot cuci mata terbaik. Banyak rangorang yg kesannya tdk dress up tp sebenarnya padu padan kostum mereka keren2. Keknya MMT tempat to see and be seen. Saat2 lunch break, para professional di sekitar area komersil ini pada beli kopi ke sini.
The yang dine in, biasanya pada ngopi sambil baca buku atau kerja di depan laptop masing-masing. Para profesor dari liberal art college elit almamaternya The Prince of Monaco itu bisanya ngopi di sini. Tempat first meeting dg professor supervisor saya juga di sini.