@le__photographe “..Sorry... I can't handle it..”
Being lonely made him suffer. Odd, since he doesn't like socializing. But Joseph is different from them.
“.....” hugged tightly.
@le__photographe Tears bursted out shamelessly. God, he misses this man so much!
“Yes..! I've been waiting for you the whole time..! Where have you been..?”
@le__photographe Finally, the time has come for him to meet his beloved. Aesop, stood there stunned. Unbelieve, shocked, happy, tearing, all emotions mixed together.
It's Joseph.
“Joseph!!!” rushed to hug the man.
@ViolentAzrael — sengaja diukir se antik mungkin berdiri di sana. Tanpa ragu ia mendorong pintu dengan disambut suara bell. Warna-warni mainan menghiasi penjuru toko; surga anak-anak, mungkin.
Aesop sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mendekat, “Ambil saja apa yang kau suka, ya?”
@ViolentAzrael Salah satu alis terangkat kala mendengar ucapan si pipi gembul. Aesop hanya bertanya apakah ia dapat membuat boneka salju dan jawaban agaknya meleset dari ekspektasi. “...Benar.”
Beberapa menit mereka menyusuri trotoar hingga sampai ke pusat perbelanjaan di tepi. Toko yang —
@ViolentAzrael “Begitu ya..”
Sang adam hanya menuruti ucapan si kecil. Mengurus anak kecil memang tak mudah, akan tetapi tidak begitu buat Aesop. Entahlah, mungkin karena ia Joseph kecil.
“Kau mau mengubah warna airnya?” tangan kanan meregang ke arah rak dan meraih satu kotak isi bathbomb.
@ViolentAzrael Bayi.
Dengan begitu, Aesop bisa ikut masuk. “Ombak..” ucapnya seraya memasuki bathtub yang mana menghasilkan gelombang kecil. Ukuran bathtub nya memang tergolong besar, tetapi Aesop ingin berada di dekat si kecil.
“Mana bebekmu?”
@ViolentAzrael — kau bisa membuat boneka salju?” tanyanya.
Musim dingin tak mengganggu aktifitas sang adam. Ia dapat menahan udara yang menusuk walau kadang membuatnya mati rasa. Yang ia khawatirkan adalah si kecil ini.
@ViolentAzrael Pandangannya terpaku pada jalan. Sesekali dialihkan pada orang bertangan mungil yang ia genggam, memastikan ia berada di sisinya.
“Mmhm..” Aesop membalas dengan gumaman kecil. Tubuhnya yang sangat pendek membuat Aesop harus sedikit menurunkan derajat pundak satunya, “Apa —
@ViolentAzrael Melihat Joseph kesusahan, Aesop refleks menghampiri. Ia berlutut dan menahan tangan Joseph, “Sini...” pakaian si kecil ditanggalkan satu per satu dengan mudah. “Air hangatnya sudah siap,” diangkatlah si kecil dan dimasukkan ke dalam bathtub.
@ViolentAzrael — yang menutupi sebagian trotoar memecah kesunyian jalan sore. Kawasan mereka tak terlalu padat, bahkan tergolong sepi. Entahlah, mungkin karena salju, orang-orang malas ke luar. Aesop memakai kacamata dan sweater putih, cukup itu untuk membantunya di luar.
@ViolentAzrael Mengangguk, “Tentu saja.” topi berbahan rajutan yang hangat diraih dan dipakaikan pada si kecil, “Di luar agak dingin...” memastikan agar Joseph tak menggigil.
Setelah semua selesai, suara pintu terbuka dan tertutup mereka lewati. Suara tapak menapak pada gumpalan salju —
@ViolentAzrael “Sebentar kok,” sahutnya, “Kau bisa buka pakaianmu sendiri?” satu-satu kancing kemeja yang dikenakan ia buka, melepaskan fabrik putih yang menutupi bagian atas tubuh pucatnya. Ia juga membuka celana kelamnya dan memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor.
@ViolentAzrael Aesop hanya mengangguk nurut pada tuturan si kecil. Telapak kaki berpijak pada ubin dingin kamar mandi, “Sebentar ya.” ia meletakkan Joseph pada satu kursi kecil dan menyiapkan air hangat di bak mandi untuk mereka berdua. Ia meraih mainan Joseph dari rak dan memberi si kecil.