@Hilmi28 โYang duduk di kursi kekuasaan sering lupa:
jabatan itu pinjaman.
Kepercayaan rakyat juga.
Dan dua-duanya bisa dicabut sejarah.โ โ๏ธ๐ฎ๐ฉ
Guys, ada satu nama dalam sejarah ekonomi Indonesia yang menurut gue paling sering disalahpahami baik oleh yang memujanya buta-buta maupun yang membencinya habis-habisan.
Sri Mulyani Indrawati.
Dan sebelum gue ceritain siapa dia sebenarnya gue mau bilang satu hal dulu:
Tidak ada kebijakan ekonomi yang bisa menyenangkan semua orang.
Tidak pernah ada.
Tidak akan pernah ada.
Dan siapapun yang memahami ini dengan jujur akan melihat Sri Mulyani dengan cara yang sangat berbeda dari narasi yang biasanya beredar.
Mulai dari awalnya karena latar belakang membentuk karakter:
Sri Mulyani lahir 1962.
Anak dari dua profesor di Universitas Negeri Semarang.
Bukan dari keluarga dinasti politik.
Bukan dari konglomerat.
Dari rumah tangga akademis di mana angka, logika, dan dedisiplin ilmu adalah makanan sehari-hari.
Dari situ dia menembus UI lalu terbang ke Amerika. Meraih Master of Science of Policy Economic tahun 1990. PhD Economics dari University of Illinois tahun 1992.
Dan pada tahun 2002 di usia 40 tahun dia duduk sebagai Executive Director IMF di Washington DC.
Mewakili dan menyuarakan kepentingan ekonomi 12 negara Asia Tenggara dari markas besar lembaga keuangan paling berpengaruh di dunia.
Hidupnya nyaman.
Karirnya cemerlang.
Jauh dari carut-marut politik Indonesia yang kotor.
Tapi kemudian SBY memanggilnya pulang:
Tahun 2005. Dan tempat yang dia masuki bukan kantor nyaman dengan karpet merah.
Tapi sebuah institusi yang saat itu bisa digambarkan sebagai sarang penyamun terbesar di Indonesia.
Kementerian Keuangan era awal 2000-an:
pungutan liar, suap mafia pajak, penyelundupan di Bea Cukai, pemerasan sistematis terhadap wajib pajak. Semua itu adalah tradisi harian yang dianggap lumrah.
Sri Mulyani masuk dengan satu misi yang hampir mustahil:
membersihkan institusi yang sudah busuk dari dalam.
Caranya radikal:
sistem administrasi dirombak total.
Remunerasi pegawai dinaikkan drastis untuk memotong insentif suap.
Pengawasan internal diperketat tanpa pandang bulu.
Dan dia menarik dua nama sebagai jangkar moral Marsilam Simanjuntak dan Mar'ie Muhammad, mantan Menteri Keuangan Orde Baru yang dijuluki Mr. Clean.
Reformasi ini berhasil.
Perlahan Kementerian Keuangan berubah menjadi institusi yang modern dan disegani.
Ini bukan klaim ini diakui oleh lembaga-lembaga internasional.
Dan kemudian krisis 2008 datang:
Lehman Brothers bangkrut.
Wall Street runtuh.
Modal asing lari dari seluruh negara berkembang.
Rupiah terguncang.
Perbankan Indonesia menahan napas.
Sri Mulyani bukan hanya Menteri Keuangan saat itu. Dia juga menjadi Plt.
Menko Perekonomian menggantikan Boediono yang dilantik jadi Gubernur BI.
Di tangannya seluruh keputusan fiskal dan stabilitas makroekonomi Indonesia.
Hasilnya:
Indonesia tetap tumbuh positif.
Di saat negara-negara maju masuk jurang resesi Indonesia bersama China dan India menjadi tiga negara yang masih tumbuh.
Bukan keajaiban.
Tapi hasil dari keputusan fiskal yang dingin, realistis, dan berani di saat semua orang panik.
Dunia mengakui ini.
Tahun 2018 di Dubai di hadapan para pemimpin dari seluruh dunia Sri Mulyani menerima penghargaan Menteri Keuangan Terbaik di Dunia.
Diserahkan langsung oleh penguasa Dubai Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum.
Dan di G20 tahun 2009 dia secara terbuka menegur Presiden Amerika Barack Obama yang memotong waktu pidato Presiden SBY.
Tanpa ragu.
Dan Obama tersenyum mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
Tapi di tengah semua itu ada keputusan yang membayanginya selamanya:
20 November 2008.
Malam yang mengubah segalanya.
Saat rakyat Indonesia tidur rapat darurat digelar di Kementerian Keuangan.
Topiknya: Bank Century bank kecil yang sekarat kehabisan likuiditas.
Sri Mulyani dihadapkan pada pilihan paling dilematis dalam hidupnya:
biarkan bank ini mati dengan risiko kepanikan massal yang bisa meruntuhkan seluruh sistem perbankan Indonesia atau selamatkan dengan uang rakyat meski dia tahu itu akan menjadi bom waktu.
Dia memilih menyelamatkan.
Dana talangan: Rp6,7 triliun.
Dan bom waktu itu meledak.
KPK menemukan bahwa penyelamatan ini menabrak aturannya sendiri regulasi diubah kilat agar bank yang sekarat itu terlihat layak dibantu.
Deputi Gubernur BI Budi Mulya dipenjara.
Nama Boediono terseret.
Sri Mulyani sebagai Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan yang mengetuk palu persetujuan berada langsung di bawah radar.
Di persidangan tahun 2014 dia membela dirinya:
"Sebagai policy maker, saya malam itu harus memilih mudhorot yang sekecil-kecilnya."
Apakah keputusan itu murni untuk menyelamatkan rakyat atau ada kepentingan yang tersembunyi?
Sampai hari ini jawabannya tidak pernah sepenuhnya terjawab di pengadilan.
Dan kemudian politik menghabisinya:
DPR membentuk Pansus Hak Angket Century.
Para politisi melihat peluang emas untuk menjatuhkan sang teknokrat yang selama ini susah dikendalikan karena reformasinya mengancam kepentingan mereka.
Sri Mulyani tidak tiarap.
Dia menyerang balik lewat wawancara eksklusif di Wall Street Journal menyatakan bahwa penyelidikan parlemen bukan untuk mencari kebenaran hukum tapi operasi politik terstruktur untuk menjatuhkannya.
Tapi lanskap politik Jakarta terlalu beracun.
Pada 1 Juni 2010 dia mundur dari kabinet.
Dan di hari yang sama dia terbang ke Washington DC untuk menjadi Managing Director Bank Dunia.
Posisi yang belum pernah dijabat oleh seorang pun dari Indonesia sebelumnya.
Dia pergi.
Dengan status yang terbelah:
di mata dunia martir reformasi yang disingkirkan politisi korup.
Di mata sebagian rakyat sosok yang pergi meninggalkan utang penjelasan atas Rp6,7 triliun uang rakyat.
Tapi 6 tahun kemudian Jokowi memanggilnya kembali:
Tahun 2016.
Dan kali ini cobaan yang dia hadapi lebih berat dari krisis global manapun.
Utang pemerintah mencapai Rp7.733,99 triliun di akhir 2022.
Dia menjawab: utang bukan dosa kalau dikelola konstruktif untuk infrastruktur, pendidikan, kesehatan.
PPN dinaikkan ke 11% di 2022 saat rakyat masih memulihkan diri dari pandemi.
Faisal Basri mengkritik keras:
"Rakyat dipaksa berbagi beban.
Tapi adilnya di mana?"
Dan kemudian bom waktu yang paling menyakitkan:
Februari 2023 penganiayaan oleh anak pejabat pajak Rafael Alun Trisambodo membuka kotak Pandora.
Publik melihat kemewahan Rubikon dari keluarga pegawai pajak dan langsung menarik kesimpulan: inikah hasil dari pajak yang kami bayar?
Sri Mulyani marah.
Bukan pura-pura marah.
Benar-benar marah.
Kepada Irjen Kemenkeu yang berbicara lembut dia berteriak:
"Enggak ada mengimbau. Instruksikan."
Tapi kemarahan itu tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan publik yang sudah terlanjur robek.
Dan kemudian Mahfud MD membongkar transaksi janggal Rp349 triliun di tubuh Kementerian Keuangan.
Sri Mulyani terjepit harus terlihat tegas di depan publik tapi harus menjaga stabilitas sistem yang sudah rapuh.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Kontras antara Sri Mulyani yang ada di dunia internasional dan Sri Mulyani yang ada di dalam negeri adalah cermin dari kontradiksi terdalam Indonesia sendiri.
Dunia menghargainya karena dia menjaga disiplin fiskal yang menyelamatkan Indonesia dari dua krisis global.
Karena dia berani mengambil keputusan tidak populis yang secara teknis benar.
Rakyat membencinya karena keputusan yang sama itu terasa menyakitkan di dompet mereka sehari-hari.
Dan keduanya tidak ada yang sepenuhnya salah.
Tapi ini yang paling perlu dibandingkan dengan kondisi sekarang:
Di era SBY Sri Mulyani berdiri di depan badai krisis 2008 dengan data yang jujur, kebijakan yang konsisten, dan komunikasi yang tidak menghina kecerdasan rakyat. Indonesia tumbuh positif.
Di era sekarang Ferry Latuhihin memprediksi rupiah ke Rp22.000. The Economist disebut "bego". Pejabat bilang "orang desa tidak pakai dolar." Defisit Q1 sudah 36,8% dari batas tahunan.
Sri Mulyani punya banyak kekurangan. Skandal Century tidak pernah sepenuhnya terjawab. Kebijakan pajaknya menyakitkan.
Dan institusi yang dia bersihkan setengah mati tetap mengkhianatinya dari dalam.
Tapi satu hal yang tidak pernah dia lakukan: mengganti definisi "stabil" agar kondisi buruk terlihat bagus.
Dan itu di tengah semua yang sedang terjadi sekarang adalah sesuatu yang terasa sangat langka dan sangat jauh.
Sri Mulyani bukan malaikat.
Bukan juga penjahat.
Dia adalah teknokrat yang memilih jalan paling sunyi dan paling tidak populis disiplin fiskal di saat semua orang ingin jalan yang mudah dan menyenangkan.
Sejarah tidak akan mencatatnya sebagai sosok yang dicintai semua orang.
Tapi mungkin akan mencatatnya sebagai seseorang yang di antara segala kontroversi dan pengkhianatan dari sistem yang dia bangun memilih untuk tetap bekerja dengan data dan bukan dengan tepuk tangan.
Dan dalam sistem yang semakin banyak dihuni oleh orang yang mencari jabatan untuk kaya bukan untuk mengabdi itu adalah sesuatu yang jarang.