Mengingat kasus eFishery, kayaknya masalahnya nggak cuma soal seberapa mudah mendirikan perusahaan di Indonesia.
Ekosistem dan regulasi memang penting, tapi kualitas SDM, integritas founder, sampai governance perusahaan juga sama pentingnya.
Percuma punya startup yang disebut top Indonesia dan bisa raise dana besar, kalau akhirnya fraud juga.
Jadi bukan cuma “gimana bikin lebih banyak startup”, tapi gimana bikin perusahaan yang sehat dan orang-orang di dalamnya juga accountable.
Lagi pakai vLLM buat menjalankan model di server, terus nemu tulisan yang ngebedah cara kerjanya sampai ke bagian dalam.
Selama ini vLLM mungkin kelihatan seperti tools buat mengubah model lokal menjadi API yang kompatibel dengan OpenAI. Padahal di baliknya ada inference engine yang cukup kompleks.
Ada PagedAttention untuk mengelola KV cache dalam bentuk blok, continuous batching supaya request baru bisa langsung ikut diproses, prefix caching agar prompt yang sama tidak dihitung berulang, sampai chunked prefill supaya prompt panjang tidak memonopoli GPU.
Belum lagi speculative decoding, guided output, multi-GPU, multi-node, dan scheduler yang harus terus menentukan request mana yang diproses lebih dulu.
Dari sini baru kerasa kalau menjalankan LLM itu bukan sekadar model berhasil masuk VRAM lalu endpoint-nya hidup.
Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjaga GPU tetap sibuk, melayani banyak request sekaligus, mengatur memori dengan efisien, tapi latency pengguna tetap rendah.
Buat yang sudah pakai vLLM tapi selama ini hanya menjalankan command lalu berharap semuanya otomatis optimal, tulisan ini layak dibaca. Setidaknya jadi lebih paham kenapa konfigurasi kecil di inference server bisa berdampak besar ke performa dan biaya.
https://t.co/CquC6dCRg3
Grab ternyata nggak mau bergantung pada satu AI coding tool saja.
Dari screenshot yang dibagikan Brian Chew, Grab terlihat punya semacam antrean atau daftar tool AI yang sedang diproses untuk kebutuhan enterprise. Menariknya, nama Amp dan Devin ikut muncul di sana. Tapi perlu dicatat, masuk daftar belum tentu berarti sudah dipakai penuh oleh seluruh perusahaan. Bisa saja masih tahap evaluasi, security review, pengadaan lisensi, atau rollout terbatas.
Pendekatan ini sebenarnya sesuai dengan strategi Grab. Mereka memang sengaja mencoba beberapa AI coding assistant sekaligus, membandingkan hasilnya, lalu memakai tool yang paling cocok untuk kebutuhan berbeda. Jadi bukan memilih satu vendor, lalu memaksa semua engineer bekerja dengan cara yang sama.
Cursor menjadi salah satu contoh adopsi yang sudah cukup matang di sana. Grab menyebut 98% staf teknologinya aktif menggunakan Cursor setiap bulan, sekitar 75% memakainya setiap minggu, dan lebih dari sepertiga merge request sudah melibatkan Cursor dalam proses pengerjaannya. Mereka juga membuat integrasi sendiri agar Cursor bisa memahami monorepo dan standar coding internal Grab.
Skalanya bahkan sudah lebih luas dari sekadar AI untuk menulis kode. Grab saat ini memiliki lebih dari 500 layanan yang berjalan menggunakan framework agent internal, lebih dari 50 server MCP, serta satu LLM gateway yang menangani miliaran token setiap bulan.
Ini yang sering terlewat saat orang membahas AI coding tool.
Perusahaan besar tidak cuma mencari model atau aplikasi yang paling tinggi di benchmark. Mereka butuh tool yang aman, bisa diaudit, terhubung dengan codebase internal, mudah diganti, dan cocok untuk jenis pekerjaan tertentu.
Intinya, masa depan AI di perusahaan kemungkinan bukan satu tool untuk semua orang. Bisa jadi Cursor untuk kerja interaktif, Amp untuk workflow tertentu, Devin untuk tugas yang lebih otonom, lalu semuanya tetap berjalan di bawah aturan, akses, dan pengawasan perusahaan.
Masuknya Amp dan Devin ke radar Grab setidaknya menunjukkan bahwa coding agent mulai bergeser dari mainan developer individual menjadi software yang serius dipertimbangkan untuk penggunaan enterprise.
Serangan supply chain di ekosistem npm sedang menyebar secara real time.
Socket Security melaporkan sudah melacak lebih dari 2.200 artefak package yang terdampak. Rata-rata package berbahaya baru berhasil mereka deteksi sekitar lima menit setelah dipublikasikan. Masalahnya, dalam waktu sesingkat itu package tersebut bisa saja sudah terunduh dan masuk ke pipeline developer.
Serangan ini diduga bermula dari akun maintainer package populer di namespace keyv dan cacheable yang berhasil diambil alih. Penyerang lalu menerbitkan versi package yang sudah disusupi script berbahaya.
Begitu package terinstal, script tersebut dapat mencuri berbagai kredensial dari environment developer dan CI/CD, seperti token npm, GitHub Actions, AWS, Google Cloud, Azure, Kubernetes, sampai HashiCorp Vault. Token npm yang berhasil dicuri kemudian dipakai untuk menyusupi dan menerbitkan ulang package lain. Polanya seperti worm, bisa menyebarkan dirinya sendiri dari satu package ke package berikutnya.
Yang bikin serangan ini serius bukan cuma jumlah package yang terdampak, tapi efek berantainya. Satu akun maintainer yang dibobol bisa memengaruhi banyak package, lalu package tersebut ikut masuk sebagai dependency tidak langsung di ribuan project lain.
Jadi developer belum tentu pernah menginstal package yang namanya disebut dalam laporan. Bisa saja package berbahaya itu masuk lewat dependency dari dependency yang digunakan aplikasi.
Untuk sementara, jangan asal memperbarui dependency. Periksa perubahan pada lockfile, audit package yang baru terinstal, batasi permission token CI/CD, dan segera rotasi kredensial kalau project sempat menginstal versi yang terdampak.
🚨 Update: Watching this npm worm propagate in real time, we’re now tracking 2,234 affected package artifacts across 444 unique packages, and it’s still spreading.
Average detection time: 5 min and 18 seconds after publication. Our campaign page includes all packages/versions.
@thsottiaux I don't know if it's me or anybody else, everytime I use the codex app it's slow processing the task. I try other AI editor app like zed or Cline it process my task much quicker. Like 75% faster
🚀 DeepSeek-V4-Flash Official API is now LIVE in public beta!
🔷 We’ve massively upgraded its Agent capabilities—benchmark scores are now far surpassing the V4-Pro-Preview. Check out the massive performance leap below! 👇
🔷 The official V4-Flash now natively supports the Responses API format and is fully adapted for Codex!
Check out the configuration details in our official API docs: https://t.co/smCwQZMeiq
‼️ Hugging Face built an interactive replay of the OpenAI agent that breached them. It includes 17,613 logged attacker actions across the 4.5-day campaign, with the live command stream and more.
https://t.co/y7dD9n8QTy
Keychron is trying to do for gaming mice what QMK and ZMK already did for mechanical keyboards.
The company is developing ZGM, an open-source gaming mouse firmware built on Zephyr RTOS. It is designed for low-latency input, wired and wireless connectivity, modular hardware support, and deeper customization for sensors, buttons, scroll wheels, and lighting. The first supported mouse will be the upcoming Keychron G6 HE, with the initial release planned for Q1 2027.
What makes this interesting is not another high polling rate or fancy gaming feature. Most gaming mice still run on closed firmware that users cannot properly inspect, audit, modify, or maintain. With ZGM, developers and hardware enthusiasts could study the code, build their own features, fix issues, or eventually adapt it to other hardware.
But this is still an early project. The public repository currently contains mostly the initial structure, policies, and project direction. Open source also does not automatically mean the firmware will be stable, fast, or widely supported. Gaming mice require careful hardware-specific optimization, especially for sensors, wireless performance, power consumption, and latency.
Still, this is a good direction. Gaming keyboards already have a strong open-source firmware ecosystem, while gaming mice are still heavily dependent on proprietary software from each manufacturer.
If Keychron can execute this properly, ZGM could become more than just firmware for one Keychron mouse. It could become a common foundation for customizable and repairable gaming mice, and hopefully push other manufacturers to become more open too.
https://t.co/XVameOygZZ