Tetanggaku, Pak Irwan, adalah orang paling royal yang pernah aku kenal. Setiap ada keluarga yang butuh biaya rumah sakit, SPP anak, atau modal nikah, beliau selalu yang pertama mengulurkan tangan.
Tahun lalu, bisnisnya hancur. Beliau bangkrut.
Tapi yang membuatnya menangis bukan kehilangan harta.
Beliau menangis sesenggukan di terasku hanya karena telepon lima menit dengan kakak kandungnya.
Sambil menunjukkan ponselnya, beliau berkata, "Aku cuma pinjam Rp2 juta buat makan bulan ini. Kakakku malah bilang, 'Makanya, uang itu ditabung, jangan sok kaya.'"
Lalu beliau berkata pelan, "Aku baru sadar. Selama ini aku bukan adiknya. Aku cuma ATM mereka."
Selama 15 tahun terakhir, beliau sudah membantu kakaknya untuk tiga kebutuhan besar: modal menikahkan anak, biaya operasi mertua, dan DP rumah pertama. Totalnya puluhan juta rupiah dan tidak pernah sekalipun diminta kembali.
Namun saat beliau membutuhkan Rp2 juta untuk bertahan hidup, yang didapat hanya nasihat soal menabung.
Tidak ada satu pun kalimat, "Kamu gimana kabarnya sekarang, Dek?"
Telepon ditutup lebih dulu oleh kakaknya.
Saat itu beliau baru sadar, masalahnya bukan hanya soal kakaknya.
Beliau teringat, dulu setiap ada acara keluarga besar, beliau selalu diundang paling awal, didudukkan di kursi depan, dan dipanggil sebagai orang yang paling baik hati.
Tapi sejak bangkrut setahun lalu, tak ada yang menanyakan kabarnya. Tak ada yang menawarkan bantuan.
Ternyata, selama ini beliau dianggap penting bukan karena siapa dirinya, tetapi karena apa yang bisa diberikannya.
Mendengar cerita itu, aku jadi teringat masa kuliah.
Dulu beberapa teman sering menghubungiku saat butuh pinjaman. Tapi ketika aku sedang kesulitan, balasan mereka lama sekali, kalau pun membalas.
Saat itu aku menganggap itu hal yang biasa.
Namun setelah mendengar cerita Pak Irwan, aku mulai bertanya-tanya. Jangan-jangan selama ini aku juga hanya dianggap berguna, bukan benar-benar dihargai.
Malam harinya aku bertanya kepada istriku.
"Kalau suatu hari nanti kita yang kesulitan, menurutmu siapa dari keluarga atau teman yang benar-benar akan membantu, bukan cuma bertanya kabar?"
Istriku menghitung dengan jarinya, lalu berkata, "Jujur, mungkin nggak sebanyak yang kita kira."
Aku bertanya lagi, "Kenapa kamu bilang begitu?"
Dia menjawab, "Ingat nggak waktu Ayah dirawat dua tahun lalu? Dari semua saudara yang pernah kita bantu, cuma adikmu yang benar-benar bertanya, 'Butuh apa?' Yang lain diam saja di grup keluarga."
Baru saat itu aku sadar, istriku mengingat dengan jelas siapa yang hadir dan siapa yang memilih diam.
Kadang kita mengira keluarga atau teman begitu menyayangi kita. Padahal yang mereka sayangi hanyalah manfaat yang bisa kita berikan.
Selama kita menjadi solusi, kita dipuji, dicari, dan dianggap penting.
Namun ketika kita yang membutuhkan pertolongan, barulah terlihat siapa yang benar-benar peduli, dan siapa yang hanya datang karena ada maunya.
Mungkin, saat kita berhenti menjadi "penolong" bagi semua orang, di situlah kita benar-benar tahu siapa yang tulus menyayangi kita sebagai manusia, bukan sebagai tempat meminta bantuan.
Kalau kamu berada di posisi Pak Irwan, apakah kamu masih akan tetap membantu orang-orang yang dulu mengecewakanmu, atau memilih menjaga jarak?
Aku penasaran dengan pendapat kalian.
Kenyataannya...
Seiring bertambahnya usia, kita mulai sadar bahwa tidak semua hal harus diucapkan saat emosi. Kata-kata yang terlanjur keluar tidak bisa ditarik kembali, bahkan permintaan maaf pun terkadang tidak mampu menghapus luka yang ditinggalkan.
Karena itu, kita belajar untuk berpikir sebelum berbicara, menenangkan diri sebelum merespons, dan memilih ucapan yang lebih membangun daripada sekadar melampiaskan perasaan. Bukan karena takut berbicara, tetapi karena paham bahwa setiap ucapan memiliki dampak.
Anak itu peniru ulung. Kalau mau omongan anak berbobot, ya topik obrolan dari ortunya juga perlu berbobot.
Kalo topik omongan ortu ga jauh2 dari kaya-miskin, cantik-jelek, itu2 mulu, jgn kaget kalo omongan anaknya juga begitu.
@naivarian Itu bukan sekadar asbun. Itu emang kurang ajar dan bisa nyakitin perasaan orang. Anak kecil boleh polos, tapi orang tua harusnya ngajarin batasan apa yang boleh diomongin sama yang nggak, apalagi soal rumah orang lain
@leeivy509@tanyakanrl Kak ada loh orang yg suka ngejelek-jelekkin anaknya, fitnah, dll gitu. Padahal ini anaknya super baik bahkan ngerawat beliau sampe masa tuanya.
aku menjauh demi waras. nyatanya, orang tua juga bisa melukai. bukan selalu lewat kebencian, kadang lewat kata-kata yang dianggap biasa. dan anak punya hati yang bisa patah, punya luka yang bisa tinggal lama. sayangnya, tidak semua anak diberi ruang untuk merasa sakit. mereka dipaksa diam, dipaksa mengerti, dipaksa memaafkan, bahkan sebelum lukanya sembuh. ironisnya, saat mereka memilih menjaga jarak demi warasnya diri sendiri, mereka justru disebut durhaka, tega, atau lupa balas budi. padahal, kadang menjaga jarak bukan karena benci. tapi karena itu satu-satunya cara agar dirinya tidak semakin hancur.
@18fesss adalah sebaik-baiknya sosok yang mengenal kamu dan seluruh kesakitan kamu.
Dan ini doaku ketika ada seseorang yang menyakiti aku padahal aku sendiri nggak punya niat buruk ke mereka:
"Hilangkanlah semua rasa rindu, sedih, sakit, cemas, bahkan bahagia dari diriku saat (Cont)
@18fesss aku mendengar/melihat nama, suara, wajah, atau memori terkait orang tersebut. Dan aku serahkan pada-Mu tentang cara apa yang hendak Kau pakai untuk membuatnya benar-benar paham akan rasa sakit yang sedang kurasakan. Karena aku percaya bahwa Kau akan membayarkan (Cont)
bener lagi ini...
kalau kita enggak pernah ngobrol sama anak, jangan harap anak mau ngobrol sama kita,
kalau kita enggak ber-empati dengerin mereka dan ada buat mereka, jangan harap di masa depan mereka ada untuk kita.
jadi orang tua tidak membuat otomatis anak respect dan sayang, itu harus diusahakan, diluangkan waktunya, dan memang pasti banyak yg dikorbankan.
Alhamdulillah nampaknya orang tua milenial banyak yg lebih "care" dari boomers, orang tua boomers jg banyak kok yg baik, tapi makin kesini nampaknya ilmu parenting semakin luas, hubungan orang tua dan anak juga semakin terbuka.
jadi saran sebelum judge anak durhaka sama orang tua, cek dulu jangan2 orang tua yg durhaka duluan sama anak 🙏
@Jateng_Twit@farhm_ Tambahan, bangunan kosong juga disensus min. Diberi nomor bangunan, tetap diberi stiker, di prelist ditambahkan itu bangunan atas nama A, dll
@yappingfess Nder, Tuhan maha mendengar dan mengabulkan. Pendosa yg bertaubat (sungguhan) itu jauh lebih dicintai daripada ahli ibadah yg riya'.
Tapi yg perlu kamu pahami, ujian taubat untuk melihat seberapa sungguh2 itu juga berproses. Enak dong kalau taubat lalu selesai semua?
@yuradelita Nanyain gaji bukan untuk disebar-sebarin atau dipublikasiin kak. Tujuannya biar tau struktur biaya usaha termasuk biaya tenaga kerja. Cari di internet jelas beda detailnya dibanding tanya langsung.
@cacrut Kalo ada yg belum tau tentang Sensus Ekonomi, penyebabnya belum tentu semata-mata karena sosialisasinya kurang. Kan banyak faktor. Termasuk karakteristik sasaran sampe tingkat partisipasi atau kepedulian masyarakatnya