@enqueteurrivai └ menarik diri yang lebih kecil untuk lebih dekat dengan cara melingkarkannya pada pinggang.
"Tubuhmu akan jadi milikku, dan hanya aku yang bisa melihatnya. Jadi, tidak usah khawatir dengan segala kemungkinan yang terjadi. Aku lelaki yang bertanggung jawab."
Saat ini banyak sekali bentuk tatto yang menarik perhatian pemuda matah ini, membuat hasrat menggebu-gebu untuk mengukir keindahan pada tubuh seseorang.
Seseorang? Siapa? Rivaille.
"Rivaille, apakah kau ingin kubuatkan sebuah tatto?"
@enqueteurrivai Lensa beradu pandang, miliknya terjerat dan juga tak ingin melepas lensa gelap milik Levi.
Wajah sengaja didekatkan; salahkan tangan sang lelaki yang melingkar pada leher. Dekat, hingga membiarkan ranumnya menempel pada milik lawan selama satu detik.
Satu lengan ┐
@enqueteurrivai Tubuh diputar 45° guna menghadap pada yang lebih berumur. Kedua alis menukik sesaat setelah kalimat lancang lolos dari bibir lawan bicara.
tHE FUCK??
Satu tangan disampirkan pada bahu kanan Levi, diikuti dengan gerakan meremas di sana. "Kau terlalu meremehkanku. ┐
@enqueteurrivai Satu sudut bibir tertarik ke atas, lensa emerald berkilat pertanda terpancing akan ucapan lelaki di sebelahnya.
"Apakah aku harus membuatmu 'senang' dulu? Sebelum nantinya pada kejantananmu akan kubuat tatto dengan namaku."
Wew, lumayan ekstrim.
@enqueteurrivai Suara bariton yang menyapa gendang telinga cukup membuat jantung berdegup lebih cepat. Dirinya mendekat, memilih duduk tepat di sebelah lelaki dengan postur tubuh yang lebih kecil.
"Dibandingkan pelanggan, kau lebih kuanggap sebagai objek percobaan. Tidak masalah, 'kan?"
@enqueteurrivai Jemari berhenti bergerak, lenganpun mengambil alih 'tuk menyentuh punggung Rivaille; mengangkatnya menjauh dari pusat gravitasi.
Tubuhpun didudukkan pada sofa, sambil memangku yang lebih tua di atasnya.
"Sedikit. Memangnya kenapa dengan titan?"
@enqueteurrivai Tatapan lensa nan tajam yang dirindukan kini berada sangat dekat dengan dirinya. Kerinduannya memuncak; disalurkan pada dekapan yang spontan tercipta.
Jemari mulai bergerilya, menyusuri punggung bidang sang lelaki yang berlapiskan pakaian.
"Hm, apa?"