1x kita berbuat baik, maka orang lain akan berterima kasih padamu.
2x kali kita berbuat baik, orang lain mulai mengharap padamu.
3x berbuat baik, maka orang lain akan bergantung padamu.
4x berbuat baik, maka orang lain akan menganggap kalau hal itu sudah menjadi tanggungjawab kita untuk dirinya.
Namun ke 5x nya, kita tidak berbuat baik pada orang tersebut, sekecil apa pun, mereka menilai kita telah berbuat kejahatan.
–Friedrich Nietzsche
.
.
.
KRONOLOGI BERDASARKAN KETERANGAN KORBAN
Dua orang ini mohon bantu dikondisikan, karena sudah semakin meresahkan.
Sejak dulu, keluarga kami selalu ikhlas membantu salah satu bapak ini. Awalnya hanya beliau seorang diri yang sering datang ke rumah untuk sekadar meminta makan dan minum.
Kami selalu memberinya dengan lapang hati, bahkan ketika dulu Dia sering tidur di halaman rumah, kami pun tidak pernah mengusir. Namun, belakangan ini ia membawa seorang temannya lagi, sehingga kini ada dua orang yang datang.
Yang membuat kami merasa terganggu adalah kebiasaan mereka datang larut malam, bahkan di atas pukul 21.00 WIB. Mereka sering menggedor pintu rumah dengan keras, seolah memaksa untuk dibukakan.
Tadi malam, sekitar pukul 22.00 WIB, keduanya kembali datang. Karena waktunya sudah terlalu malam, kami memutuskan untuk tidak merespons. Bukannya berhenti, mereka justru semakin keras menggedor pintu.
Puncaknya, salah satu bapak tersebut terlihat berada di samping jendela kamar saya. Entah hendak mengetuk jendela atau mencoba mengintip, tetapi hal itu jelas membuat saya sangat tidak nyaman dan terganggu.
Kami mohon kepada siapa pun yang mengenal kedua bapak ini, agar bisa menenangkan atau menasihati mereka,
📍 Banyurip Pekalongan
Kalau soal isi pidato dan tehnik bicara didepan massa dan media. SBY masih yang terbaik. Bicara nya sistematis, ngomongnya enak dilihat dan bahasa nya mudah dimengerti.
Setuju gak ges?
Kita Bicara Data tentang Umat Islam Indonesia (1)
Kita sepakat bahwa shalat 5 waktu hukumnya wajib. Meninggalkannya dengan sengaja adalah dosa besar. Tapi apakah seluruh umat Islam di Indonesia sudah menunaikannya?
Mari perhatikan data yg diambil dari Indonesia Moslem Report 2019 yg diterbitkan oleh Avara Research:
1. Umat Islam di Indonesia yg sudah menunaikan shalat 5 waktu dan selalu dilaksanakan secara berjamaah baru mencapai 2% saja.
2. Umat Islam di Indonesia yg sudah menunaikan shalat 5 waktu dan sering berjamaah baru mencapai 7,7% saja.
3. Umat Islam di Indonesia yg sudah menunaikan shalat 5 waktu dan kadang-kadang berjamaah mencapai 29,2%.
4. Umat Islam di Indonesia yg sering shalat 5 waktu mencapai 33,8%.
5. Umat Islam di Indonesia yg kadang-kadang shalat 5 waktu mencapai 26,8%.
6. Umat Islam di Indonesia yg tidak pernah shalat 5 waktu mencapai 0,4%.
Sehingga, dapat kita ambil kesimpulan bahwa umat Islam di Indonesia yg selalu melaksanakan shalat 5 waktu baik sendirian atau pun berjamaah baru mencapai 38,9% atau 4 dari 10 orang saja. Sisanya masih 'sering' dan 'kadang-kadang' saja shalat 5 waktunya atau 6 dari 10 orang masih 'bolong-bolong' shalatnya.
Ditinjau dari sisi usia/pembagian generasi, semakin dewasa maka cenderung semakin tertib dalam melaksanakan shalat 5 waktu baik sendirian maupun secara berjamaah. Namun, kondisi ini berlawanan dengan generasi yg lebih muda, khususnya Gen Z dan Younger Millenial, semakin muda maka semakin 'bolong-bolong' shalatnya.
Maksud saya menyajikan ini adalah, diambil dari satu Rukun Islam -yaitu shalat lima waktu saja yg sifatnya wajib dan mutlak bagi seluruh umat Islam, kita masih punya pekerjaan rumah yg begitu besarnya. Masih ada 61,1% saudara kita yg harus kita rayu, ajak, motivasi untuk bisa menunaikan kewajibannya.
Siapa yg akan melakukannya? Ya, seluruh komponen dari kita semua. Baik itu tradisionalis, modernis, atau pun yg fundamentalis. Yg tradisionalis, modernis dan fundamentalis menyentuh lewat jalur pendekatan kultural hingga prosedural dengan 'bahasa' yg dipahami oleh masing-masing cluster masyarakatnya.
Percayalah, jika kita sibuk dengan menyelesaikan problematika umat Islam di Indonesia terkait BAB SHALAT 5 WAKTU ini saja, kita tidak ada waktu dan energi untuk berdebat, saling caci, saling hina. kita bahkan sibuk duduk bersama, membuat pemetaan dakwah. Yg tradisionalis dakwah di mana, yg modernis dakwah di mana dan yg fundamentalis dakwah di mana. Targetnya dibuat, misal tahun 2025 ini yg bolong-bolong shalat 5 waktunya harus berkurang minimal 5 dari 10 atau 50%-nya sudah bisa diajak shalat baik sendirian maupun berjamaah. Atau menaikkan prosentase orang yg sudah shalat 5 waktu dari sendirian menjadi kadang-kadang berjamaah atau menjadi sering berjamaah. Serius, sibuk kita. Tak sempat buang-buang waktu dan energi untuk saling membenci. Yg ada adalah saling berkolaborasi.
Nah, jangan-jangan kita tidak punya prioritas dakwah dan tidak tahu data umat Islam di Indonesia potretnya bagaimana. Sehingga sebagian dari kita berdakwah secara sporadis, tanpa rencana. Padahal, gagal dalam berencana adalah merencanakan kegagalan.
Eit, ini baru bab shalat 5 waktu. Nanti kita buka data umat Islam di Indonesia terkait bab Membaca Al Quran misalnya. Beuh, asli tambah tidak ada waktu yg sia-sia.
Melihat ketidakkonsistenan parpol dan tokoh politik saat ini, maka sikap saya makin kokoh :
SISAKAN RUANG KETIDAKPERCAYAAN KEPADA POLTISI.
dan
DEMI MENGHINDARI "MENIPU" RAKYAT - BLM BERKENAN MASUK PARPOL