Males buat FLYER!!!! ๐คญ๐
LIGA FPL SAHAM
Classic : dp0bgo
H2H : qsquv1
Tanpa syarat
Boleh ternak akun
Ga usah follow
Ga perlu retweet
Ga butuh like
Ga pengen komen
JUST JOIN!!!
Hadiah minimalis๐คญ
Juara Classic 50K
Juara H2H 50K
Double Winner 100K
@pisangij01@KoFPLI
Kenapa UN Sebaiknya Tidak Dihapus?
Setelah mendengarkan "Pahlawan Perlu Tanda Jasa" alias pertunjukan stand-up comedy spesialnya Abdur Arsyad.... saya jadi menyetujui perlunya Ujian Nasional (UN) di dunia pendidikan.
Ada beberapa argumen menarik yang disampaikan Abdur karena dia tidak setuju UN dihapus
1. Anggapan UN harus dihapus karena kerap dianggap tidak adil. Sekolah tiga tahun, tapi ditentukan kelulusannya dalam tiga hari. Itu memang tidak adil.
Tapi kalau demikian, disebut apa kehidupan kita ini? Kita selalu di-judge dalam waktu singkat.
Sebagai contoh, pembuatan film yang bisa bertahun-tahun, itu ditentukan dalam hitungan hari di bioskop. Kalau penontonnya sedikit, film-nya langsung turun layar.
Contoh lainnya, pertunjukan satu set Stand Up Comedy itu harus lucu di tiga menit awal. Kalau tidak, akan sulit sampai hitungan jam.
Contoh lainnya, pilot itu akan diapresiasi saat 8 menit ketika take off dan 3 menit ketika landing. Tidak peduli jam penerbangan sudah lama, kalau pilot membuat pesawatnya goyang luar biasa, pasti akan menuai kritik.
2. Anggapan UN harus dihapus karena membuat siswa stres. Pertanyaannya, yang membuat stres itu apakah UN-nya... atau orang tua, keluarga, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, kementerian pendidikan, masyarakat, termasuk kita semua?
UN kerap ditanggapi dengan berlebihan. Misal dulu, setiap jelang UN, ada saja momen siswa-siswa dikumpulkan, diajak refleksi berjamaah, sembari membayangkan orang tua meninggal.
Stres ini akhirnya membuat takut. Ketakutan itu bisa membuat kemampuan seorang siswa tidak keluar maksimal.
Ketakutan bukan hanya pada siswa, tetapi juga orang tua yang takut mendapatkan stigma negatif masyarakat.
3. Anggapan UN harus dihapus karena diuji dengan kemampuan atau pertanyaan yang sama. Justru menurut keyakinan Abdur, di sinilah letak adilnya.
Karena dari Sabang sampai Merauke, uji kompetensi dasar yang sama itu menjadi salah satu indikator pemerataan pendidikan di Indonesia.
Contoh, saat UN masih ada, pemerintah bisa melihat pertanyaan yang sama itu mungkin akan berbeda. Soal nomor 5 misalnya bisa jadi dapat dikerjakan oleh siswa di kota, tetapi tidak di desa.
Dari situlah, ada evaluasi mulai dari guru, bahan ajar, kurikulum, dsb. Harapannya, kemampuan dasarnya jadi merata.
Analogi lainnyanya.. kompetisi AFF itu Indonesia tidak pernah juara. Negara lain sudah pernah juara. Artinya, kita harus perbaiki sepak bola kita, bukan kompetisi AFF-nya yang dihapus.
=======
Abdur juga menceritakan tentang banyak sekolah yang sebelumnya dikenal sebagai sekolah buangan, sekolah-sekolah ala Crows Zero.
Ketika UN masih ada, sekolah-sekolah ini tingkat kelulusannya di bawah 50%. Ketika UN dihapus, sekolah-sekolah ini tingkat kelulusannya selalu 100%.
Kenapa kelulusannya harus 100%? Karena kalau tidak 100%, Kepala Sekolah akan dipanggil Dinas Pendidikan. Karena tingkat kelulusan ini jadi indeks pengembangan manusia yang bisa dipakai sebagai bahan Pilkada.
Bayangkan sejak 2015, banyak siswa lulus tingkat SMA tapi sebenarnya tidak layak lulus. Lalu sekarang, kita mengeluh masalah bonus demografi. Orang stunting pemikiran di mana-mana, itulah hasil dari sistem pendidikan kita tanpa UN.
========
Menurut keyakinan Abdur, kembalikan Ujian Nasional-nya. Tapi kan tidak semua orang bisa matematika? Ya kita buat syarat: UN-nya itu ada, tapi mata pelajaran yang diujikannya itu dipilih oleh siswa berdasarkan bakat dan minatnya.
Hal ini pun sesuai dengan Kurikulum Merdeka yang tengah berjalan saat ini. Karena kelas 2 dan 3 SMA, siswa itu boleh memilih pelajaran yang dia suka. Artinya, kalau siswa sudah dipilih yang disuka dan dikuasainya, masa sih tidak mau UN? Se-bakat-bakat dan se-minat-minatnya seseorang, harus ada standar.
UN ini bisa juga linier dengan jurusan yang dia akan ambil di kampus. Misal, siswa mau kuliah film di IKJ, maka UN-nya adalah seni, bahasa, sejarah. Misal, mau kuliah MIPA di UI, maka UN-nya adalah matematika, fisika, kimia. Misal, mau jadi driver gojek, maka ujian SIM sana.
========
Abdur juga menyampaikan banyak guru yang mengeluh ketika UN dihapus, siswa-siswa itu tidak punya motivasi belajar.
Karena siswa tidak ada target, akhirnya tidak ada yang dikejar di sekolah. Jadinya tidak ada motivasi, tidak ada tantangan. Bayangkan, orang sekolah-tidak sekolah, belajar-tidak belajar, lulus juga akhirnya.
Jadi buat apa belajar?
Nasib Arsenal ditentukan hari ini...
Kalah-->Sisa musim akan menderita, karena masih harus main di UCL
Seri-->Peluang Juara sangat besar
Menang-->Sisa musim EPL hanya formalitas, menambah kepercayaan diri di UCL
Fans Arsenal harus mulai khawatir
Jika akhir musim 0 tropi, timeline kalian akan panas๐
MU ngeledek
City menghina
Liverpool tertawa
Chelsea cacing maki
Bahkan Spurs ikut bahagia
Perkuat doa kalian wahai Gunners
Apakah ini awal "bottle neck"???
Apakah mental Gunners akan terganggu?
Akankah fans nya ter bully lag karena 0 tropi di akhir musim?
Tapi sejujurnya Arsenal layak dapat tropi musim ini, minimal EPL
Duel kalah
Intensitas kalah
Semangat kalah
Ball posession kalah
Skor kalah
Semua aspek kalah๐คฎ
Subs aneh bin ajaib
Siklus Liverpool musim ini :
Bermain bagus banget 1ร
Bermain jelek banget 1 bulan
Arsenal harus juara, demi mengangkat moral dan mental menghadapi sisa musim
Manchester City harus juara, demi meruntuhkan moral Arsenal, dan menaikkan moral tim sendiri
Ini adalah kunci "title race" EPL
Skuad makin tipis
Di bench tersisa Chiesa, dan para bocil
Liverpool harus menang, meskipun dengan ugly win
Btw kenapa curtis yang menggantikan Heki??bukannya lebih baik Ngumoha, Gakpo geser false nine, Wirtz no 10 dan Szobo di area MoSalah
Beberapa kelemahan akut Liverpool musim ini :
-Ga bisa antisipasi set piece
-Ga bisa mempertahankan keunggulan
-Ga bisa kill the game
-Sering kalah duel
-Akhirnya kebobolan di menit akhir