Kaget? Nggak sih. Org Indonesia klo punya kuasa jg akan nindas kok. Satu2ny kuasa mereka cuma agama; dan itulah yg dipake buat nindas
Mentalny mental oppressor. Tp klo disamain sama zionist, ngamuk; pdhl emang 11/12
biar gak homophobic itu simple, cukup hargai aja. hargai dalam hal apa? gak ngurusin. orientasi seksual itu ranah pribadi. selagi gak bikin rugi lu, gak usah dipeduliin. tolong biarkan queer menjalani hidup dgn tenang dan aman
Pride Month legend 3: Alan Turing 🏳️🌈
His work cracking enigma is estimated to have saved 14 million lives & shaved 6 years off WW2. He was rewarded for his efforts by being arrested & chemically castrated for being gay
He received a posthumous pardon from the UK govt in 2013
Kata aku banyak muslim di Indonesia yg masih perlu belajar memanusiakan manusia, menghargai perbadaan, belajar duduk di 1 forum dgn banyak org dg berbagai perbedaan. KELUAR DARI BUBBLE. Belajar agama & be a good servant of Allah tp belajar respectful towards other people too pls
agama abrahamik yang mana si ka? agama katolik sejak tiba di indonesia, dibawa portugis, gak punya budaya “against lgbt” yang sampai mempersekusi lgbt seperti yang terjadi di PNJ itu.
Semoga semua rakyat dilindungi, kaum marginal dijaga. My heart goes out to every queer people in Indonesia. May all be safe, and everyone finds peace and comfort during these harsh times
So much thing to unpack.
Pertama, homophobia itu default-nya masyarakat yang terpengaruh value Abrahamik. Negara-negara barat tahun 50-60an juga level homophobianya tinggi. Tapi dengan berkembangnya pemahaman yang lebih baik tentang seksualitas, homophobia mulai berkurang..
Kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan. Tapi jujur saya bingung gimana melawan orang2 homophobic itu secara tanpa kekerasan ala Mahatma Gandi. Mendiamkan dan hanya berdoa saja tentunya kurang.
Negara ini gagal menjunjung ideologi Pancasila.
1. Sila satu, cuma tau agama abrahamik.
2. Sila dua, minus kemanusiaan terhadap minoritas.
3. Sila tiga, konflik pecah dimana-mana.
4. Sila empat, kerakyatan dipimpin oleh presiden jahat.
5. Sila lima, keadilan cuma buat mayoritas.
Nah, ini yang dari tadi gue rasa banyak orang salah nangkep.
Gue nggak pernah bilang tindakan mereka benar.
Gue juga nggak pernah bilang kampus nggak boleh kasih sanksi.
Mereka tahu tempat, tahu aturan, tahu norma, dan kalau memang melanggar, ya silakan diproses sesuai aturan kampus.
Yang gue kritik dari awal adalah:
Kenapa harus ada penghakiman massal?
Kenapa harus ada kerumunan?
Kenapa ada yang merekam?
Kenapa videonya disebar?
Dan kenapa sebagian orang terlihat lebih menikmati penghukumannya daripada peduli pada prosesnya?
Jadi tolong bedakan antara mengkritik pelanggaran dengan mengkritik cara sebuah pelanggaran ditangani.
Karena dua hal itu tidak saling meniadakan.
Menurut gue sih, mereka salah. Tapi reaksi kampusnya juga berasa kebablasan. Orang ciuman di perpustakaan, bukan korupsi dana kampus.
Yang bikin gue lebih concern justru efek domino setelahnya. Nama udah tersebar, keluarga kena imbas, pertemanan berubah, masa depan akademik bisa berantakan. Hukuman selesai dalam hitungan bulan, tapi jejak digital dan stigma bisa nempel bertahun-tahun.
Kalau sampai beneran DO, ya semoga mereka bisa lanjut kuliah di tempat lain, beresin hidup pelan-pelan, cari kerja yang baik, dan move on. Kadang satu-satunya cara buat mulai dari nol adalah pergi dari lingkungan yang udah keburu ngecap lo seumur hidup karena satu kesalahan.
Boleh kasih sanksi. Tapi kalau sampai hidup dua orang harus dihancurin demi jadi efek jera, itu namanya bukan edukasi lagi, tapi tontonan.
Dua laki-laki ciuman secara konsensual itu non-issue, harmless, dan victimless BANGET. Kalo PNJ mau pakai kode etik atas nama otonomi kampus, tolonglah mahasiswa tsb jangan dikeluarkan. Kampus harusnya hormati martabat mahasiswa dan lindungi mahasiswa dari persekusi publik!!