setiap orang punya trauma, entah trauma tentang relationship, pertemanan, pekerjaan, atau mungkin keluarga.
it's ok, semua itu bagian dari perjalanan hidup, harus yakin bisa bangkit dari trauma meski itu susah. prioritasin self love dan mental health kamu dulu baru orang lain.
cuma mau bilang:
yang kuat ya, jangan kalah dengan keadaan, jangan kalah sama mental dan traumamu.
memang capek, pasti sakit dan banyak pahitnya. mungkin kamu akan menangis sejadi-jadinya, tapi bukan untuk putus asa. dewasalah dengan cara yang elegan, tanpa harus mengemis belah kasihan.
tetap lah apa?
tetaplah baik meski rasanya sia-sia, tetaplah membantu meski ga ada yg lihat, tetaplah jujur meski sering dibohongi, tetaplah kuat meski sering diremehin, tetaplah hidup meski rasanya sulit, ditengah dunia yg gelap tetaplah terang.
Laki laki itu over excited, punya uang 100rb, 20rb nya buat beli bensin lalu 80rb nya buat nemuin anak orang cuma biar bisa jajanin dan biar bisa denger kalimat "makasih yaa buat waktunya"
auranya tenang, tatapanya tajam, menyukai keheningan, tak banyak bicara, dan tak terlalu menyukai keramaian.
dia adalah anak didikan semesta yang selalu di tempa untuk terus menari walaupun di tengah badai.
setelah berhenti menunggu, aku sudah tidak merasakan apa pun lagi. tidak ada jatuh dan patah hati yang kurayakan. tidak ada rindu yang merayu temu. tidak ada pertanyaan akan bersama siapa di masa depan. aku melanjutkan hidup, merawat harapan kecil yang cukup untuk diriku sendiri.
yang berhenti itu komunikasinya, bukan perasaannya.
yang asing itu orangnya, tapi tidak dengan memorinya.
jadi wajar saja kalau dia "gamon" dan dikit-dikit kangen atau bahkan nangis kalau "dejavu".
bukan karena pengen balikan lagi, tapi memang prosesnya sesakit itu!
tertampar sama quotes ini:
anak kecil yang dulu dibesarkan dengan ayat dan larangan, kini justru merasa aman di antara dosa-dosa yang tak pernah selesai ia tinggalkan.