"Kalau nanti kita putus, tetep nyapa ya pas ketemu."
"Kita nggak akan putus."
Udah nonton versi aslinya alias Us and Them yg "raja tega" itu, tapi Once We Were Us tetep berasa ya nyakitinnya yg nggak main-main mencabik-cabik hatinya sampe rasanya pengen mukulin kursi bioskop. Barangkali belum tahu, ini bukan tontonan romance yg bikin senyum merekah & hati berbunga-bunga meski paruh awalnya indikasikan begitu. Sebaliknya, kita jadi saksi pilu kandasnya hubungan asmara dilindas realita hidup nan pahit yg apa-apa butuh duit.
Membelah linimasa penceritaan jadi dua, masa kini & masa lampau, penonton dipertemukan pada sepasang mantan kekasih yg tanpa sengaja berjumpa lagi usai terpisah selama bertahun-tahun. Saat habiskan malam bersama, keduanya saling bernostalgia sembari utarakan penyesalan, maaf serta "what if". Dari sini, kita tak hanya rasakan kegetiran yg goreskan rasa nyeri & sesak di hati, tapi juga air mata pedih yg uniknya hadirkan pula kelegaan seperti dikasih closure yg selama ini dibutuhin saat film bicara mengikhlaskan tanpa melupakan orang-orang yg pernah punya tempat spesial di hati kita.
Cakep!