bukan mau adu nasib, saya hanya mengaminkan kesaksian Pak Imam di MK.
selama berstatus cpns di 1 tahun pertama, saya menerima gapok 80% dari 2.9 juta yg artinya sekitar 2.3 juta + uang makan tanpa fungsional, remun, serdos (smp skg pun msh belum eligible).
susah? BWANGETTT,
cukup? jelas tidak. bulanan untuk ngekos/kebutuhan harian/dll sangat mustahil untuk bertahan sebulan.
untuk survive dalam sebulan sering bgt pulang ngantor kadang sore-kadang malam msh harus kerja side job halal apapun sampe lewat tengah malem untuk menambah pundi-pundi rupiah.
ini baru pns, saya yakin temen-temen dosen di PTS kebanyakan nasibnya lebih parah dari saya.
ayolah teman-teman dosen, fakta setelanjang ini masih membuat kita merasa baik-baik saja?
ayo kita memperjuangkan bersama kesejahteraan dosen Indonesia yg lagi diperjuangkan temen-temen di MK, bukan per kampus.
kalau kemudian regulasi berubah & tuntutan diterima, kita semua dosen, mau ASN, no ASN, PTS & PTN semua akan menikmati.
Klarifikasi Desak Made Rita ini contoh klasik ketimpangan kekuasaan dlm relasi atlet-federasi-pemerintah.
Atlet seringkali berada dlm posisi rentan krn ketergantungan pd pendanaan, fasilitas, dan izin karier yg dikontrol oleh otoritas.
Sebaiknya pemerintah melihat komentar Rita dlm wawancara setelah juara di Polandia itu bukan sbg bentuk pembangkangan. Tetapi masukan utk evaluasi dan membuka mata lebar2.
Atlet berprestasi level dunia, tak jelas keberangkatannya, lalu nggak didampingi oleh ofisial, fisioterapis, dan masseur itu jelas konyol.
Benar kata Rita di wawancara itu, memang nggak ada dukungan dari pemerintah.
Agaknya kurang tepat, ketika ditanya ttg penggunaan uang pajak utk. Kopdes oleh Densu, Menkeu Purbaya menjawab dgn songong: Apa Anda, Bos saya? Densu itu mewakili pembayar pajak? https://t.co/H1mQlq6FxW lewat @YouTube
Seorang pengusaha dan investor asal Inggris Martyn Terpilowski ikutan memberi kritik soal penunjukan Ginka dan asisten Raffi Ahmad sebagai komisaris BUMN. Lewat akun Linked-in miliknya, Martyn mengungkapkan kekecewaannya dan melihat kalau pemerintah nggak peduli dengan pandangan investor internasional terhadap Indonesia.
Bahkan di kolom komentarnya, ia menyebut penunjukan komisaris-komisaris ini dengan “ludicrous appointments”
Tidak hanya UNHAN tapi juga sekolah-sekolah kedinasan lainnya..
IPDN, STAN, dan STIS setahu gw masih disubsidi full.
Dulu sempat ada kajian dari KPK di 2024.
Kata KPK, hanya Rp 39 T dari APBN 2024 yang digunakan untuk membantu uang kuliah mahasiswa.
32 Tnya dipake untuk anggaran kedinasan, mahasiswa PTN hanya dapat 7 triliun.
Sejauh ini belum tahu apakah di 2025 dan 2026, trennya masih sama? Bahwa subsidi ke sekolah kedinasan lebih besar ketimbang PTN..
Tapi yang jelas,
ITB sudah ngeluh
Dana APBN hanya sanggup untuk membiayai 18% operasional kampus.
===
At the end, gue dah bilang
Ga ada alasan PTN itu mahal.
Ini semua kembali ke political will dan skala prioritas pemerintah aja.
Kalau pemerintah niatnya mau subsidi seluruh PTN juga bisa kok..
Bahkan merevisi UU Dikti agar pemerintah diwajibkan untuk subsidi PTN itu semua bisa kok..
Lah Omnibus Law aja bisa cepat kok pembahasannya..
‼️SELESAI‼️
World Climbing Series, Krakow 2026
Kontingen Indonesia
✅7 atlet
✅1 pelatih
✅0 official
✅0 fisioterapis
✅0 masseur
✅0 detik waktu latihan dan adaptasi
🥇Emas (Desak Made Rita)
🥈Perak (Mixed Relay: Desak Made Rita-Antasyafi Robby Al Hilmi)
🥉🥉Perunggu (Raharjati Nursamsa, Women's Relay: Desak Made Rita-Rajiah Sallsabillah)
Seandainya pemerintah lebih mendukung..
Kenapa sih jika guru dan dosen meminta hak kesejahteraannya sepertinya berat sekali dipenuhi?
Ada saja alasan pembenaran dan penolakannya. Mulai dari alasan ‘moral’ hingga anggaran.
Saya tidak berbicara pada level guru atau dosen yg berstatus ASN saja. Swasta pun demikian.
Saya pernah mengantarkan seorang Guru Besar Fakultas Hukum senior di salah satu universitas swasta besar mahasiswanya ribuan (bahkan puluhan ribu), ketika terbaring sakit, bahkan institusi kampusnya tidak memfasilitasinya dengan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
🚨Fabio Capello on Paraguay’s performance against France:
🎙️ Reporter: “Fabio, what did you make of Paraguay’s performance tonight?”
🗣️ Fabio Capello:
“I’ve been in football for decades, and I honestly didn’t know you could commit what felt like thirty fouls in one match and still avoid a yellow card for so long.
You want your players to be aggressive, yes. But there is a difference between being competitive and constantly breaking up the game.
For me, Paraguay crossed that line too many times. Every time France tried to build momentum, there was another foul, another stoppage, another confrontation.
I understand fighting for your country, but football has to remain football. If your biggest contribution is kicking people instead of playing the game, then you’ve got your priorities wrong.
I’m actually surprised the referee allowed so much to go unpunished. It encouraged even more reckless challenges.
Paraguay have some talented players, but tonight they’ll be remembered more for their physical approach than for their football. That’s not the legacy you want to leave at a World Cup.
“my (our) government didn’t support us”
dawg while indonesia is one of the powerhouse countries for speed category?? WE SERIOUSLY NEED TO NUKE THE GOVERNMENT