Guys, kalau yang mengkritik MBG adalah pengamat ekonomi atau oposisi politik itu mudah diabaikan. Tinggal bilang mereka tidak suka pemerintah, selesai.
Tapi kalau yang berbicara adalah Deddy Corbuzier orang yang dulu bela program ini mati-matian di depan jutaan subscriber-nya itu adalah sinyal yang jauh lebih keras dan jauh lebih sulit untuk dibungkam.
Apa yang Deddy bilang:
"Waktu itu saya bela mati-matian program MBG, karena menurut saya pribadi pada saat itu program ini mulia banget."
Dan sekarang dia menyesal pernah membelanya.
Bukan karena idenya salah.
Tapi karena implementasinya berantakan.
Supply chain kacau.
Anggaran bocor di lapangan.
Tidak ada piloting sebelum program diluncurkan
ke skala masif.
Tidak ada pengawasan yang memadai.
Dan bukti paling viral yang dia sebut:
mitra SPPG yang berjoget sambil pamer insentif harian Rp6 juta.
Di saat program ini diklaim untuk mengatasi kekurangan gizi anak-anak ada pihak yang justru menikmati uang itu sambil joget di depan kamera.
Ini bukan soal Deddy saja
ini soal pola yang berulang:
Feri Amsari yang hadir di podcast itu menyambungkan dengan cara yang sangat tepat:
dia tidak menolak IKN karena konsepnya buruk.
Dia menolak cara mewujudkannya.
Dan hal yang sama persis terjadi dengan MBG.
Ini adalah pola yang sudah sangat dikenal dalam sejarah kebijakan publik Indonesia.
Ide bagus di atas kertas, kacau saat dieksekusi.
Bukan karena tidak ada orang pintar yang merancangnya tapi karena tidak ada mekanisme kontrol yang jujur selama pelaksanaannya.
Tidak ada pilot project berarti tidak ada kesempatan untuk menemukan masalah sebelum uang ratusan triliun digelontorkan.
Tidak ada pengawasan yang ketat berarti setiap titik distribusi adalah peluang kebocoran.
Dan kebocoran itu tidak hilang ke udara dia masuk ke kantong orang-orang yang tepat waktu berjoget di depan kamera.
Yang paling miris:
Program yang diklaim untuk mengatasi malnutrisi anak-anak Indonesia yang anggarannya dipotong dari berbagai pos termasuk pendidikan dan infrastruktur ternyata sebagian anggarannya mengalir ke insentif harian mitra SPPG Rp6 juta per hari.
Rp6 juta per hari.
Untuk seseorang yang tugasnya mendistribusikan makanan.
Sementara guru honorer yang mendidik anak-anak yang sama masih ada yang digaji di bawah Rp500.000 per bulan.
Ini bukan soal sirik atau iri.
Ini soal prioritas yang sangat tidak masuk akal.
Deddy Corbuzier tidak anti pemerintah.
Dia tidak sedang cari panggung oposisi.
Dia adalah orang yang genuinely percaya pada program ini dan rela menggunakan platform jutaan subscriber-nya untuk membelanya.
Dan sekarang dia bilang menyesal.
Itu bukan kritik dari musuh.
Itu evaluasi dari orang yang tadinya
ada di pihak yang sama.
Dan justru karena itulah sulit untuk tidak mendengarnya.
Pertanyaan yang harus dijawab pemerintah
bukan "apakah idenya bagus"
semua orang setuju idenya bagus.
Pertanyaannya adalah:
sudah berapa triliun yang keluar,
sudah berapa yang sampai ke anak-anak yang benar-benar kekurangan gizi,
dan siapa yang bertanggung jawab
atas semua yang bocor di antaranya?
Selama pertanyaan itu tidak dijawab dengan data yang jelas dan transparan maka kekecewaan Deddy Corbuzier hanyalah satu dari sekian banyak suara yang akan terus datang.
saya pak, tgl 5-11-2023, di Vivo Service center Plasa Marina Surabaya, yg masih tercover garansi penggantian layar Vivo X60 yg terkena green line, hanya menunggu 1 jam (krn stok lcd ada), hasilnya memuaskan, tempat nyaman. top deh menurut saya untuk Vivo..
Penggawai, dalam sebulan terakhir, adakah yang usai berurusan dengan pusat perbaikan resmi Xiaomi/POCO, vivo, dan OPPO?
Tolong ceritakan pengalaman penggawai. Sekadar untuk tinjau silang sih.
@herrysw saya pak, tgl 5-11-2023, di Vivo Service center Plasa Marina Surabaya, yg masih tercover garansi penggantian layar Vivo X60 yg terkena green line, hanya menunggu 1 jam (krn stok lcd ada), hasilnya memuaskan, tempat nyaman. top deh menurut saya untuk Vivo..