BERJALAN DI TENGAH BADAI
Memoar dr. Tifauzia Tyassuma
Aku tidak memilih jalan ini.
Aku hanya mengikutinya,
ketika angin mulai berbisik di hatiku:
“Bangsa ini sedang dipaksa mencintai kebohongan.
Dan engkau, harus berdiri untuk mengatakan tidak.”
Aku hanyalah perempuan yang mencintai kebenaran seperti ibu mencintai anaknya:
diam-diam, dalam, dan tanpa syarat.
Tapi cinta pada kebenaran adalah jalan sunyi.
Dan ketika aku mulai bertanya tentang satu lembar ijazah,
aku tidak sedang mempersoalkan gelar,
aku sedang mempersoalkan nasib bangsa, kini dan di masa depan.
Sejak hari itu, hidupku bukan lagi milikku.
Rumahku dan semua yang kulakukan, dalam pengawasan,
anak-anakku bertanya apakah aku akan dibawa pergi,
dan para sahabat mulai membisiki:
"Hati-hati, kau sedang mengusik mantan penguasa yang masih memiliki kuasa.”
Tapi bagaimana mungkin aku diam,
saat yang palsu diangkat sebagai panutan,
dan yang benar diancam untuk dilenyapkan?
Aku tahu siapa yang kuhadapi.
Bukan sekadar satu orang,
tetapi sistem,
narasi yang dibangun dengan propaganda,
dan penjara diam-diam yang mengurung mulut rakyat.
Mereka tidak takut pada kebohongan,
mereka takut pada satu orang yang
tidak takut pada mereka. Dan tidak takut pada Sang Pemilik Kebenaran.
Aku telah berjalan dalam badai ini,
tanpa jubah kehormatan, tanpa pasukan, tanpa perlindungan kuasa.
Hanya dengan pena, data, dan kepercayaan bahwa,
Allah tidak pernah membiarkan kebohongan menang selamanya.
Dan kini, aku tidak takut lagi.
Karena ketika mereka mengancamku dengan penjara, aku sadar:
Yang paling mereka takuti adalah jiwa yang tidak bisa dipenjara.
Yang mereka incar bukan tubuhku,
tetapi suaraku, pikiranku, kesaksianku.
Data dan nalar yang bisa membangunkan bangsa dari tidur panjang yang ilusif.
Aku berjalan tidak untuk membunuh siapa pun.
Aku tidak ingin menggulingkan siapa pun.
Aku tidak ingin menghina atau merendahkan siapapun, sebab pada dasarnya yang menggunakan dan merendahkan adalah dirinya sendiri.
Aku hanya ingin kita kembali ke titik asal:
Kebenaran sebagai fondasi bangsa.
Jika kita membiarkan satu kebohongan besar lolos,
maka seluruh bangunan negara ini akan tumbuh dengan akar yang busuk dan batubata yang lapuk.
Hari ini, aku mungkin terlihat sendiri.
Tapi aku ditemani oleh sejarah.
Dan sejarah memiliki suara yang pelan namun tak bisa dibungkam:
“Akan datang masa, ketika bangsa ini sadar, bahwa perempuan yang mereka fitnah hari ini, adalah pelita di tengah malam kekuasaan.”
Aku hanya ingin dikenang...
...bukan sebagai pembongkar,
tetapi sebagai penjaga ingatan bangsa.
...bukan sebagai perusuh,
tetapi sebagai ibu yang tidak rela anak cucunya dibesarkan dalam negara yang dibangun di atas kepalsuan.
...bukan sebagai musuh negara,
tetapi sebagai cermin yang pernah diletakkan di hadapan bangsa ini.
Dan jika suatu hari aku tiada,
entah apakah seluruh kebohongan sempat dibuka atau disegel dalam pembungkaman abadi,
maka biarkan memoar ini menjadi pusaka,
biarkan suaraku tetap hidup dalam tulisan ini,
dan biarkan Allah sendiri yang membela apa yang kusebut kebenaran.
dr. Tifauzia Tyassuma
“Seorang perempuan yang memilih berjalan di tengah badai, karena langit memanggilnya untuk tidak bersembunyi.”
Banyak orang bertanya,
mengapa aku begitu berani melawan seorang mantan penguasa yang menggenggam Hukum dan memiliki uang dalam bunker dalam jumlah begitu besar?
Jawabku sederhana:
Karena dia telah mengancamku dengan pasal-pasal karet ancaman penjara enam tahun, delapan tahun, dua belas tahun.
Dan justru di situlah aku menemukan kemerdekaanku.
Sebab ketika seorang manusia telah dihitung untuk dipenjara
oleh seorang penguasa jahat, yang di tangannya ada banyak pertanyaan tentang kemana nyawa 300 korban Kanjuruhan, 900 Petugas KPPS, Mujahid Korban KM 50, korban kelaparan Yahukimo dan banyak daerah lain,
maka dia pun bebas dari semua belenggu yang mengikat manusia lain,
Apalagi kehilangan yang kutakuti?
takut kehilangan nama, harta, pangkat, bahkan hidup?
Aku tidak punya nama besar di mata manusia yang kutakuti hilang ketika di penjara.
Aku tidak punya harta yang membuatku takut berpisah darinya
Aku tidak punya pangkat yang kutakuti akan lepas dariku
Aku tidak takut kehilangan hidupku karena hidup matiku bukan di tangan manusia.
Justru dengan keberanianku,
kuharap namaku mulia di mata Allah, yang kuperjuangkan ini jadi amal jariyah yang membuat hidupku berkelimpahan sampai akhir zaman, pangkat terbaik dariNya adalah Husnul khatimah, dan hidupku tak akan bisa diambil manusia karena sepenuhnya ada dalam genggamanNya.
Apa lagi yang bisa mereka ambil dari diriku, ketika yang kubela bukan sekadar kebenaran... tapi cahaya nurani yang tak bisa mereka sentuh?
Aku tak melawan karena aku berani.
Aku berani karena dalam hukum yang dirusak dan Penegak Hukum yang dijadikan kaki tangan oleh Penguasa Jahat,
Aku kehilangan alat tawar.
Dan dari titik itulah, aku menjadi tak tergoyahkan.
Karena, dia yang tak punya lagi apa pun untuk ditakuti, adalah dia yang tak lagi bisa dikalahkan."
Dan aku tahu
Allah cinta padaku.
Allah menjagaku.
Allah melindungiku.
Allah mencukupiku.
Allah tak akan membiarkanku sendirian, dimanapun aku berada.
@DokterTifa Insya Allah Yg Benar Tetap dilindungi Oleh Allah SWT. Yg Zolim Akan di Laknat.
Semangat y @DokterTifa demi mePerjuangkan Kebenaran
Semoga Selalu dlm lindungan Allah SWT
AMIN
Kepada seluruh TPP se Indonesia silahkan isi tweebon, lalu share di medsos: Facebook, tweeter, Instagram dan tik tok serentak jam 12.00-14.00 WIB, lalu like, coment, dan share. Minimal 5 x per TPP. Terima kasih🙏
#CopotYandriSusanto#ReshuffleYandriSusanto@prabowo
Selamat Hari Raya Idulfitri 1446 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Di hari yang suci ini, mari kita eratkan silaturahmi, satukan hati, dan saling memaafkan demi Indonesia yang lebih damai dan maju.
🙏🇮🇩🕌
#idulfitri2025#1446H#POV#monas#desert