2016-2019
Me, an Inspirit since 2010 who used to watch Infinite through screen, finally made it to Korea and met them in person ๐
I've achieved my dreams; completing Master degree in Seoul National University and being a happy fangirl โค
Thank you @Official_IFNT@HoWon_official
Guys..
Suaminya sempat kepikiran poligami.
Dan jawaban si istri ini bukan tangisan, bukan drama, tapi dingin dan lugas.
Dia bilang silahkan, tapi ceraikan dulu. Bukan karena dia ga sayang, tapi karena dia jujur sama dirinya sendiri.
Dia tau dia bakal rewel, bakal tersiksa, dan dia ga mau jadi istri yang buruk hanya karena dipaksa situasi yang dia ga sanggup jalani.
Satu kalimat yang langsung bikin suaminya diam di tempat.
"Aku nggak merasa ada untungnya buat aku."
Bukan kalimat emosi. Tapi kalimat yang keluar dari kepala yang jernih.
Si istri ini bukan perempuan yang bergantung. Dia kerja, anaknya terurus, rumah beres, kebutuhan suami terpenuhi, dan dirinya sendiri juga terawat.
Dia ngerasa ga butuh saudara madu karena emang ga ada yang kurang.
Tapi dia juga ga mau disalahpahami sebagai perempuan sombong yang merasa bisa hidup sendiri. Dia bilang tetap butuh suami, tetap senang dinafkahi dan dilindungi.
Karir buat dia bukan soal gaya hidup, tapi soal akal sehat. Kalau suatu hari suami ga bisa kerja, dia ga mau kelabakan.
Yang paling keras dari utas ini justru bagian soal poligami itu sendiri. Dia bilang nafkah bukan cuma soal uang.
Ada rasa aman, kasih sayang, waktu, perhatian, bimbingan.
Dan itu semua harus dibagi rata. Bukan hal kecil.
Di kolom komentar banyak yang relate.
Ada yang bilang takut poligami karena ngeri ga bisa adil dan itu ada hisabnya di akhirat.
Ada yang lebih keras lagi, bilang kalau berani poligami jangan harap bisa ketemu anak-anaknya.
Ada juga yang becanda tapi serius, bilang ga mau dimadu karena takut nanti madunya malah diracunin.
Menurut kalian, jawaban istri ini terlalu keras atau justru paling masuk akal?
Gottman Institute, lembaga riset pernikahan 40 tahun, punya istilah untuk ini:
Emotional Withdrawal.
Bukan marah. Bukan benci. Tapi BERHENTI mencoba.
Data mereka:
Rata-rata istri menyampaikan keluhan yang sama 6 kali sebelum berhenti bicara.
6 kali, Pak. Dan setelah berhenti? Gottman bilang: pasangan punya window 6โ18 bulan sebelum hubungan masuk fase "emotional divorce" ,
masih tinggal serumah, tapi sudah hidup terpisah secara emosi.
Mereka gak cerai. Tapi mereka juga gak bersama.
Kalian ngerasa ga sih, mall masih rame, antrian kopi masih panjang, restoran masih penuh.
Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah.
Nama fenomena ini adalah Lipstick Effect.
Dan ini justru sinyal bahaya loh!๐งต
Mau cerita lagi, proses saya bisa yakin buat ngajakin nikah doi.
Sebelum ketemu doi, saya memang beberapa kali nyoba pdkt sm cewe, tapi gak ada yg bener2 cocok. Entah dari komunikasi atau karakternya.
Entah kenapa ada perasaan gak nyaman dan gak jadi diri sendiri. Tiap ngobrol, kayak masi jaim dan gak bisa lepas. Atau, karaykternya yg ternyata terlalu dominan/pasif bagi saya.
Nah, pas ketemu dan ngobrol sm doi, saya ngerasa lebih nyaman, gak jaim, jokes nyambung, dan yg paling penting jadi diri sendiri. Dia jg bukan tipe yg terlalu dominan/pasif, tau kapan menempatkan diri.
Bagi saya, salah satu syarat utk nyari jodoh ya ngobrolnya bisa nyambung. Sebab, pernikahan kan isinya komunikasi. Kalo dari awal gak cocok, kemungkinan pas nanti ngadepin masalah bisa cekcok.
Kalo kata Gus Baha', "Kalo sudah berani menikah itu, harus berani mula'abah. Artinya ngobrolin hal2 yg gak penting, main2, atau sering bercanda. Karena seninya nikah itu ya mula'abah, ngomong yg rileks dan asyik. Sebab, bisa tertawa bareng istri itu mewah sekali."
seberapa keren TODDLER kalian?
Aku duluan ya ๐
Pas antri kasir swalayan,
ada ibu2 nyrobot antrian di dpnku,
kutegor utk antri, dia jwb:
๐น: "aduh itu anakku kasihan kl nungguin antri lama"
๐ง: tetep antri Bu"
๐ถ: Tante, jgn kasihan sm anak Tante doang.
Aku jg anak2 capek jg kl nunggu Tante bayar.
๐น: "saya cuma beli ini doang dek"
๐ถ: "malu dong Tante, kaya gak berpendidikan aja gak mau antri, aku anak TK aja bisa antri"
Lalu mundur antri dia,
dan yg antri di blkgku pd TOS sm anakku
cc:threaddotika
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."๏ฟผ
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.๏ฟผ
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.๏ฟผ
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.๏ฟผ
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.๏ฟผ
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.๏ฟผ
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.๏ฟผ
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.๏ฟผ
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.๏ฟผ
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.๏ฟผ
Ini pernah kutanyakan sama suami sebelum nikah. Maklum saya ga pernah check apapun pas muda. Bahkan ga mau ribet check2 setelah nikah. Prinsipnya dikasih puji Tuhan, gak pun gpp.
Saya blg ke dia, 'Umur ku uda 33 tahun. Kalo kita ga bisa punya anak krn aku mandul gmn'
Dia blg, 'Ya gpp bisa juga krn aku yg mandul'
Saya tanya lagi, 'Kalo keluarga dan org2 sekitar protes gmn'
Dia jawab, 'Yauda ntar blg aja aku yg mandul. Bukan kamu. Aman. Lagian aku nikah sama kamu bukan buat punya anak. Buat hidup bareng'
Setelah kami nikah, sebulan kemudian saya hamil. Skrg uda anak satu perempuan umur 2,5 tahun.
Saya gak mau banyak omong gmn jadinya kalo saya dan suami beneran gak dikasi anak. Karena saya tau, itu gak mudah. Dan saya GAK MENGALAMI.
Terutama saya punya teman-teman yg dihadapkan sama situasi itu di NEGARA ini. Dan perempuan selalu jadi objek pertama yg dipertanyakan.
Saya hanya berharap masyarakat kita bs belajar untuk stop mencampuri rumah tangga orang. Jangan pake standard kamu ke kehidupan org lain. Be a good neighbor in this world.
This is the video of the Horrific daycare abuse in Yogyakarta: 53 toddlers tied up, drugged & neglected. 13 suspects arrested.
https://t.co/B7yu9eWsxe
โNgapain perempuan sekolah tinggi? Ujung-ujungnya juga di dapurโ
Well you need to be educated enough to know that there are SOOOOOO MANYYYYY PRAKTIK KEBODOHAN YANG SUDAH DINORMALISASI WHEN IT COMES TO MENGURUS ANAK.
- Abis lahiran perutnya diurut katanya biar rahimnya naik
- Menyusui gaboleh makan daging, banyakin sayur aja
- Pijet bayi sampe jerit-jerit
- Kasih pisang ke anak < 6 bulan katanya biar kuat
DAN MASIH BANYAK LAGI.
Setelah aku punya anak bener-bener aku ngerasain banget pentingnya seorang ibu itu pinter! Jangan setiap ada yang nyaranin langsung diikutin. Cek dulu!
And you still think perempuan ga mesti pinter? Kalo iya berarti elu yang kurang pinter.
bukan soal โjinโ atau energi gaib gitu, tapi pure psikologi + neurokimia.
(setau gw)
kalau di psikologi namanya: premature sense of accomplishment atau social reality substitution.
orang punya rencana yang masih vague (gak jelas, gak ada deadline, gak ada step konkrit), terus dia cerita ke orang-orang โ langsung dapet reaksi positif:
โwah keren bro!โ
โmantap tuh rencananyaโ
โsemangat ya!โ
otak langsung ngerasa โudah dong, udah diakuinโ.
dopamine naik, tapi itu dopamine murahan dari pujian, bukan dari progress beneran.
akhirnya motivasi asli (yang seharusnya datang dari ngerjain) malah drop, jadi males gerak, rencananya mandek.
โdia udah puas duluan karena pujian โ semangatnya berkurang.โ
malah ada penelitian klasik dari Peter Gollwitzer (nyeritain โwhen intentions go publicโ) yang nunjukin:
orang yang share goal ke orang lain cenderung kurang achieve goal-nya dibanding yang diem-diem.
karena otaknya udah ngerasa โgoalnya udah sebagian tercapaiโ gara-gara diomongin.
tapi ada caveat:
kalau goal lu super jelas, spesifik, dan lu share ke orang yang bener-bener bisa kasih accountability (misal mentor, partner, atau circle kecil yang strict), justru bisa nambah motivasi.
tapi banyak kasus orang Indonesia?
mereka share ke temen-temen yang cuma bisa bilang โmantap broโ doang dan efeknya malah negatif.
jadi intinya bukan rencananya yang gagal karena diceritain, tapi cara orang nyeritainnya + kualitas rencananya yang bikin gagal.
gw sendiri kalau ada target gede, lebih sering diem dulu sampe ada progress nyata baru cerita.
lebih aman buat dopamine-nya, kalau kalian biasanya gimana? kalau ada rencana penting, kalian share atau diem?
by..tahukah kamuโฆ dalam Al-Qurโan, Allah berulang kali berbicara kepada perempuan dengan satu pesan lembut :
โLaa tahzaniiโ โ Jangan bersedih hati.
(QS. Maryam: 24, QS. Al-Qashash: 7, QS. Al-Ahzab: 35)
Kalimat itu bukan sekadar larangan.
Tapi penenang dari Zat yang tahu betul isi hatimu.
Dan kalimat itu bukan sekadar nasihat. Tapi pelukan paling lembut dari langit.๐ค