knapa yh org memilih jahat pdahal klo jahat tu gk enak selalu waswas n kawatir,klo jdi baik kan enak hidup tenang trs bnyk yg doain yg baik2 jdi hidup kita slalu tentram n sjahtera
Fun fact
BJ Habibie pernah pulihkan rupiah dari Rp 16.800 ke Rp 6.550
Fakta yang tidak akan bisa diterima oleh para pembela pemerintah, yang menyuruh rakyatnya untuk tenang aja disaat dollar naik, mbg itu bermanfaat dan ngga ada korupsi.
Hai haii-!!!
Aku caca, anak dari konsultan pernikahan dan aku sering bgt liat mama dapet klien seperti ini…
Mama selalu ngasih solusi untuk para laki2 dan perempuan (apalagi anak2ny) kayak gini :
“Saat ingin menikah ada 4 perkara yang harus dipenuhi!
1. Komunikasi
2. Agama
3. Finansial
4. Keluarga
Kenapa ada ke-4 perkara tersebut? Karena 4 hal tersebut merupakan masalah terbanyak yg menyebabkan perceraian.
Komunikasi ga cuma ngobrol aja, tapi ada love language yang saling melengkapi, ada keterbukaan antara suami maupun istri. Jangan pernah berfikir kalo suami harus kuat selalu! Engga! Justru menikah atau punya istri adalah safe space suami! Tapi, kalau udh KDRT, cabut.
Agama? Ga cuma sholat dan ngaji weii… lihat gimana dia ke tuhan dan dia ke orang sekitarnya. Itu mencerminkan agamanya dia. Judgmental? Habluminannas-nya ga bagus.
Finansial? Sebelum nikah ini harus jujur satu sama lain, pinjol, judol, gaji, buat orang tua, buat kebutuhan dan nafkah harus tau! Kalo cocok jalan kalo ga? Lewat aja
Keluarga? Loh, kenapa?
Lihat bagaimana keluarganya, apakah tangki cinta ibu dan ayah terpenuhi? Apakah keluarganya sudah selesai dengan masalah pribadinya?
Kalau tidak ini akan ada masalah pada iri dan cekcok mertua mantu atau bahkan ipar.
Suami yang baik adalah cerminan istri yang menemani, dan begitu sebaliknya istri yang baik adalah cerminan suami yang menuntun istrinya.”
Gw mau lo baca ini pelan pelan.
Pak Purbaya bilang kalau anggaran kurang, pilihannya cuma dua. Geser anggaran pembangunan atau BBM naik. Yang tidak akan digeser adalah anggaran Makan Bergizi Gratis.
Sekarang gw mau kita hitung bareng.
Anak sekolah dapat makan gratis 10 ribu per hari.
Tapi BBM naik harga logistik naik. Harga logistik naik semua harga barang di pasar naik. Bahan makanan naik. Ongkos transport naik. Tagihan listrik naik.
Satu keluarga bisa keluar tambahan ratusan ribu per bulan karena efek domino BBM naik.
Tapi anaknya dapat makan gratis 10 ribu per hari.
Jadi pemerintah dengan bangga kasih 10 ribu ke anak lo di sekolah sementara mereka ambil jauh lebih besar dari meja makan keluarga lo di rumah.
Dan ini dikemas sebagai kebijakan pro rakyat.
Yang lebih bikin gw geleng geleng ini bukan kebodohan. Ini kalkulasi.
Karena makan gratis itu kelihatan. Bisa difoto. Bisa dijadiin konten. Bisa dijadiin legacy program.
Tapi dampak BBM naik itu tersebar. Gak kelihatan langsung. Gak ada yang foto ibu rumah tangga yang diem diem ngurangin lauk karena harga naik.
Mereka tau persis mana yang akan diingat publik.
Dan mana yang akan ditelan diam diam.
Kalau diskusinya masih sebatas “laki-laki provide rumah, mobil, lalu perempuan provide apa,” berarti pemahamannya masih di level transaksi, bukan pernikahan.
Karena hari gini, banyak perempuan bisa provide rumah, mobil, dan kehidupannya sendiri. Itu bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik laki-laki.
Yang jauh lebih langka dan jauh lebih mahal adalah kemampuan membangun dan mengelola kehidupan bersama.
Pernikahan bukan semata biaya rumah dan mobil. Itu bagian obrolan level permukaan banget 😅
Biaya terbesar dalam pernikahan adalah hal yang tidak bisa dibeli pake uang: kematangan emosional, kapasitas intelektual, stabilitas karakter, dan kemampuan mengelola rumah tangga sebagai sebuah sistem.
Apalagi kalau you memutuskan punya anak.
Biaya membesarkan anak bukan hanya makan dan sekolah. Tapi kemampuan orang tua menjadi figur yang stabil, hadir, dan layak dicontoh. Kemampuan mengelola emosi. Kemampuan membuat keputusan jangka panjang. Kemampuan menjaga struktur keluarga tetap utuh. Semua itu ngga bisa digantikan oleh uang.
Jadi kalau diskusinya masih berhenti di “siapa provide rumah dan mobil,” honestly bukan perempuannya yang perlu dipertanyakan.
Tapi kesiapan berpikir laki-lakinya.
Karena pernikahan bukan tentang siapa membawa apa. Tapi tentang apakah dua orang punya kapasitas untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri?
Kalau masih melihatnya sebagai transaksi, mungkin memang belum siap untuk menikah.
Anak magang sering dibilang bagian dari proses belajar, tetapi workload-nya setara karyawan tetap...
Ada sebagian anak intern yg masuk menggebu-gebu ingin belajar, eksplorasi, dan ingin dapat exposure. Di awal dijelaskan akan dibimbing, diberi mentoring, dan dilibatkan dlm project.
Namun praktiknya, tidak sedikit yg akhirnya memegang tanggung jawab operasional rutin, handle deadline, bahkan menggantikan role kosong (tanpa struktur pembelajaran yg jelas).
Boleh, sih, Intern diberi tanggung jawab supaya berkembang. Yg jadi pertanyaan adalah proporsinya. Apakah mereka:
- Punya mentor tetap yg benar-benar membimbing?
- Diberi feedback rutin, bukan hanya revisi kerjaan?
- Dilibatkan dlm diskusi, bukan hanya eksekusi?
- Beban kerjanya masuk akal sesuai durasi & kompensasi?
Kalau jawabannya tidak, sih, status “belajar” hanya jadi label yg membungkus kebutuhan tenaga murah.
Dalam jangka pendek, perusahaan merasa terbantu. Dalam jangka panjang, kultur jadi bias yg mana magang dianggap solusi cost efficiency, tidak lebih ke ranah program pengembangan talenta.
Di sisi lain, teman-teman intern juga perlu sadar. Jangan hanya bangga karena dipercaya pegang banyak hal ya.
Pernah mengalami hal serupa, teman-teman? Coba share di bawah.
islam mengatur sedemikian rupa hingga detail terkecil. dari mau tidur sampe mau tidur lagi. even adab berjima’ pun diatur dan ada doanya.
tapi manusia tetep kufur nikmat dan nyalahin islam demi kebebasan nafsu. pdahal semua aturannya demi kemaslahatan alam dan seisinya.
toh pada asalnya, semua aturan dan moralitas dunia ini ya berawal dari agama. nafsu manusia gaada batasnya.
Diskusi twit gw yg rame membuktikan, perempuan yg sudah berdikari, gak kepikiran lagi buat macarin atau nikahin laki2 apalagi kalo laki2nya malah nambah keribetan dihidup si perempuan. Tapi laki2 straight yg udah punya segalanya (katanya) tetep aja masi butuh perempuan.
Zaman dulu juga lumrah bunuhin bayi perempuan, karena dipandang gender ga guna. Zaman dulu juga lumrah bikin orang kulit gelap jadi budak. Zaman dulu juga lumrah anak² miskin dipaksa kerja, dijual, ga disekolahin sampe dewasa.
Ga usah bawa² argumen "zaman dulu" buat normalisasi.
💚 nemu dari tiktok, ini siapa yg ngomong woyyy ko fakta bgtt siii 😭😭😭 uneg-unegnya dikeluarin semua. mana di tiktok lagi nemunya 😭 jangan tanya komennya kek mana tentu saja banyak yg gaterima dan membela 🤣
Istighfar mas istighfar, ayo ngucap sekarang. Rakyat Sumatera hingga Papua bukan sulit diatur, kami memiliki tradisi tersendiri dan hutan adat serta hewan yang harus dilindungi. Dari kondisi geografis hingga tradisi, tidak bisa disama ratakan dengan Jakarta contohnya 😭
hasilnya:
• ribuan anak-anak keracunan
• 13 orang meninggal karena 1312 (selama aug-sep)
• hampir 1000 orang dijadikan tersangka
• tni masuk posisi sipil
• banyak satwa endemik mati
• banjir bandang di sumatra, ratusan meninggal tapi nggak ditetapkan sbg bencana nasional