Senang jalan jalan;
Cita-cita : menjadi orang yang tidak useless;
Motto hidup : Bekerja keraslah sampai kau lupa bahwa kisah cintamu memang se-menyedihkan itu
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Guys, choki pardede baru aja ngasih sesuatu
yang menurut gw patut di tanyakan
jadi begini kata dia....
Kenapa ada orang yang IQ-nya biasa-biasa saja tapi hidupnya mulus, ditolong orang di mana-mana, karirnya naik terus
sementara ada yang jenius tapi stuck di tempat yang sama bertahun-tahun?
Jawabannya bukan soal nasib.
Jawabannya adalah kecerdasan sosial.
Apa itu kecerdasan sosial
dan kenapa ini beda dari IQ:
Konsep ini pertama kali dicetuskan oleh Edward Thorndike di tahun 1920-an.
Dia bilang ada kecerdasan yang sama sekali tidak diukur oleh tes IQ yaitu kemampuan untuk memahami orang lain dan mengelola hubungan sosial secara efektif.
IQ mengukur seberapa cepat otak lo memproses logika, angka, dan pola abstrak. Kecerdasan sosial mengukur seberapa baik lo bisa membaca situasi, memahami emosi orang lain, dan merespons dengan cara yang membuat orang merasa didengar dan dihargai.
Dan yang mengejutkan banyak orang: dua hal ini tidak selalu berjalan beriringan.
Orang yang jago matematika belum tentu jago baca emosi. Orang yang hafal ribuan fakta belum tentu tahu kapan harus diam.
Data yang perlu lo tahu dan ini yang bikin konsep ini tidak sekadar teori motivasi:
Ada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Intelligence and Student Academic Performance at Post Graduate Level yang menemukan korelasi menarik:
mahasiswa dengan IPK 3,6 ke atas rata-rata memiliki skor kecerdasan sosial yang jauh lebih tinggi dibanding yang IPK-nya lebih rendah.
Bukan berarti orang pintar otomatis asik.
Tapi ada pola yang konsisten:
orang yang bisa mengelola hubungan sosialnya dengan baik cenderung perform lebih baik bahkan di lingkungan akademik yang sangat kompetitif sekalipun.
Dan lebih jauh dari itu riset tentang kecerdasan sosial menunjukkan bahwa orang dengan social intelligence yang tinggi cenderung lebih sehat, lebih bahagia, dan hidup lebih lama.
Bukan karena kebetulan. Tapi karena mereka tidak punya musuh yang menguras energi, tidak terjebak dalam konflik yang tidak perlu, dan punya jaringan dukungan yang kuat di saat mereka membutuhkan.
Kenapa orang pintar sering gagal secara sosial dan ini yang paling relate:
Daniel Goleman yang terkenal dengan konsep kecerdasan emosional mengatakan bahwa fondasi utama kecerdasan sosial adalah kemampuan membaca emosi orang secara real time.
Dan masalahnya: orang pintar sering terjebak dalam satu mode mendengar untuk menjawab, bukan mendengar untuk mengerti.
Lo kenal tipe orang ini. Waktu lo ngomong dia sudah menyusun argumen balasannya sebelum kalimat lo selesai.
Waktu ada perdebatan tujuannya menang, bukan memahami. Waktu ada orang baru di ruangan dia fokus keliatan keren, bukan genuinely curious tentang orang itu.
Dan hasilnya? Tanpa sadar dia nyebelin. Bukan karena dia jahat.
Tapi karena social skill-nya tidak berkembang seiring kemampuan kognitifnya.
Lima cara konkret untuk meningkatkan kecerdasan sosial:
Pertama — latih kepekaan sosial yang sesungguhnya. Waktu lo ngobrol sama orang, stop fokus ke apa yang mau lo jawab. Fokus ke nada suaranya, ekspresi wajahnya, timing dia ngomong.
Ada perbedaan besar antara mendengar kata-kata dan benar-benar menangkap apa yang seseorang rasakan.
Kedua — stop pengen kelihatan pintar. Ini yang paling sulit untuk orang-orang dengan kecerdasan tinggi. Ubah tujuan percakapan: bukan bagaimana gue kelihatan keren, tapi apa yang sebenarnya orang ini rasakan dan pikirkan.
Riset MIT tentang collective intelligence menunjukkan bahwa kelompok yang paling efektif bukan yang punya anggota paling pintar tapi yang anggotanya paling bisa saling memahami satu sama lain.
Ketiga — bangun emotional mirroring. Otak manusia punya mirror neurons sistem saraf yang secara harfiah memungkinkan kita menularkan emosi satu sama lain. Kalau lo masuk ke situasi sosial dengan energi yang tepat orang di sekitar lo akan merasakannya.
Sebaliknya juga berlaku. Belajar untuk genuinely merasakan apa yang orang lain rasakan bukan berpura-pura, tapi benar-benar masuk ke kondisi emosional mereka.
Keempat — perbanyak exposure sosial yang beragam. Jangan hanya nongkrong dengan circle yang sama terus. Social Intelligence Hypothesis menyatakan bahwa semakin kompleks interaksi sosial yang lo hadapi semakin terasah social brain lo. Ngobrol sama orang dengan background yang berbeda, masuk ke situasi yang sedikit awkward, keluar dari comfort zone sosial lo.
Kelima — bangun feedback loop yang jujur. Untuk tahu apakah lo asik atau tidak lo tidak bisa mengandalkan penilaian lo sendiri. Itu adalah bias terbesar.
Cari satu atau dua orang yang lo percaya untuk memberi feedback jujur tentang bagaimana lo di lingkungan sosial. Dan yang paling penting: jangan baper kalau feedbacknya tidak enak didengar. Itu bukan serangan personal. Itu kompas yang lo butuhkan.
Tanda-tanda kecerdasan sosial yang rendah checklist yang perlu lo tahu:
Lo selalu jadi yang paling banyak ngomong di setiap pertemuan tanpa sadar. Ada satu grup — entah grup kelas, grup kantor, grup apapun yang tidak ada lo di dalamnya.
Orang sering tidak merespons dengan antusias waktu lo ngomong tapi lo tidak tahu kenapa. Lo sering merasa salah dipahami padahal lo sudah menjelaskan dengan sangat logis. Lo lebih fokus memenangkan argumen daripada memahami posisi lawan bicara.
Satu saja dari tanda-tanda itu sudah cukup untuk dijadikan bahan refleksi.
Dan ini yang paling penting dari seluruh pembahasan ini:
Kecerdasan sosial bukan bakat lahir yang lo punya atau tidak punya. Ini adalah skill yang bisa dilatih. Sama seperti otot semakin sering lo melatihnya dengan cara yang benar, semakin kuat.
Dan dalam dunia nyata di tempat kerja, di bisnis, dalam hubungan yang menentukan seberapa jauh lo bisa pergi bukan seberapa tinggi IQ lo.
Tapi seberapa banyak orang yang genuinely mau membantu lo karena mereka merasa dihargai dan dimengerti ketika bersama lo.
Orang yang ditolong bukan orang yang paling pintar di ruangan. Orang yang ditolong adalah orang yang paling asik untuk diajak kerja sama.
Setelah dipikir-pikir, nalar dan pola pikir para pemangku negara memang membikin kita beristigfar berkali-kali, ya. Misalnya,
1. Negara punya visi ingin memberantas stunting; diciptakanlah embege. Tetapi implementasi awal bukan pada bumil dan busui, melainkan pada anak-anak sekolah. Setelah berjalan beberapa bulan, mulailah untuk menjangkau bumil dan busui. Tapi sajiannya? Jangankan untuk mengatasi stunting, untuk bisa jadi sajian umum untuk bumil dan busui saja amat sangat tidak pantas. Semua masukan pakar dan ahli diberangus, saran dan kritiknya difitnah sebagai bentuk hinaan dan cacian.
2. Negara ingin (dianggap) hadir dalam meningkatkan mutu pendidikan. Tetapi alih-alih membuat alur koordinasi yang ciamik antar kementerian dengan daerah untuk memperbaiki sistem rekrutmen guru, menaikkan upah dan taraf hidup guru, memperbaiki bangunan dan sarpras sekolah yang sudah ada, membangun perpustakaan sederhana di setiap kecamatan, negara malah membangun sekolah rakyat. Mengabaikan sekolah negeri dan kurikulum yang sudah ada, menciptakan GAP di antara pekerja pendidikan dan guru.
3. Negara ingin menciptakan banyak lapangan kerja untuk mengatasi pengangguran. Namun alih-alih menaruh perhatian lebih pada sekolah-sekolah vokasi, memperbaiki kinerja menristekdikti, membungihanguskan praktik nepotisme pada jabatan lembaga dalam negeri, memperbaiki sistem antar perguruan tinggi dan perusahaan yang pro dengan lulusan diploma, sarjana, hingga magister, memperbaiki upah dan taraf hidup dosen, negara malah keukeuh melestarikan praktik nepotisme, polisi dan TNI diberi pekerjaan yang bukan tupoksinya, menciptakan cara instan nan cacat lewat program SPPI, membangun banyak SPPG dan KOPDES, mengabaikan pembludakan lulusan perguruan tinggi dan rendahnya serapan perusahaan.
Yang dipikirin langgengnya kekuasaan terus? Tiap dikritik keras nanti jawabnya, "percaya dengan kepemimpinan saya." Terus habistu nyebar teror, para pejabatnya melakukan komunikasi publik yang jelek, aktivis-aktivis direpresi, dijadikan korban rencana pembunuhan. Pakar, ahli, dan 'orang pintar' dimusuhi lewat pidato-pidato. Mau percaya gimana kalo baru setahun setengah jalan aja udah banyak kejanggalan gini?
Dipompa 8.000 liter per detik selama 24 jam penuh tanpa henti..
Level airnya turun tapi hanya 11 menit setelah pompa dimatiin, airnya sudah balik ke posisi semula..
Ini bukan keajaiban tanpa penjelasan.
Jawabannya ada di bawah lembah Mekah.
Sumur zamzam dikelilingi lapisan pasir dan kerikil sedalam sekitar 13 meter seperti spons raksasa yang nyerap setiap tetes hujan.
Di bawahnya batu granit dengan ribuan retakan kecil bekerja seperti jaringan pipa alami.
Air dari pegunungan sekitar Mekah mengalir pelan melalui retakan itu langsung menuju sumur.
Kecepatan 11 menit itu bukan kebetulan.
Akuifer di bawah lembah Mekah berada di bawah tekanan konstan dari seluruh penjuru pegunungan.
Saat sumur dikosongin, perbedaan tekanan itu langsung dorong air masuk dari semua sisi sekaligus bukan dari satu arah aja.
Sumur ini bukan sekadar lubang berisi air. Ia ujung dari sistem tekanan yang bekerja 24 jam.
Sumur Zamzam adalah sistem pemanen air yang sempurna dan udah bekerja sejak zaman Nabi Ibrahim.
Mekah rata-rata hanya dapet 100mm hujan per tahun tapi sekalinya hujan, turun deres langsung.
Batuan granit dan pasir di lembah Wadi Ibrahim menangkap semuanya, menyimpannya di bawah tanah agar nggak nguap, lalu menyalurkannya pelan-pelan ke sumur.
Ribuan tahun selalu begitu nggak pernah berhenti.
Yang menarik bukan cuma fakta bahwa air Zamzam nggak pernah habis.
Tapi gimana alam bekerja atas izin Allah dengan presisi yang nggak butuh kita pahami dulu untuk bisa kita rasakan manfaatnya.
Ribuan tahun manusia minum dari sini tanpa tau mekanismenya dan saat sains bisa jelasin jawabannya justru makin bikin kagum.
Guys di salah satu podcast ada satu kalimat dari Prof Ferry Latuhihin yang gw tidak bisa lewatkan begitu saja.
Ekonomi kita tidak dalam kondisi baik-baik saja
Dan yang bikin ini lebih berat itu bukan kata pengamat yang anti pemerintah. Itu kata ekonom yang datanya dia hitung sendiri, modelnya dia bangun sendiri, dan rekam jejaknya sudah terbukti. Dia yang ramalkan rating kita bakal di-downgrade sebelum Moody's keluar. Terbukti. Dia yang hitung dampak ekonomi bencana Sumatera di angka 51 triliun. Angka yang kemudian muncul di catatan Presiden waktu sidang.
Jadi ketika dia bilang tidak baik-baik saja itu bukan dramatisasi.
Sekarang faktanya satu per satu.
Kelas menengah Indonesia yang tahun 2019 jumlahnya 57 juta orang di 2024 tinggal 47,9 juta. Turun 9,5 juta orang dalam 5 tahun. Mereka tidak naik kelas. Mereka turun ke aspiring middle class yang sekarang jumlahnya 138 juta orang. Hampir separuh Indonesia.
Dan kelompok ini yang paling tidak terlindungi. Terlalu miskin untuk punya bantalan finansial. Terlalu kaya untuk dapat bansos. Tidak ada jaring pengaman yang menjangkau mereka.
Pegadaian omzetnya meledak. Pinjol meledak. Pemudik tahun lalu turun 24,5%. Mal sepi. Orang yang kerja di ojol dan taksi online ternyata banyak yang sarjana — bukan karena tidak mau kerja yang lebih baik, tapi karena industrinya tidak ada lagi yang menyerap mereka.
Dan ini yang paling mengkhawatirkan menurut Ferry deindustrialisasi.
Indonesia butuh tumbuh rata-rata 6,5% per tahun sampai 2038 untuk lolos dari middle income trap. Sekarang kita tumbuh 5% dan angka 5% itu pun dia curigai. Karena kredit growth cuma 7% sementara untuk capai 5% pertumbuhan ekonomi harusnya kredit tumbuh minimal 10,5%. Angkanya tidak nyambung.
Dan sekarang ada perang Iran yang bikin harga minyak naik, rupiah di 17 ribu, dan ketidakpastian yang membuat orang tidak mau belanja.
Paradoksnya begini. Kalau semua orang takut dan hemat sekarang ekonomi makin tidak jalan. Tapi kalau pemerintah mau spend untuk kompensasi ruangnya sudah sempit. Utang tidak mau ditambah. Defisit tidak mau dilebarkan. Tapi tanpa spending pemerintah tidak ada yang menggantikan konsumsi rumah tangga yang sedang merosot.
Ferry bilang musuhnya Purbaya sekarang adalah emak-emak yang beli emas daripada belanja. Karena emas tidak berputar di ekonomi riil.
Tapi gw mau tambahkan satu hal yang Ferry tidak bilang langsung.
Emak-emak itu beli emas bukan karena tidak rasional. Mereka beli emas karena mereka tidak percaya bahwa kondisi akan baik-baik saja. Dan ketidakpercayaan itu bukan datang dari langit. Itu datang dari gap antara apa yang mereka rasakan sehari-hari dan apa yang mereka dengar dari podium.
Kalau mau emak-emak belanja lagi bukan dengan minta mereka tidak khawatir. Tapi dengan kasih mereka alasan konkret untuk tidak khawatir.
BUKTI TELAK Anggaran MBG diambil dari Anggaran Pendidikan
JADI GINI (lihat tabel):
Anggaran Pendidikan tahun 2026 total sebesar Rp769 triliun atau 20% APBN (Rp 3.842 Triliun)
Total Rp769 triliun terbagi tiga bagian:
1. Anggaran Pendidikan melalui BELANJA PEMERINTAH PUSAT = Rp 470,4 T
2. Anggaran Pendidikan melalui TRANSFER KE DAERAH = Rp 264,6 T
3. Anggaran Pendidikan melalui PEMBIAYAAN = Rp 34 T
Anggaran Pendidikan melalui BELANJA PEMERINTAH PUSAT (Rp 470,4 T) terdistribusi ke 23 Kementerian dan Badan, salah satunya ke BADAN GIZI NASIONAL (BGN) sebesar Rp 223 Triliun
Sudah jelas? paham?
simpan foto #hewan ini, kita mungkin tidak akan melihat wujud hidupnya lagi. 🥲
ini adalah badak terkecil di dunia, badak kalimantan.
saat ini mereka hanya tinggal 2 ekor dan keduanya betina, yg satu diberi nama "pahu", satu lagi namanya "pari".
tanpa ada pejantan, kini mereka bergantung pada intervensi teknologi untuk melanjutkan keturunan.
sayangnya, hingga sekarang percobaan inseminasi buatan masih belum menunjukkan hasil menggembirakan.
jika mereka berdua mati sebelum beranak, badak kalimantan akan menyusul harimau bali dan gajah jawa, lenyap dari dunia selamanya. 🥀
semoga ada mukjizat 🤲
"Miracle crop" dari masa VOC ke masa sekarang:
1) Pala,
2) Cengkeh,
3) Kopi,
4) Tebu,
5) Jati,
6) Kopi,
7) Teh,
8) Tembakau,
9) Karet,
10) Sawit.
Semua cuma kedok buat buka hutan, menguasai tanah sebesar-besarnya dengan HGU, dan mempertahankan kekuasaan.
Kolonialisme, Cultuurstelsel, Deforestasi, sama aja.
Gak ada rakyat di sana.