.
Ini jalanmu, dan milikmu sendiri
Orang lain mungkin berjalan bersamamu, tapi tak ada yang bisa menggantikan kamu berjalan.
- Jalaludin Rumi
.
.
.
.
#bridge#belitong#travelphotography… https://t.co/tMspYTW0qB
Bali: Banjir, Turis Pergi, dan Pembangunan Tak Terkendali
Bali, dulu surga tropis, kini dilanda banjir. Hujan deras sejak Selasa malam, 9 September 2025, hingga Rabu dini hari menyebabkan banjir setinggi 2-3 meter di hampir seluruh wilayah, dari Denpasar hingga Jembrana. Enam orang tewas, ratusan rumah terendam, jalan macet, dan Bandara Ngurah Rai nyaris lumpuh. Turis di Kuta dan Legian dievakuasi dengan perahu karet. Ironis, pulau yang hidup dari pariwisata justru mengusir tamunya.
Banjir bukan hanya akibat cuaca ekstrem—gelombang Rossby memicu awan konvektif, kata BMKG—tapi juga pembangunan tak terkendali. Sungai seperti Tukad Badung dan Tukad Unda meluap karena saluran tersumbat sampah dan infrastruktur tak memadai. Lahan resapan hilang, diganti hotel, vila, dan jalan tol. Kepala BPBD Bali, Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menegaskan, “Pembangunan mengganggu aliran sungai.” Banjir dan longsor sudah rutin sejak 2022, tapi pembangunan terus berlanjut.
Pariwisata, penyumbang 46% devisa dengan target 7 juta turis tahun ini, memperparah masalah. Alih fungsi sawah subak, yang mampu menahan 3.000 ton air per hektar, jadi beton. Akibatnya, banjir bandang, kemacetan, dan sampah menumpuk. Citra Bali rusak: “Bali banjir, enam tewas,” beritanya mengglobal. Pelaku pariwisata mengeluh ke DPRD: macet, sampah, dan banjir akibat konsentrasi wisata di selatan.
Pembangunan tak terkendali seperti api yang membakar diri sendiri. Sejak 1970-an, pariwisata meledak, tapi pengawasan lemah. Deforestasi, DAS rusak, dan lahan kritis mencapai 55.000 hektar. Walhi Bali menilai pariwisata terlalu dimanja, mengabaikan DAS dan hutan. Akibatnya, ekosistem rusak, air tanah surut, dan banjir jadi bom waktu. Pariwisata, yang seharusnya menyelamatkan, malah jadi biang kerok. Ekonomi tumbuh, tapi warga lokal terjepit: harga tanah melambung, air bersih langka, dan banjir rutin.
Solusi? Bukan moratorium setengah hati, tapi pembangunan bijak: pemerataan wisata ke utara dan timur, normalisasi sungai, ruang resapan wajib, dan Amdal ketat. Infrastruktur pengendali banjir di Tukad Unda masih kurang serius. Kembali ke Tri Hita Karana: harmoni manusia, alam, dan Tuhan, dengan pariwisata berkelanjutan, bukan massal yang rakus.
Bali bukan milik turis, tapi warisan bersama. Jika banjir terus, surga ini bisa jadi neraka basah. Saatnya hentikan pembangunan sembarangan sebelum terlambat. Bali bisa bangkit, asal belajar dari air yang mengalir deras ini.
Move out dari rain forest fortress dulu.
Diajak Guru, diundang mas & mbakku.
Teriring doa kemerdekaan untuk rakyat Palestina, doa kemenangan untuk warga Qatar, doa untuk tenangnya alam Bali, dan doa damai untuk kawan-kawan di Nepal.
Begitupun doa semua hal baik untuk kita di 🇲🇨