Suku Korowai di Papua baru “ditemukan” dunia sekitar tahun 1970-an.
Sebelum itu? Mereka hidup tanpa tahu ada peradaban lain di luar hutan mereka.
Rumah mereka dibangun di atas pohon, ketinggian sampai 50 meter, setara gedung 15 lantai.
Populasinya sekitar 4.000 orang. Bahasa mereka unik, nggak mirip suku Papua mana pun.
Di antara jutaan manusia yang scroll medsos sekarang, ada ribuan orang yang hidupnya masih seperti ini.
Dan mereka baik-baik saja.
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
Klo penasaran gmn caranya makananmu bergerak di dalam usus, nope, makananmu ga bergerak.
Makananmu digerakkan oleh gerakan usus yg dikenal sbg gerakan Peristaltik.
Video yg kamu lihat ini adalah visual gerakan Peristaltik tsb. Now you know 😆
Min @KemensetnegRI, ini saya bertanya murni ya. Berbasis protokoler dan kapatutan pertemuan pemimpin dua negara. Kepala Negara.
Ini kan acara resmi undangan Kaisar Jepang ya. Artinya undangan Kepala Negara pada Kepala Negara. Tapi yg mengganjal saya, itu Mas Teddy duduk sebagai apa di meja? Posisi terhormat yang Perdana Menteri Jepang saja tidak akan ambil jika itu pertemuan dua kepala negara (CMIIW).
Kedua, Mas Teddy itu hanya eselon 2 di Setneg kan? Masih ada di rombongan yang jauh di atas itu, eselon 1 bahkan Menteri hingga Menko. Kenapa koq malah eselon 2 yang di sebelah kanan Presiden?
Kalau putra Presiden, itu wajar dalam jamuan kenegaraan, apalagi memang Pak Prabowo saat ini masih sendiri, wajar duduk bersama Kaisar mendampingi bapaknya di jamuan kenegaraan.
Coba jelaskan agar tidak jadi isu, bukan hanya nasional juga International.
Mungkin bisa dicek di protokoler Kemenlu, apa pernah kejadian seperti ini.
Terimakasih jika dijelaskan.
bbrp tahun lalu, satu sepupuku bangkrut, katanya mau bunuh diri krn dikejar2 utang. mereka datang padaku mau minjam uang, nilainya ratusan juta. memikirkan keselamatannya, kucairkanlah sebagian investasi yg kupunya dan kupinjamkan. dia pun kami bawa ke dokter utk berobat stress dan depresinya itu. sayangnya, bertahun2 nggak dibayar. dicicil pun tdk, kyk dianggap lupa. saat kutagih dgn cara halus setelah sekian lama, aku dimaki-maki. orangtuaku, yg adalah tante dan om mereka, juga direndahkan. akhirnya setelah hampir 5 thn, lunas juga. tapi nggak kumaafkan lancangnya orang itu menghina orangtuaku.
saat pandemi, satu sepupu lain sekarat di rs, butuh pengobatan yg harganya mahal bgt. adiknya telp aku minta pinjam uang hampir seratus juta, katanya nanti akan jual mobil utk mengganti. krn memikirkan sekarat dan penanganan yg hrs segera, besoknya langsung kutrf. alhamdulillah dia selamat. pengobatannya berhasil. tapi tetap aja, nagih hutangnya susah banget. mobil nggak jd dijual. aku minta dicicil pun, nagihnya udh kayak ngemis. si adik lepas tangan dgn angkuhnya, bilang dia nggak ada minjam dan duit itu bukan dia yg menikmati, si kakaknya ternyata menipu banyak orang setelah sembuh dan berujung masuk penjara. dari balik tahanan pun, orangtuaku juga masih dihina-hina. sisa utangnya masih ada 40an juta.
di sisi beberapa sepupu ternyata ada pemikiran: "ngapain cuma 40an juta aja ditagih, duitnya kan banyak?" ketawa miris aku pas hal itu sampai ke telingaku. aku berusaha jadi orang baik, tapi ternyata aku jadi jahat di mata mereka ketika utang itu kutagih. di mata mereka, aku nggak boleh nagih.
aku cerita panjang begini utk pelajaran juga ke kalian: jgn gampang minjemin duit ke orang, apalagi dlm jumlah besar, meskipun mereka masih dlm lingkup keluarga dan kita nilai baik. yg baik itu bisa berubah jadi setan saat berutang.
Inilah mengapa pas sekolah diajarin bahwa kalau sebaran data tidak normal, misalnya ada nilai ekstrim, yang digunakan adalah median (nilai tengah), bukan mean (rerata). 99 orang tidak bekerja plus 1 orang berpenghasilan 700 juta, ya reratanya 7 juta, tapi nilai tengahnya 0 juta.
@antariksakita Dulu gue sempet punya anxiety sama BH iphone karena takut gak laku atau gmn tapi skrg BODO AMAT! gue bli hp buat bikin idup gue seneng bukan malah nambah kecemasan, beli iP 15 pro mau cas brp kali kek gmn jg bodoamat!
Dulu aku pernah ditanya dosen knp nilaiku rendah, aku blg "karena.. saya ga ngerti.."
Dan dosennya jwb "itulah gunanya kamu di sini, untuk belajar. Kalau kamu udah bisa, kamu ngajar sama saya di depan. Kita belajar sama2 ya"
Mulai dari situ aku ga pernah takut dibilang "bodoh"
"Kopi Kamu" is a coffee shop in Indonesia known for its commitment to inclusivity, particularly for employing individuals with Down syndrome.
[📹 yuli_saputro]