Bloomberg telah mengeluarkan artikel berjudul "Prabowo Eyes Indonesia Central Bank Chief Aligned With His Goals"
Artinya kurang lebih begini... Prabowo Mengincar Gubernur Bank Sentral Indonesia yang Sejalan dengan Tujuannya
Berikut 10 poin yang saya rangkum
(1) Ancaman terhadap Independensi BI
Independensi Bank Indonesia yang telah dipertahankan sejak krisis 1997 kini berpotensi melemah dan berada di bawah kendali langsung Presiden Prabowo Subianto.
(2) Pengunduran Diri Perry Warjiyo
Gubernur BI Perry Warjiyo mundur secara mendadak setelah diminta secara sepihak oleh orang kepercayaan Presiden, bukan murni karena alasan pribadi seperti yang diumumkan.
(3) Perbedaan Visi Ekonomi
Terjadi ketidakcocokan antara Presiden Prabowo yang menuntut pertumbuhan ekonomi agresif (minimal 8%) dengan Gubernur BI Perry yang bersikeras menjaga stabilitas moneter dan independensi BI.
(4) Masalah Gaya Komunikasi
Presiden Prabowo diduga merasa frustrasi dengan gaya komunikasi Perry yang terlalu teknis, karena Sang Presiden lebih menyukai penjelasan yang sederhana, langsung, dan tidak terkesan merendahkan.
(5) Kebijakan BI Dinilai Menghambat Pemerintah Langkah defensif kebijakan BI (seperti menaikkan suku bunga) untuk menyelamatkan rupiah justru dianggap oleh pemerintah menghambat pertumbuhan ekonomi dan menaikkan biaya utang negara.
(6) Destry Damayanti sebagai Kandidat Kuat
Plt. Gubernur BI saat ini, Destry Damayanti, dipandang sebagai kandidat utama pengganti Perry karena dianggap memiliki gaya komunikasi yang lebih baik dan lebih mudah bekerja sama dengan presiden.
(7) Purbaya Yudhi Sadewa Turut Dipertimbangkan
Di sisi lain, Menteri Keuangan saat ini, Purbaya Yudhi Sadewa, juga disebut sebagai kandidat potensial lainnya. Sebelumnya, Purbaya kerap mengkritik kebijakan suku bunga tinggi era Perry dan telah lama mendambakan posisi tersebut.
(8) Mekanisme Penggantian
Presiden Prabowo dapat mencalonkan Gubernur BI baru untuk menyelesaikan sisa masa jabatan 2 tahun peninggalan Perry atau menetapkan masa jabatan baru selama 5 tahun, yang nantinya harus disetujui oleh DPR RI
(9) Kekhawatiran Investor
Campur tangan politik Presiden Prabowo yang semakin besar memicu kekhawatiran pasar. Hal ini berpotensi mengikis kredibilitas BI dan semakin menekan nilai tukar rupiah yang sudah anjlok 14% sejak Oktober 2024.
(10) Dilema Gubernur BI Baru
Siapa pun Gubernur BI terpilih nantinya akan menghadapi dilema yang sama. Melonggarkan kebijakan berisiko melemahkan rupiah akibat arus modal keluar. Sementara itu, di sisi lainnya, mempertahankan suku bunga tinggi akan menghambat target pertumbuhan ekonomi Presiden.
@ardisatriawan Dalam pilpres, yang tidak ikut memilih ikut menanggung akibatnya.
Dalam demo, yang tidak ikut demo ikut menikmati hasilnya.
Itulah kenapa dalam kehidupan ini ada yang jadi manusia dan ada yang sekedar jadi orang.
7 minutes after you finish studying, your brain quietly runs a file-transfer process. Columbia scientists caught it on a brain scan, and repetition is what speeds it up.
In the study, 29 people went into an fMRI machine and saw flashcards pairing words with pictures. Some flashcards appeared once. Others appeared three times. After the flashcards, participants closed their eyes and rested for 7 minutes, still in the scanner, while the researchers watched what their brains did next.
The hippocampus (a seahorse-shaped chunk deep in your brain that handles new memories) replayed the flashcards at the same rate whether people had seen them once or three times. The scan showed no difference between the groups in that region.
Three other brain regions went the other way. All three belong to your brain's long-term storage network, the system that keeps memories around for years. Those regions replayed the repeated flashcards way more than the once-seen ones. One of them also started firing in sync with the hippocampus more often when replaying the repeated cards, like two colleagues confirming a file had been saved.
Textbooks describe memories moving from the hippocampus to long-term storage as a slow process, one that takes weeks, months, or sometimes years. This study caught that process starting within the first 7 minutes after closing your eyes, with repetition speeding it up dramatically.
When a flashcard had been shown three times, the long-term storage regions replayed the most recent viewing. Your brain treats each repetition as an update.
The hippocampus was doing its own kind of work. For the flashcards people saw only once, the more the hippocampus replayed them during that 7-minute rest, the more likely people were to remember them on the test afterward. The hippocampus was picking up the slack for the weaker memories, while the long-term regions took over the stronger ones.
The paper was edited by Robert Bjork at UCLA, the guy who coined "desirable difficulties," the idea that when learning feels harder in the moment, the memory tends to stick longer. This study adds a mechanism. Repetition works by moving a memory, fast, in the minutes right after you stop looking at the thing.
Sebenarnya aku gak mengerti dengan perumpamaan "Jangan meludah di sumur sendiri" dalam konteks pekerjaan.
Kenapa mengkritik itu diibaratkan meludah? Kenapa nggak dibayangkannya mengkritik itu buat ngebetulin masalah pada sumur/perangkatnya?
Misalnya, ada sumur nih terus si embernya bocor. Terus kita bilang,
"Yah elah, nimbanya udah capek tapi dapat airnya dikit mulu dah. Ternyata bocor. Jelek sih kualitas embernya, pantesan gampang bocor".
Bukannya dengan mempoint out masalah itu biar embernya diganti ya dengan yang gak bocor? Kenapa diibaratkannya tuh meludah ke sumurnya?
Memangnya dalam kondisi literal pun kalau ada masalah gitu, orang akan meludah beneran ke sumurnya?
Ini juga seringkali terjadi deh saat kerja di pemerintahan Tuvalu. Kalau sidak, yang jelek-jeleknya ditutupin. Biar kayak gak ada masalah. Padahal kan diomongin ya biar diperbaiki??
GELAPNYA PENDIDIKAN KITA
Opini Kompas, 15 Maret 2025
Iman Zanatul Haeri
Cara memahami MBG dan makin tercekiknya guru serta makin mahalnya pendidikan
-Tread-
Yes. Exactly this. Mundane, “boring”, but a peaceful and happy life. When you hit your 30s or 40s (well… me especially), you no longer seek validation, your happiness doesn’t need an external audience, your life is no longer performative.
Banyak orang yang nguber hidup yang ‘exciting’ dan penuh drama karena they have not arrived yet. They have not understood that mundane, boring, and peaceful are the kind of lofe that rewards body, mind, and soul.
If you love your mundane and boring life, well… congratulations. You have arrived. 🩷
6 books every workaholic should read:
1) Do Nothing: How to Break Away from Overworking, Overdoing, and Underliving by Celeste Headlee
( leisure | efficiency )
"Making sure academics are paid well."
Tidak sesederhana itu ternyata. Problemnya lebih dalam, jauh.
Masalah besarnya adalah: "Tidak ada insentif untuk bangsa ini untuk menjamin akademisi (atau pekerja jasa esensial lain, seperti dokter) punya upah layak."
Kenapa gitu? Karena ada 3 faktor yang membuat suatu kebijakan:
1) Kekuasaan. Di sini pemerintah sebagai pengambil kebijakan.
2) Elit. Orang-orang yang menguasai sumber daya alam, uang, kapital, anggaran, industri, dan lain-lain.
3) Insentif. Hubungan antara elit dan kekuasaan, "Saya dapat apa?"
Liat, tidak ada rakyat jelata di sana. Tapi gak apa.
***
Sekarang saya mau fokus ke nomor 2. Elit. Dari mana orang-orang berpengaruh ini dapat kekayaan mereka?
Di Indonesia:
- Tambang: nikel, timah, tembaga.
- Perkebunan: sawit, kopi, karet.
- segala ekstraksi sumber daya alam lainnya.
Cara mereka menambah kekayaan gimana, gampang:
1) Elit dukung calon bupati/gubernur/presiden pas pemilu,
2) Dapet konsesi lahan, bisa untuk tambang, atau perkebunan. Ratusan ribu hektar.
3) Gundulin lahan atau jualin apa yang ada di lahan itu, jadiin modal, buat
4) Bikin tambang atau kebun sawit yang profitable di sana, ekspor hasilnya ke luar.
5) Jaminkan tambang atau kebun sawit ini ke bank, dapet modal buat perluas lahan mereka, sekaligus:
6) Dukung calon bupati/gubernur/presiden pas pemilu.
Lingkaran setan ini menambah kekuasaan elit, cukup dengan mengeruk alam.
Akhirnya apa?
Yang mereka butuhkan adalah orang-orang yang menjalankan pertambangan dan perkebunan sawit mereka.
Apa yang diprioritaskan?
1) UMR pekerja murah. Cek aja daerah perkebunan sawit, ngeri.
2) Tidak perlu lulusan pendidikan tinggi. Buat apa? Kan perlunya cuma pekerja perkebunan?
3) Jadi gak bangun sekolah atau universitas, cukup bare minimum menghasilkan pekerja pertambangan dan perkebunan.
Mereka juga perlu melindungi tambang dan sawit mereka.
Ada alasan kenapa anggaran parcok dan parjo paling tinggi di negara ini.
Apakah mereka perlu dosen, guru, dokter, perawat, peneliti, lulusan S3 dengan jumlah signifikan?
Enggak.
Gak ada insentif untuk itu.
***
Di negara lain gimana?
Balik lagi ke hubungan elit dan kekuasaan.
Ambil contoh aja gini, Korea Selatan, mereka abis dijajah jepang 5 dekade, terus perang Korea.
Tahun 1950 mereka hancur lebur negaranya.
Tapi mereka gak punya apa-apa. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah bikin industri.
Mereka sama-sama bikin lingkaran setan, tapi gak pake sumber daya alam.
1) Elit (Chaebol) dukung calon bupati/gubernur/presiden pas pemilu,
2) Dapet balas budi berupa: aturan dan anggaran yang men-support mereka,
3) Bikin industri dari keuntungan aturan dan anggaran. Samsung bikin hape, LG bikin AC, Hyundai bikin mobil, dan seterusnya.
4) Industri profitable bisa mereka jaminkan ke bank untuk bikin modal industri selanjutnya. Profitnya dipakai untuk:
5) Elit (Chaebol) dukung calon bupati/gubernur/presiden pas pemilu.
Nah, fokus di nomor 3: Industri.
Bikin hape, AC, mobil, dan segala macam itu perlu:
- Engineer, dari material science sampai electrical.
- Scientist, mau fisika, kimia, matematika.
- Dokter, buat memastikan semua orang sehat.
- Segala macam sumber daya manusia yang lain.
Mereka perlu sumber daya manusia. Tidak bisa tidak. Wong gak punya apa-apa.
Ada insentif besar untuk bangun kampus, biayain penelitian, subsidi asuransi kesehatan.
Maka ada insentif untuk:
1) Akademisi dibayar layak. Profesor adalah salah satu pekerjaan paling well-paid.
2) Membiayai penelitian jangka panjang, satu grant biasanya 4-5 tahun, dan menghasilkan sekitar 10 orang lulusan mahasiswa master dan Ph.D.
3) Membayar UMR sangat tinggi (10,000 won per jam), iya, tukang sapu juga dibayar segitu.
Ada insentif untuk investasi di sumber daya manusia.
***
Apakah sempurna?
Ya enggak. Karena basically, yang satunya eksploitasi alam, yang satunya eksploitasi manusia.
Gaji guru di dunia ternyata sangat beragam. Di puncak daftar, guru di Luksemburg bisa mendapat lebih dari Rp 2 miliar per tahun. Disusul Jerman, Belanda, dan Austria dengan rata-rata sekitar Rp 1,5 miliar per tahun.
Di Indonesia, angkanya masih jauh di bawah itu. Berdasarkan PP No.5 Tahun 2024, gaji guru PNS golongan III–IV berkisar Rp 2,7–6,3 juta per bulan, atau sekitar Rp 33–76 juta per tahun. Guru PPPK mendapat Rp 1,9–7,3 juta per bulan, setara Rp 23–87 juta per tahun.
Sumber: World Population Review, PP No.5/2024
Kreatif: Nana Gita
Prouser:Yuna Fikry
< #gajiguru #pendidikan #guru ##infografik
@kamto_adi Ijazah/gelar adalah tanda seseorang pernah sekolah,bukan tanda ia pernah berpikir. -RG
Naif adalah jika berpikir gelar akademik selalu berkorelasi dengan kemampuan bernalar dan kapasitas intelektual. Ada yg skolah buat nyari ilmu,ada yg sekolah biar bisa naik pangkat.
There’s been clashes between protesters and police in Indonesia at a demonstration against a new law allowing members of the military to hold more government roles.
Students across #Indonesia are standing up against expanding military influence in civilian governance. They are challenging military law amendments that threaten democratic freedoms: "New 'New Order' is right before our eyes!"
🗒️ Haluisasi SDM Unggul.
1. Struktur pendidikan tinggi kita diisi mayoritas program S1. Para lulusan Sarjana tidak dicetak untuk menghasilkan penelitian berkualitas, kapasitas mereka belum di situ.
2. Ada terlalu banyak prodi dengan nama konsentrasi khusus untuk tingkat S1, harusnya Dikti memperbanyak program Pascasarjana S2 dan S3, jika ingin serius lahirkan cendekia dengan "research mindset".
3. Dosen yg membimbing para Sarjana ini mayoritas juga masih S2, bahkan belum layak disebut peneliti independen. Tolong lah Pemerintah perhatikan SDM Pendidiknya, buat kami para Dosen ini mudah dan bersemangat untuk persiapan S3.
4. Mana ada industri menyerap para Sarjana untuk riset? Heran, banyak posisi kerjaan yang mungkin harusnya cukup diberikan pada Vokasi malah dibuka juga untuk Sarjana.
5. Skripsi itu cuma latihan penelitian aja Bu, dengan "research mindset" janganlah mahasiswa dituntut lahirkan karya publikasi berkualitas dan bernilai inovasi tinggi untuk industri. Dosennya (baca: saya) aja belum tentu mampu ini Bu. 😭😭😭
6. SDM Unggul Pendidikan Tinggi itu dimulai dari pengajar yg berkualitas Bu, tolong lah hentikan proyek SMA Unggul Garuda yang tidak terkait dengan ranah Pendidikan Tinggi.