Dear Raymond,, Gua bersaksi lu anak yang baik, pinter, dan humble banget. Dan gua berdoa, semoga kasus lu bisa menemukan titik terang ya ray. Rest in Peace..
Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Raymond Wirya Arifin (19), mahasiswa universitas swasta di Kota Tangerang yang ditemukan meninggal dunia di Sungai Cisadane pada Jumat (18/7/2025). Lebih dari sebulan berlalu, kasus ini belum juga menemukan titik terang.
Raymond merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, putra pasangan Lim Tjun Kong (68) dan Doli Kartika Sari (54), warga Neglasari, Kota Tangerang.
Ia dikenal rajin dan pekerja keras, setiap pagi bekerja paruh waktu sebelum berangkat kuliah.
Pada 16 Juli 2025 sekitar pukul 18.33 WIB, Raymond berpamitan kepada keluarganya untuk berangkat kuliah dengan menggunakan ojek online. Malam itu, ia tak kunjung pulang.
Sekitar pukul 22.30 WIB, seorang teman dari kampus datang ke rumah keluarga dan menyampaikan bahwa Raymond tidak hadir di kelas. Kabar itu membuat keluarga mulai cemas.
Keesokan harinya pukul 20.30 WIB, keluarga akhirnya melaporkan Raymond sebagai orang hilang ke Polres Metro Tangerang Kota, berharap kepolisian bisa membantu pencarian.
Namun, pada 18 Juli 2025 sekitar pukul 14.00 WIB, kabar duka datang. Keluarga mendapat informasi dari media sosial bahwa terdapat penemuan jasad di bawah Jembatan Kaca Cisadane. Setelah dicek, ternyata jasad tersebut adalah Raymond.
Benny (65), paman korban, menceritakan kronologi terakhir keponakannya saat ditemui oleh Botang di rumah duka pada Selasa (19/8/2025) malam.
“Biasanya Raymond dijemput orang tuanya pulang kerja. Hari itu pun masih sempat dijemput. Tapi ke kampus dia naik ojek sendiri. Setelah itu sudah tidak ada kabarnya. Besoknya pihak kampus memberi tahu bahwa Raymond tidak masuk kuliah. Akhirnya ditemukan sudah meninggal di Sungai Cisadane,” jelasnya.
Menurut Benny, hasil otopsi yang diterima keluarga menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan.
“Dari Polres Metro Tangerang Kota atau Polsek Karawaci belum ada respon. Hanya dari Polda Metro Jaya yang membantu, termasuk hasil otopsi. Hasilnya jelas, terdapat unsur pemb*nuhan dan penganiayaan,” ucapnya.
Ia dengan tegas menolak anggapan bahwa Raymond b*nuh diri.
“Kakaknya juga melihat langsung kondisi tubuh Raymon. Dengan luka-luka seperti itu, mustahil b*nuh diri,” tegasnya.
Meski demikian, hingga kini pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan. Keluarga pun masih menunggu langkah nyata dari aparat penegak hukum.
“Kami hanya ingin keadilan. Kepolisian yang paling berwenang. Jadi kami mohon benar-benar diperhatikan kasus ini. Karena kami tidak tahu hukum, yang kami tahu hanya polisi tempat kami meminta pertolongan,” pungkas Benny.
Bagi keluarga, permintaan itu bukan sekadar seruan, melainkan jeritan hati yang menuntut kebenaran. Harapan terbesar mereka hanya satu, yaitu keadilan untuk Raymond, agar tidak ada lagi keluarga lain yang harus merasakan luka serupa.
This is a stupid statment. Sexual oriented is not a crime. Gak seharusnya mereka mendapatkan sanksi atau hukuman apapun. Mereka juga manusia, yang juga punya hasrat dan nafsu alamiah.