stop ngomongin negara lain lah, takutnya blunder lagi kita yg ketar-ketir
lagi bahas skor PISA Indonesia di bawah Singapura, prabs:
"kalau singapur saya ga terlalu khawatir. hanya negara 5 jt penduduk kok, cuman 1 kota"
"kita 388 rb sekolah. ada di tengah gunung & di pulau terluar. jadi gimna mau ngasih pendidikan terbaik"
"menteri pendidikan singapur cuman butuh keliling 2 jam buat ngecek hampir semua sekolah, terjangkau dari kantor dia"
Indonesian salaries are so low -- even Starbucks Baristas in Singapore make more than Software Engineers in Jakarta.
That's why our top people prefer to leave.
The issue is Indo companies can't afford higher salaries, because of low profit margins.
The only solution to stop our brain drain is to make it easier for top Indos to start their own companies
Ease regulation, remove bureaucracy, and champion local founders.
Ngomong-ngomong soal CDS, kalian pernah nonton film The Big Short gak? Di film itu, Michael Burry bikin heboh Wall Street karena ngeborong instrumen bernama CDS (Credit Default Swap).
Buat yang masih bingung apa itu CDS dan gimana cara kerjanya, berikut saya coba sederhanakan penjelasannya:
Bayangin kamu minjemin uang jajan Rp1 juta ke temenmu, Budi, buat beli sepeda. Budi janji bakal balikin uangnya tahun depan.
Tapi kamu khawatir: "Gimana kalau sepedanya hilang atau Budi gak punya uang buat balikin?"
Lalu datang temenmu yang lain, namanya Anto. Anto bilang:
"Sini bayar ke aku Rp10 ribu per bulan. Kalau Budi sampai kabur dan gak bisa bayar utangnya, aku yang bakal ganti uang Rp1 juta kamu full."
Uang Rp10 ribu per bulan itu adalah premi CDS-nya (biaya asuransi risiko utang).
Kalau Budi anak baik-baik dan makin kaya --> Budi makin dipercaya. Orang yang baru mau beli jaminan ke Anto bakal dikasih harga lebih murah, misal cukup Rp5 ribu per bulan.
Tapi kalau Budi mulai nakal, sering bolos, dan terancam putus sekolah --> Semua orang jadi tau Budi anak berisiko. Kalau kamu baru mau beli jaminan ke Anto saat itu, Anto bakal minta bayaran jauh lebih mahal, misal Rp100 ribu per bulan!
Di dunia finansial, "Budi" itu adalah negara (seperti Indonesia).
Kalau investor global merasa ekonomi/politik kita lagi berisiko, harga jaminan (CDS) ini langsung melonjak mahal.
Makanya, daripada denger simpang siur macem-macem di medsos, mas Almer bilang coba pantau 3 hal: pergerakan kurs, yield SBN, dan CDS. Itu indikator paling jujur yang memperlihatkan apakah smart money global lagi tenang atau cemas soal ekonomi Indonesia.
Coba bayangken, saking gak becusnya para penyelenggara negara dalam menjalanken amanah, bahkan sampai memengaruhi pola hajatan tujuhbelasan antar RT.
Al-fatihah untuk semua founding fathers NKRI, semoga mereka tak menangis tersedu di liang kubur. 🥀
Rupiah sudah ambrol lagi ke Rp18ribuan.
IHSG ikut pula terjun. Entah mau merayakan 17 Agustus di 5000an, atau akan terbang ke 8000an.
Ikuti saja lah.
Semoga pemerintahan amatir ini segera sadar, dan memperbaiki semua kerusakan yg sudah diperbuat.
Saya mencoba melakukan cross-indicator analysis dengan menggabungkan tiga data: pertumbuhan ekonomi BPS sebesar 5,61%, survei SMRC yang menunjukkan 49,4% masyarakat menilai ekonomi buruk, dan kepuasan terhadap Presidenyang turun dari 81,2% menjadi 51,1%. Hasilnya menarik.
Bau anyir yang sudah tercium sejak sehari sudaryono diangkat menjadi kepala BGN: daya buzzernya 10x lebih kuat daripada kepala-kepala sebelumnya.
Bukan hanya daya dengungnya yang tinggi, antusiasme hingga inisiatif die hard-nya pun bukan main-main.
Handai Tolan yang lama bekerja di bidang per-medsos-an pasti bisa dengan mudah mencium bau anyir ini.
Kalian paham tidak apa yg salah diisi kepala Dadan dan sekarang Sudar ini?
Mereka beranggapan aktvitas di Dapur SPPG itu adalah bisnisnya MITRA. Padahal operasi di dapur itu adalah aktivitas NEGARA yg sedang siapkan program MBG rakyatnya.
Apes tenan