Preman Kampung Yang Tendang Ibu
Hamil Dan Aniaya Suaminya Sudah
Ditangkap, Hilang Nyalinya, Jadi Ayam
Sayur Kau BODAT!!!
#medan#preman#kriminal#info#berita
Guys, Sherly Tjoanda Gubernur Maluku Utara baru duduk di depan salah satu pewawancara politik paling tajam di Indonesia dan jawabannya lebih jujur dari kebanyakan politisi yang pernah gue dengar.
Tapi justru itu yang bikin gue khawatir.
Konteks yang perlu diingat dulu:
Sherly bukan politisi karir. Dia pengusaha. Istri Bupati Morotai Benny Laos yang meninggal dalam kecelakaan kapal 12 Oktober 2024 42 hari sebelum pilkada.
Malamnya ketua partai langsung datang ke rumah sakit dan bilang Sherly harus lanjutkan perjuangan. Sherly menolak. Lalu anak-anaknya minta dia maju. Dan dia akhirnya setuju bukan karena ambisi politik tapi karena tidak mau cita-cita suaminya selesai begitu saja.
51% suara di pilkada. Menang. Dilantik sebagai gubernur.
Yang pertama langsung dihajar oleh host:
"Anda tidak merasa dimanfaatkan oleh partai-partai politik itu?"
Jawaban Sherly yang membuatnya berbeda dari politisi kebanyakan:
"Dalam hidup ini kita semua saling memanfaatkan dengan tujuan masing-masing. Tujuan saya waktu itu saya harus menang dan menyelesaikan janji almarhum."
Tidak defensif. Tidak berpura-pura murni. Tapi juga tidak naif dia sadar bahwa ada transaksi di balik semua dukungan itu.
Pengakuan paling jujur dari seorang gubernur:
"Saya ini kertas kosong. Kanvas kosong. I know nothing."
Dan dia tidak bilang itu untuk merendah. Dia bilang itu karena itu fakta dan dia memilih belajar dari nol daripada pura-pura tahu.
9 bulan pertama dia habiskan untuk belajar teknis birokrasi ketemu semua dirjen, semua OPD, baca sendiri, bahkan tanya ChatGPT untuk hal-hal teknis yang belum dia pahami.
"Saya bahkan bilang langsung ke delapan partai koalisi dari awal: saya tidak bisa bicara bahasa politik. Kalau menginginkan A katakan A. Saya tidak mengerti kalimat bersayap."
Dan inilah yang membuat host langsung pasang sinyal bahaya:
Maluku Utara bukan provinsi biasa. Ini provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia 39% karena nikel dan tambang yang luar biasa besarnya.
Dari smelter saja ekspor per tahun mencapai hampir Rp150 triliun. IUP yang aktif menghasilkan sekitar Rp54 triliun setahun.
Tapi Maluku Utara sebagai daerah tidak punya satu pun IUP sendiri. BUMD-nya tidak aktif sejak 2016 kena pemeriksaan BPK dan KPK dan untuk mengaktifkannya kembali butuh waktu 6 bulan sampai 1 tahun.
"Kalau ini perusahaan BUMD punya satu IUP saja PAD bisa tambah 2 sampai 3 triliun per tahun."
Tapi itu tidak dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya selama 10-15 tahun tambang jalan.
Siapa yang menikmatinya? Bukan rakyat Maluku Utara.
Dan di sinilah host menyampaikan pesan yang paling penting:
"Anda sudah terlanjur bersepakat. Partai-partai mendukung Anda. Pada saatnya Anda harus tahu diri Anda harus bayar hutang."
Sherly sadar akan ini. Tapi jawabannya jujur:
"Belum. Saya belum menyiapkan diri untuk itu."
Bukan karena tidak mau. Tapi karena dia benar-benar belum sampai ke titik itu dan dia tidak mau berpura-pura sudah siap untuk sesuatu yang belum dia pahami sepenuhnya.
Soal oligarki dan dinasti pertanyaan yang paling tidak nyaman:
Host bertanya langsung: apakah Sherly merasa bagian dari oligarki dan dinasti?
"Saya tidak merasa bagian dari itu."
Tapi host tidak membiarkan itu lewat begitu saja. Suami Sherly mantan bupati. Sekarang Sherly gubernur. Peta bisnis keluarga ditampilkan di layar puluhan PT terhubung dalam satu grup.
Sherly menjawab: sebelum dilantik dia sudah keluar dari semua kepengurusan. Saham masih ada karena secara hukum boleh. Dan LHKPN almarhum suaminya justru turun selama 5 tahun jadi bupati bukan naik.
"Semua yang dimiliki sudah ada sebelum beliau menjadi bupati. Almarhum bahkan tidak boleh saya menggunakan fasilitas jabatan. Dia bilang ada yang namanya korupsi kepatutan."
Satu hal yang gue catat dan menurut gue penting banget:
Sherly menang pilkada tanpa money politics. Tidak ada uang di hari H pemilihan. 367.000 orang memilihnya.
"Saya harus memulai dengan benar. Karena ketika rakyat memilih pemimpin karena uang bukan karena hati nurani mereka akan menghasilkan pemimpin yang memperbudak nurani."
Di negara di mana money politics sudah menjadi norma pernyataan itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
Yang paling bikin gue mikir dari seluruh obrolan ini:
Host menutup dengan satu kalimat yang tajam:
"Ada kecerdasan di dalamnya. Ada keteguhan. Tapi ada juga naif di dalamnya."
Dan itu mungkin diagnosis yang paling akurat. Sherly cerdas dan tulus tapi dia masuk ke sistem yang tidak dirancang untuk orang seperti dia. Sistem yang sudah menunggu untuk mengujinya dan yang paling berbahaya sudah menyiapkan tagihannya.
Apakah dia akan tetap berdiri setelah 5 tahun? Atau akan menjadi satu lagi nama yang kita sebut sambil menggelengkan kepala?
"Undang saya lagi 5 tahun dari sekarang. Saya akan duduk di sini dan bilang: I did it."
Gue harap dia benar.
Biang keroknya si bapak2 ditengah kumis tebal. Pokoknya dia skill persuasifnya jago banget, sampai 1 keluarganya bisa yakin buat ikutin suruh2an dia. Brainwashing emang bisa ssampuh itu😨
Jadi 11 anggota keluarganya ditemukan t*was tergantung dalam formasi yang sangat rapi, seolah-olah mereka sedang melakukan tarian kematian yang telah direncanakan selama bertahun-tahun.
10 orang ditemukan tergantung membentuk lingkaran di langit-langit, sementara anggota tertua (sang nenek) ditemukan t*was di kamar sebelah. Mata mereka tertutup kain, mulut diplester, dan tangan terikat di belakang.
INTERVIEW AKHIR. Mereka tanya: "Kenapa kami harus hire Anda?"
Otak lo freeze.
Lo jawab "saya pekerja keras dan bisa bekerja dalam tekanan."
Interviewer senyum, tapi dalem hati udah coret nama lo.
Ini jawaban yang bikin mereka ngangguk:
Semalam, khatib tarawih ceramah yg bikin gue overthinking..
Gimana kalau selama ini kita tuh cuma lagi pakai headset VR canggih? Dan realita yang kita lihat sekarang hanya sekadar "Simulasi"? 🤯
Dan saat kita mati, VR-nya dilepas, lalu kita terbangun dan menyadari... "Oh, ini toh kehidupan yang SESUNGGUHNYA"
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui" QS Al Ankabut 64
QS Al Ankabut itu nyebut jelas banget bahwa kehidupan dunia itu cuma GAME, kayak kita itu ada di dalam game RPG (Role-Playing Game) atau Virtual Reality.
Kita seolah-olah adalah player yang lagi login ke dalam game bernama "Dunia". Kita diturunkan ke server ini dengan satu Main Quest yang jelas: Beribadah, jadi manusia yang bermanfaat, dan ngumpulin bekal buat Endgame.
Tapi, instead nyelesain Main Quest, kebanyakan dari kita malah habis-habisan ngerjain Side Questnya. Side Quest-nya emang didesain super menggiurkan. Numpuk harta sampai triliunan, ngejar validasi sosial, gila jabatan, pamer kemewahan.
Kita habis-habisan grinding sampai lupa sama Main Quest-nya. Padahal waktu main (umur) kita di game ini ada limit-nya.
Terus suka kesel kan ngelihat orang jahat, licik, penindas, tapi hidupnya kelihatan "menang" dan enak banget di dunia?
Nah, sadar nggak sih, bisa jadi mereka itu cuma NPC (Non-Player Character) atau obstacle yang emang di-setting buat jadi ujian rintangan buat kita para Player?
Kemenangan orang-orang jahat itu semu. Mereka cuma "kelihatannya" aja menang, tapi ya itu simulasi aja.
Saat timer kita habis (mati), headset VR ini bakal dicopot paksa. Di momen kita "terbangun" di dimensi yang sesungguhnya, semua harta, mobil mewah, dan score duniawi tadi nilainya hangus jadi NOL BESAR.
Sekaya apapun di game, yang dihitung ya pencapaian kita di Main Quest kan? Sia-sia banget kalau waktu yang dikasih malah habis buat ngejar hal-hal fana yang nggak bisa dibawa log out.
Jadi tamparan keras sih buat diri sendiri pas lagi tarawih semalam. Kadang kita terlalu serius mikirin Side Quest sampai lupa kalau ini cuma mampir bentar.
Fokus ke Main Quest, Players. Jangan sampai pas VR-nya dilepas, kita cuma bisa nyesel karena salah prioritas.
Semoga di sisa waktu Ramadhan yang masih singkat ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.