Knetz: korea is described as a dragon, the four asian dragons.
Indonetz: we have dragon extract. Yummy
Dragon extract = NAGA SARI/ PAIS CAU (kalau di sunda) 😭😭😭
Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.
❌ Tau dari Media Nasional
✅ Tau dari akun X luar negeri
+ Perkara penyalahgunaan WhipPink yg gk terbukti di meninggalnya influencer, wartawan GERCEP banget.
+ Perkara puluhan warga keracunan gas bocor massal, kok ANTENG wae.
Udeh viral baru deh ada yg naekin 🤦🏼♂️
@sosmedkeras Bruh..., lu punya masalah apa sampe mau normalisasi ga ngasih uang ke orang tua? Ga semua orang tua punya dana atau tunjangan pensiun, ga semua orang tua dirawat sama negara.
Kalo bukan sama anaknya, mereka mau sama siapa? Gw gatau masalah lu bg, tp semoga lekas membaik ya🥺🤲🏻
Banyak yg kurang paham, bahwa yang dikritik Pandji adalah kita, warga negara yg selama ini abai dg politik, yg menyebabkan terpilihnya sosok-sosok ajaib sebagai pemimpin dan pejabat. Ga usah berharap pada sosok Satria Piningit. Kita, rakyat, sang Satria Piningit itu.
Hey Elon, Gita Wirjawan here.
Your work at the frontier of energy, AI, and civilization has shifted the arc of what humanity believes is possible. I host Endgame podcast, a platform where Nobel laureates, regional leaders, and global thinkers help shape Southeast Asia’s long-term rise.
I’d be honored to have you in the conversation. Your perspective would inform and challenge millions across our region.
If you’re open, let’s set a date.
https://t.co/Sb1odXSOvt
Best time to take your supplements
1. Magnesium- 1 hour before bed.
2. Vitamin D- with your breakfast.
3. Calcium- Split between AM/PM.
4. Probiotics- On an empty stomach.
5. Omega 3- with fat containing meal.
6. B complex- early in the morning.
7. Vitamin E- right after a meal.
8.Zinc- 2 hour’s away from iron.
Save this for later.
S.O.S dari Pulau Enggano !!!
Sudah 4 bulan pulau berpenduduk 4.000 jiwa ini terisolasi. Orang sakit, pasokan sembako, dan ekonomi lokal, pelan-pelan sekarat. Hasil panen membusuk.
Pesan ini ditulis oleh jurnalis Harry Siswoyo yang sedang berada di Enggano:
"Sejak Maret 2025, transportasi laut menuju Pulau Enggano terhenti akibat dangkalnya alur Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu.
Berhentinya angkutan kapal penumpang dan barang menuju Pulau Enggano yang terletak 150 mil laut di Samudera Hindia ini, membuat pulau ini terisolir.
Orang-orang terkurung. Warga yang kritis terpaksa bertahan. Sejumlah warga Enggano sudah mendesak agar ada kapal alternatif untuk mereka. Namun tak pernah diwujudkan.
Menurut warga pulau, pemerintah Bengkulu hanya menunggu proses keruk alur selesai. Padahal, jika memang hendak membantu warga di pulau Enggano maka ada banyak kapal alternatif yang bisa membantu mendistribusikan hasil bumi dan orang atau warga yang kritis.
Hingga pekan pertama Juni 2025, Kapal Ferry Pulo Tello baru bisa berlayar ke Enggano. Ratusan orang bisa dibawa ke kota. Karena pelabuhan belum normal. Mereka akhirnya bersandar di tengah laut dan dipindahkan menggunakan kapal Basarnas.
Sejauh ini, proses antar jemput penumpang sudah mencukupi meski dengan skema turun di tengah. Namun, yang memprihatinkan. Belum ada kapal yang bisa membawa hasil bumi milik masyarakat adat Enggano.
Pisang, kakao, pinang, jengkol, kelapa, ikan dan lainnya akhirnya menumpuk dan membusuk di Enggano. Pemerintah enggan menyediakan kapal alternatif khusus barang.
Saat ini, warga yang memiliki relasi dengan penampung di kota, harus merogoh kocek sampai Rp20 juta untuk membayar kapal nelayan agar hasil bumi dibawa ke kota.
Sayangnya, untuk yang tidak memiliki uang, terpaksa membiarkan hasil panen mereka membusuk di kebun.
Kini, kondisi di Enggano mulai memprihatinkan. Krisis ekonomi mulai membelit warga. Tidak ada pemasukan di rumah, sejak Maret membuat warga putus asa.
Orang-orang yang mau memenuhi kebutuhan harian, terpaksa barter. Satu kilogram ikan ditukar dengan beras. Seluruh warung sepi. Rumah makan banyak yang gulung tikar.
Situasi ini sampai kini berlanjut. Sementara kepedulian pemerintah tak ada sama sekali. Meski pada April lalu, pernah ada pengiriman beras ke Enggano. Namun, selain distribusinya tak sesuai. Jumlahnya juga tidak mencukupi kebutuhan warga."