Shane melangkah masuk tanpa suara, membiarkan kegelapan kamar menelannya seolah ia memang bagian dari bayang-bayang itu. Tidak ada bunyi engsel, tidak ada derit lantai. Hanya napas pelan seorang pria yang tertidur lelap di atas ranjang.
Carlisle tidak mengunci pintu.
@Lavendraus Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Kau benar-benar tidak tahu apa-apa."
Bisikan itu nyaris lenyap ditelan malam.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki kamar itu, Shane memaksa dirinya mundur. Menjauh dari godaan untuk terus berada di sana.
Bahkan ketika langkahnya bergerak
hanya untuk dirinya sendiri, agar tidak ada seorang pun yang dapat menikmati kebaikan dan kehangatan yang sama.
Perasaan itu tidak lagi tumbuh seperti bunga, melainkan menjalar seperti akar liar yang diam-diam mencengkeram seluruh ruang di dalam hatinya.
Tatapan mata yang penuh kelembutan, senyum yang begitu mudah membuat dada terasa hangat, semuanya menjelma candu yang perlahan merambat ke dalam darah. Semakin lama memandang, semakin besar keinginan untuk memiliki; bukan sekadar berada di dekatnya, melainkan menyimpannya
adalah sesuatu yang akan tersimpan jauh di dalam ingatannya. Selama mungkin. Pelukannya sedikit mengencang sebelum akhirnya berhenti. Hanya cukup untuk menunjukkan betapa sulitnya ia melepaskan ketenangan yang baru saja ditemukannya.
"Berbahaya sekali..."