Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Adegan sidang terbuka anak2 FHUI ini kayak cerita2 di novel teenlit & film remaja Hollywood.. ternyata bisa terjadi di dunia nyata 🫢
Sedihnya setelah lihat penampakan mereka, gue bisa nebak pelaku berasal dari SMA apa saja.. tadi baca utas orang, tebakan gue 80% akurat.
@razkaws@sagitsgits@kertanegara_167 S63 belum ada gantinya di Transjakarta, andalan utk ke Depok bisa sekali naik bis.. seru bgt dulu ngebut jalannya 😂
@mumpungadjie@strootsys "Memang begitu anak orang kaya lagunya suka tengil. Kayak duit bapaknya halal aja!"
"yang baju merah jangan sampai lepas,"
ikonikk
Guys lebaran 2016 ada kejadian yang sampai sekarang gw rasa belum pernah benar-benar dipertanggungjawabkan secara serius.
Namanya tragedi Brexit.
Bukan Brexit Inggris.
Tapi Brebes Exit pintu keluar tol Brebes Timur.
Ceritanya begini.
Pemerintah baru saja resmikan ruas tol Pejagan-Brebes Timur.
Bangga banget.
Dipamer-pamerin.
Jokowi gunting pita.
Janji waktu tempuh Jakarta ke Jawa Tengah bakal jauh lebih cepat.
Jutaan pemudik percaya.
Masuk tol semua.
Tapi ada satu masalah yang tidak ada yang pikirin sebelumnya.
Tolnya belum tersambung sampai mana-mana. Ujungnya buntu di Brebes Timur.
Dan begitu jutaan kendaraan keluar dari tol kecepatan tinggi mereka langsung ketemu jalan arteri pantura yang sempit, pasar tumpah, dan persimpangan biasa.
Bottleneck.
Kemacetan total.
Puluhan kilometer.
Tidak bergerak lebih dari 24 jam.
Di dalam mobil suhu Brebes saat itu 33 sampai 35 derajat Celsius. AC menyala terus supaya tidak kepanasan.
Tapi mesin menyala terus bikin gas karbon monoksida dari ribuan knalpot numpuk di satu titik dan merembes masuk ke kabin.
Tidak matikan AC juga tidak aman di panas segitu heat stroke bisa mematikan terutama lansia dan anak-anak.
BBM habis.
SPBU kosong.
Air mineral dijual pedagang dadakan dengan harga berlipat-lipat.
Ambulans tidak bisa masuk karena bahu jalan juga penuh kendaraan yang nekat menyalip.
Hasilnya 12 sampai 17 orang meninggal.
Bukan karena kecelakaan.
Tapi karena keracunan karbon monoksida.
Heat stroke.
Dehidrasi akut.
Kelelahan ekstrem.
Serangan jantung.
Mati karena macet.
Dan ini yang paling bikin gw marah dari semua yang gw baca.
Tidak ada satu pun pejabat yang dimintai pertanggungjawaban secara serius.
Tidak ada audit kebijakan yang dibuka ke publik. Tidak ada penetapan ini sebagai kegagalan sistemik.
Yang ada kalimat klise soal volume kendaraan di luar prediksi. Evaluasi dilakukan setelah kejadian.
Sistem one way, contraflow, e-tol semua itu baru dibenerin setelah orang sudah mati.
Bukan sebelum.
Dan ini polanya selalu sama di Indonesia.
Infrastruktur dibangun untuk dipamerkan.
Diresmikan sebelum siap.
Dipotret untuk kampanye.
Dan ketika ada yang mati di atasnya itu masuk statistik mudik tahunan. Bukan kegagalan kebijakan.
Tol dibangun tanpa mikirin ujungnya kemana. Gerbang tol tidak siap menampung volume.
Tidak ada protokol darurat.
Tidak ada koordinasi antar lembaga.
Polisi di setiap daerah sibuk mastiin kemacetan tidak terjadi di wilayahnya masing-masing akibatnya semua menumpuk di satu titik dan meledak di Brebes.
Kamar Film nyimpulin dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Selama keberhasilan negara diukur dari berapa kilometer tol yang dibangun bukan dari berapa nyawa yang terlindungi tragedi seperti ini akan selalu mungkin terulan
Kita bukan kekurangan jalan.
Kita kekurangan pemimpin yang menghitung nyawa lebih penting dari foto gunting pita.
@ezkyfabyanto@DukuhAtasBSI Betull aslinya kawasan pemukiman & resapan, rimbun bgt kan di situ.. eh jadi rame kantor & hotel sementara ruas jalan & fasilitas transumnya gak tumbuh.. TJ Lb Bulus-UI aja baru ada thn 2019