Setiap Ramadhan tiba suasana & hawanya selalu magis. Ada perasaan yg sulit dideskripsikan kata². Senang, sedih, bingung campur aduk. Ntah apa itu namanya...
Kayaknya semakin nothing to lose Gue menjalani sesuatu, semakin jg sering kejadian apa yg gue mau. Beda bgt kalo ngoyo ini itu harus kesampean, malah ujungnya intisari mulu hahaha
Puisi pagi ini
Aku berpegang teguh pada diriku sendiri
Pada intisari dan marlong digenggaman
Pada alunan badjingan just like heaven robert smith
Persetan hitam dan putih
Aku hanya berjalan digaris hati nurani
Ngga tau knp gua lebih seneng liat jkt dgn macet parahnya saat berangkat dan pulang kerja. Karna ya memang bgtulah jkt dan udh semestinya bgtu, justru ada yg ngga beres klo jalanan jkt lancar jaya. Produktivitas jkt justru terlihat dari tingkat kemacetannya.
Ada 2 hal yg setidaknya membuat seseorang lepas dari penderitaan hidup, menurutku:
1. Tidak menghamba pada manusia
2. Tidak menghamba pada negara
Sepertinya aku sudah lepas dari point pertama, tapi tidak dengan point kedua (Hari ini). Sial!
Rakyat bisa membiayai para pemimpin sejak biaya kelahiran mereka via Pilpres/Pilkada/Pileg dll sampai menggajinya, menunjangnya dll. Kenapa timbal baliknya para pemimpin tidak bisa membiayai rakyat jika lockdown dibutuhkan?
Adakah yang keliru dlm penalaran/alur-logikaku itu?